Gelar SKK, Bekraf Bekali Pelaku UKM Kreatif

Bengkulu, BM – Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) menggelar kembali Seri Kelas Keuangan (SKK) Usaha Kecil Menengah (UKM) Kreatif bertemakan “Permodalan dan Pengelolaan Keuangan Syariah UKM Kreatif” di Hotel Santika Bengkulu selama dua hari 8-9 Agustus dengan menggandeng praktisi keuangan syariah Mohammad Bagus Teguh, Bisnis sekaligus founder dan Financial Ligwina Hananto, CEO Nukman Luthfie, serta perwakilan Bank Indonesia (BI) dan Bank Rakyat Indonesia (BRI) Syariah. Bekraf menghadirkan 100 pelaku UKM Kreatif yang berkesempatan mengikuti acara ini telah mendaftar secara online. Mereka yang hadir telah menjalankan usaha selama satu tahun, memiliki brand, dan berencana untuk ekspansi usaha.

Deputi Akses Permodalan mengatakan pelatihan ini tentunya dapat menjadi solusi permasalahan-permasalahan terkait permodalan yang dihadapi para pelaku ekonomi kreatif.

“Bekraf iniakan membekali pelaku UKM Kreatif dari sisi administrasi dan teknis lapangan dengan memberikan pelatihan permodalan, perencanaan bisnis, serta pengelolaan keuangan untuk mengatasi permasalahan permodalan dalam mengembangkan usaha kreatif,” ucap Fadjar Hutomo, Selasa (8/8/2017).

Lanjutnya, Bekraf memudahkan pelaku UKM Kreatif untuk mengekspansi usahanya, tentu dengan memberikan pelatihan terkait pemahaman ekonomi syariah yang nantinya akan disampaikan oleh pembicara dari praktisi keuangan syariah Mohammad Bagus Teguh yang akan membahas terkait cara membuat rencana bisnis, materi tentang laporan keuangan usaha akan disampaikan oleh Ligwina Hananto, internet marketing for business oleh Nukman Luthfie, terkait permodalan dan pembiayaan perbankan syariah oleh perwakilan BRI syariah, serta pelatihan penggunaan Sistem Aplikasi Keuangan (SI APIK) oleh perwakilan BI. SI APIK adalah aplikasi yang mudah didownload dari smartphone untuk mencatat transaksi keuangan usaha.

“Kami (Bekraf) berupaya memberi pemahaman sistem perbankan syariah dan permodalan yang ditawarkan, mengajari cara mengelola keuangan pribadi dan usaha serta membuat laporan keuangan, marketing lewat internet, hingga penggunaan aplikasi untuk kemudahan laporan keuangan usaha. Sehingga, pelaku UKM Kreatif bisa ekspansi usaha, baik melalui manajemen usaha dan keuangan yang benar maupun pengajuan pembiayaan ke bank,” tambah Fadjar.

Bekraf sengaja menghadirkan CEO Jualio.com Nukman Luthfie untuk menjelaskan manfaat memaksimalkan media sosial dan social eCommerce untuk branding produk pelaku UKM Kreatif. Pelaku UKM Kreatif perlu eksis dan mudah ditemukan pada search engine internet.

Pada paparannya, Nukman menegaskan media sosial yang efektif bagi pelaku UKM yaitu mereka perlu menentukan untuk siapa, apa saja yang dishare dan bagaimana engage dengan pelanggan.

“menggunakan medsos yang efektif haruslah tau sasarannya ke siapa dan dishare ke siapa saja,” sampainya kepada peserta SKK.

Nukman menambahkan, saat terjadi komunikasi antara pelaku UKM Kreatif dengan pelanggan, pelaku UKM Kreatif perlu memantau pesan dan kesan pelanggan terkait.

“Jadi harapan kami (Bekraf,red) nantinya, para pelaku UKM Kreatif bisa memahami cara mengelola keuangan pribadi dan usahanya. Sehingga tidak terjadi percampuran keuangan pribadi dan usaha, serta mereka bisa ekspansi usaha dengan baik,” tambahnya.

Sementara, Anggota Komisi X DPR RI Dewi Coryati hadir juga pada acara ini sebagai keynote speaker. Beliau menyampaikan peran legislatif dalam pengembangan ekonomi kreatif Indonesia.

“Tentu kami pihak legislatif dalam upaya peningkatan pertumbuhan ekonomi di Indonesia dan PAD, kami akan mensupport para pelaku UKM kreatif ini dengan mengenalkan konsep permodalan dan pengelolaan keuangan syariah pada SKK yang kami gelar ini, mudah-mudahan permasalahan-permasalahan permodalan dapat dapat teratasi,” singkatnya.

Untuk diketahui, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) adalah lembaga pemerintah nonkementerian yang bertanggung jawab di bidang ekonomi kreatif. Saat ini, Kepala Bekraf dijabat Triawan Munaf. Bekraf mempunyai tugas membantu Presiden RI dalam merumuskan, menetapkan, mengoordinasikan, dan sinkronisasi kebijakan ekonomi
kreatif di bidang aplikasi dan game, developer, arsitektur, desain interior, desain komunikasi visual, desain produk, fashion, film animasi dan video, fotografi, kuliner, musik, penerbitan, seri, pertunjukan, seni nupa, dan televisi serta radio.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *