Tausiah KH Anwar Zahid, NU Tegaskan Komitmen Terhadap NKRI

Seluma BM – Ormas Nahdlatul Ulama menegaskan jika para pendirinya ikut merumuskan Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia, hal itu disampaikan oleh KH. Anwar Zahid saat mengisi tausiah dalam acara triwulan pengajian dan manakib kubro Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Seluma.

“Suatu ketika bung Karno ditanyakan soal Pancasila, apa jawab bung Karno? Tanya ke mbah Hasyim Asyari, ini menunjukkan bahwa para kyai ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan ikut merumuskan Pancasila sebagai dasar ideologi bangsa kita,” ujar Kyai nyentrik asal Jawa Timur dihadapan ribuan warga Nahdliyin, Minggu (23/7/2017).

Anwar menambahkan, saat itu dirinya tahu sendiri saat bung Karno berucap seperti itu. “Kok tahu, karena saya baca buku sejarah. Kalau ngk baca buku mana tahu,” ucapnya diikuti oleh suara gelak para jamaah.

Sekarang ini tugas kita imbuh Anwar, adalah bagaimana mengisi kemerdekaan. Jangan mudah mengkafirkan sesama umat Islam.

“Islam adalah agama yang luas tinggal pilih mau mengikuti yang mana, ada organisasi NU, Muhammadiyah dan lain-lain. Selama sesuai ahlussunah wal jamaah dan syariat itu adalah islam,” tegasnya.

Anwar mengajak berdoa, semoga bangsa ini senantiasa dijaga oleh Allah SWT agar damai, tidak bergejolak seperti negara timur tengah meski notabene mayoritas umat Islam.

“Kunci damai adalah satu, kita harus paham manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan dan bergantung kepada makhluk lainnya. Seperti masyarakat Sidosari ini, kalau kita bisa damai dan rukun seperti ini, Indonesia dari dulu sudah jadi negara kaya-raya dan diberkahi oleh Allah SWT,” ujarnya.

Pelaksanaan manaqib kali ini diadakan di Desa Sidosari Kecamatan Seluma Timur. Ribuan warga berbondong-bondong untuk mendengarkan tausiah dari Kyai yang terkenal akan tausiah yang menggunakan contoh keseharian kita dalam setiap menyampaikan ceramahnya.

Salah satunya memaknai tema hahal bihalal, Ia mencontohkan sebelum lebaran ketika di bulan ramadhan, umat islam diibaratkan berupa kepompong bertapa untuk menjadi kupu-kupu.

“Setelah satu bulan menjalani rangkaian ibadah puasa wajib dan sunah seharusnya umat islam menjadi indah seperti kupu-kupu,” ucapnya.

Salah seorang anggota pengurus NU yang enggan disebutkan namanya menyanyangkan sikap Bupati Bundra Jaya yang belum pernah menghadiri undangan yang disampaikan oleh PCNU Seluma. “Iya memang sangat disayangkan, beliau (Bupati Seluma,red) tidak hadir, mungkin beliau lagi ada kesibukkan lainnya,” singkatnya.

Padahal menurutnya, para ustad dan kyai langgar ikut berkontribusi membangun dunia pendidikan non formal bagi anak-anak di pelosok desa di Kabupaten Seluma. (azm)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *