LEBARAN INI, AKU PULANG!

0
14

Oleh: Natalius Pigai

Jarum jam bergerak ibarat jugernut yg melintasi jalan bebas hambatan, detak jantung di dada umat muslim menanti hari kemenangan tiba.
Kita telah melewati Ramadhan yg penuh rintangan, halangan, hambatan dan gangguan menyertai ibarat mengarungi samudera penuh gelombang dan tantangan.

Memang Lebaran unik, penuh kenangan dan makna, romantis nan suci, riang gembira dan suka cita. Lebaran titik pertemuan antara yang sakral, Surgawia, silaturahmi dan yang profan, urusan duniawia, Silaturahim.

Noda dan dosa, seperti jerami yang mengalir di sungai. Terbawah arus, bermuara ke laut, timbul di hulu. Siklus tanpa dibendung, tanpa henti dan tanpa kompromi

Lebaran di dusun yang kecil, di dusun ku, penuh kenangan. sudah lama telah berlalu, tempo dulu. Ku ingin mengulang lagi

Kangen kampung halaman. Di sana nyiur melambai ditepi pantai, angin sepoi sepoi di sawah, gemericik hujan di lereng gunung.

Lebaran ini, harus mudik ke udik, harus pulang, pulang ke kampung halaman, bersujud pada ayah, ibu dan sanak/saudara, nyekar ke leluhur.
Kita bertemu dan akhiri di kata “pengampunan” atas segala noda dan dosa. Ia maha pengampun (Al-Gháfir) bahkan selalu mengampuni (Al-Ghafour). Selamat Merayakan Hari Raya Idul Fitri, untuk handai taulanku tercinta umat muslim dimana Anda berada
.
Natalius Pigai, Astana, 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

twelve − ten =