Lebaran Ketupat, Warga Adakan Do’a Bersama

Bengkulu, BM – Tradisi lebaran ketupat, masih dijalankan oleh sebagian besar masyarakat yang berasal dari daerah Jawa yang bermukim di Provinsi Bengkulu. Di desa yang dahulunya daerah transmigrasi, dapat dipastikan tradisi lebaran Ketupat masih berjalan, Sabtu (1/07/2017).

Lebaran Ketupat dilaksanakan pada H+7 lebaran Idul Fitri. Dengan membawa ketupat, lontong, lepet (beras ketan dimasukkan dalam daun janur yang memasaknya dikukus, red) masyarakat berbondong-bondong mengikuti doa acara bersama yang dipimpin oleh pemuka agama.

Tradisi lebaran Ketupat menurut sejarah telah berlangsung sejak abad ke 15 di kerajaan Islam Demak Bintoro. Tradisi ini diyakini berasal dari Sunan Kalijaga, salah satu dari kesembilan wali (wali songo) yang termashur sebagai penyebar agama islam di tanah Nusantara.

Di era masyarakat sekarang, tradisi itu dimaknai sebagai tanda selesainya lebaran idul fitri. Ada anggapan kembalinya masyarakat menjalankan rutinitas sebagaimana biasanya usai mengadakan “Kupatan atau lebaran Ketupat,” dan sah, menjalankan aktifitas pekerjaan.

Tradisi lebaran Ketupat merujuk pada hadis Imam Muslim, “Barang siapa yang menjakankan puasa enam hari sesudah hari raya Idul Fitri, maka, itu menjadi penyempurna puasa satu tahun.”

“Kalau dahulu, sebelum kupatan pasti berpuasa, dan pada hari ke tujuhnya barulah syukuran dengan pelaksanaan do’a bersama,” ungkap Ketua PC NU Seluma Kyai M.Ma’sum Muis.

Meski puasa enam hari jarang yang menjalankannya, namun, tradisi Kupatan merupakan filosofi mempererat tali kekeluargaan dengan saling mengantar masakan ke tetangga dan keluarga dekat.  (azm)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *