Sepintas Soal Kesenian Barongsai dan Liang Liong

Kediri, BM – Salah satu seni yang akrab dengan tradisi malam Tahun Baru Imlek, menjadi tontonan tersendiri bagi warga Kediri. Tontonan seni Barongsai dan Liang Liong menghibur warga, disaat bersamaan tiga umat berbeda agama dalam satu tempat ibadah, usai menjalankan persembahyangan.

Usai Barongsai dan Liang Liong menghibur warga yang berada di Klenteng Tri Dharma Tjoe Hwie Kiong, Serda Abu Nur Arifin dan Aipda Beny M.P., nekad menjumpai Halim Pembina utama seni Barongsai dan Liang Liong, Selasa (5/2/2019).

Dikatakan Halim, seni Barongsai dan Liang Liong sering dipertontonkan, terutama dalam upacara ritual seperti perayaan Tahun Baru Imlek. Selain Tahun Baru Imlek, Barongsai dan Liang Liong sering dipertontonkan saat membuka suatu usaha.

Lanjut Halim, singa dalam barongsai diibaratkan oleh sebagai raja daratan, yang menguasai seluruh daratan tersebut. Barongsai dimainkan oleh 2 orang, gerakan dalam barongsai terjadi secara alami dari imajinasi pemainnya itu sendiri.

“Memainkan Barongsai harus mempunyai IQ tinggi diatas rata-rata, harus mempunyai imajinasi yang sangat tinggi saat didalam tudung, agar bisa mengekspresikan singa tersebut kepada penonton,” jelas Halim.

Berbeda dengan Barongsai, Liang Liong memiliki panjang sekitar 8 hingga 10 meter yang dimainkan oleh 9 orang. Tarian ini menggunakan tongkat yang terpasang dibawah perut naga, dan dalam pertunjukan tarian naga harus ada kekompakan antar pemain, agar bisa memperlihatkan keindahan liukan.

“Kalau orang yang imajinasinya kurang tinggi, biasanya dimasukkan ke dalam kelompok liang liong, karena di tarian itu pemain harus disiplin dan kompak,” kata Halim.

Dampak positifnya, menurut Halim, seni Barongsai dan Liang Liong dapat menimbulkan aura positif, seperti mengendalikan energi negatif disekitarnya, mengubah energi negatif menjadi positif atau menetralkan, menjaga kestabilan energi positif. Energi-energi ini berdampak pada keberuntungan, kesuksesan dan keharmonisan. “Bila energi-energi ini terserap dengan baik, otomatis, arus keberuntungan, kesuksesan dan keharmonisan mengalir,” tuturnya.

Ia menambahkan, syarat mutlak bisa melakukan atraksi barongsai dan liang liong secara spektakuler adalah niat dan percaya diri. Tanpa niat dan percaya diri, tarian itu tampil biasa-biasa saja dan kurang menarik perhatian penonton. “Yang penting niat dan percaya diri, semua pemain dijamin bisa membuat tarian itu menarik perhatian penonton,” ujarnya.

Dijelaskan Halim, karakter tiap tarian bisa sama, walaupun asal usulnya berbeda. Ciri khas bisa mirip atau berbeda, tergantung pengamatannya. Semua tarian pasti ada maknanya, termasuk Barongsai dan Liang Liong, maknanya pasti berbeda-beda.

Saat bincang eksklusif di malam Tahun Baru Imlek berakhir, Halim berpesan, cukup pahami kata ini. “Isi adalah kosong dan kosong adalah isi, kita pastikan mengawali Tahun Baru Imlek dengan baik,” tutupnya.  (dodik)

Sharing is caring!

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

eighteen + 20 =