Dialog Publik, Upaya Tangkal Provokasi Isu Rohingya

Bengkulu, BM – Kamis pagi (19/10/2017) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Bengkulu menggelar Dialog Publik bekerjasama dengan Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia (LSISI) dan Universitas Hazairin (Unihaz) Bengkulu dengan tema “Optimalisasi Peran Pers dan Generasi Muda dalam Menjaga Kedaulatan NKRI serta Menangkal Provokasi Isu Rohingya” yang digelar di Aula Unihaz Bengkulu. Hadir sebagai narasumber Rektor Unihaz Bengkulu Dr. Ir. Yulfiperius, M.Si, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Bengkulu Prof. Dr. H. Sirajuddin M, M.Ag., MH dan Ketua PWI Provinsi Bengkulu Zacky Antony, SH., MH.

Ketua PWI Provinsi Bengkulu mengatakan generasi muda jangan melupakan sejarah, jika ini sampai terlupakan oleh generasi muda maka akan lahirlah perbuatan-perbuatan yang nantinya bisa mengkhianati bangsa ini.

“Salah satu contoh adalah korupsi, itu merupakan suatu bentuk dari pengkhianatan kepada bangsa kita ini. Hal inilah yang melatarbelakangi kami untuk mengangkat tema ini. Kita harus membingkai NKRI dengan menjaga kedaulatan bangsa ini agar terus  tegak,” ujar Zacky Antony.

Sambungnya, pada tanggal 20 Oktober nanti tepat 3 tahun pemerintahan Jokowi-JK dan ini merupakan momentum bagi masyarakat dan publik untuk melakukan penilaian koreksi, masukan, dan saran bagaimana bangsa ini bisa bergerak lebih maju kedepannya.

“Memasuki 3 tahun kabinet kerja Jokowi-JK, tentunya hal ini menjadi penilaian tersendiri bagi publik untuk mengevaluasi kinerja pemerintahan sekarang ini demi kemajuan bangsa kedepannya,” sambungnya.

Terkait provokasi isu rohingya Ketua PWI Provinsi Bengkulu mengatakan pemerintahan Jokowi-JK telah memberikan instruksi langsung sebagai bentuk kepedulian Indonesia terhadap tragedi kemanusiaan yang ada di Myanmar.

“Akan tetapi kita tidak ingin tragedi yang terjadi di Myanmar itu dimanfaatkan oleh orang-orang tertentu untuk dipolitisasi dengan isu SARA (Suku, Agama, dan Ras,red), misalnya kita di Indonesia mayoritas muslim dan di Myanmar mayoritas beragama Budha ini bisa berdampak pada ketersinggungan antar agama, hal inilah yang kita tidak inginkan, tentu kita mengecaman tragedi rohingya itu, tapi kita harus tetap mengedepankan objektivitas melihat isu tersebut, jangan mau mudah terprovokasi yang dikaitkan dengan SARA, kita harus tau umat beragama di Indonesia ini adalah umat beragama yang saling toleransi, mari kita jaga bangsa ini untuk tetap satu dalam bingkai NKRI,” tutupnya.

Turut hadir dalam Dialog Publik Sekretaris Badan Kesbangpol Provinsi Bengkulu, Perwakilan dari Korem 041 Gamas, Civitas Akademika Unihaz Bengkulu, Insan Pers, dari kalangan pemuda Unversitas Hazirin Bengkulu, UMB, UNIVED, dan UNIB serta dari SMAN 6, dan SMAN 2 Bengkulu. (D12)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *