Direktur Executive PRA : Solusi Ummat Jangan Terpecah Belah

Medan, BM – Aksi 212 menunjukkan potensi dahsyat kekuatan umat islam di Indonesia. Disisi lain, fenomena ini justru menunjukkan kelemahan umat islam itu sendiri. Mengapa jumlah yang sedemikian besar harus turun ke jalan sampai 3 kali berturut-turun hanya demi menuntut keadilan hukum terhadap seorang “Ahok” yang telah berani menghina islam, bukankah ummat Islam mayoritas di negeri ini, lantas mengapa masih ada yang berani menghina Al-Qur’an, kitab suci umat Islam? “Menang di Kuantitas Tapi Kalah di Kualitas”.

Disamping itu, hal ini terjadi lantaran umat islam membiarkan penguasaan simpul-simpul ekonomi ke tangan orang lainn. Di politik umat islam bahkan terpecah belah, bahkan banyak yang mendukung dan menjadi partisipan kelompok dari yang ambigu sampai terang-terangan berseberangan dengan Islam.

“Semoga dari aksi 212 tersebut umat islam dapat mengambil hikmah dari sudut pandang yang berbeda, jika seandainya simpul-simpul ekonomi dan politik benar-benar dikuasai umat islam, saya yakin tidak akan ada yang berani menghina islam apalagi itu dilakukan oleh seorang yang bukan islam,” ujar Anggra Prasetya Ritonga, Direktur Executive Political Research Analyst (PRA), (06/12/2016).

“Aksi bela Islam dari jilid 1 s/d jilid 3 yang telah menguras waktu, materi dan energi serta ini tidak akan pernah terjadi,” lajutnya, sembari menutup pembicaraan, maka mulai dari sekarang jangan cuma terpesona dengan aksi damai yang dihadiri jutaan umat islam tersebut. Tapi lebih dari itu umat islam harus mau belajar dari kasus ini.

“Saya pikir satu-satunya cara membela Al-Qur’an dan islam adalah umat islam harus mampu mengejar ketertinggalannya agar ke depan tidak akan ada lagi yang berani menghina Al-Qura’n umat islam maupun islam itu sendiri,” tutupnya. (KR)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *