Polisi Amankan Pelaku Pembuat Akun Facebook Palsu Kapolda Bengkulu

Polisi Amankan Pelaku Pembuat Akun Facebook Palsu Kapolda Bengkulu
Polisi Amankan Pelaku Pembuat Akun Facebook Palsu Kapolda Bengkulu

Bengkulu, BMO – Subdit Siber Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Bengkulu berhasil mengamankan pelaku pembuat akun Facebook palsu atas nama Kapolda Bengkulu Brigjen Pol Supratman.

Pelaku adalah FI (23), warga Kecamatan Argamakmur Kabupaten Bengkulu Utara yang berprofesi wiraswasta. Saat ini pelaku diamankan di Mapolda Bengkulu.

Kapolda Bengkulu Brigjen Pol Supratman melalui Kabid Humas Polda Bengkulu AKBP Sudarno menerangkan, pelaku ditangkap karena membuat akun Facebook atas nama Kapolda Bengkulu Supratman dan digunakan untuk meminta uang kepada teman dari akun Facebook tersebut.

“Berdasarkan hasil penyelidikan Sibdit Siber Dit Reskrimsus Polda Bengkulu, telah menemukan salah satu pelaku pembuat Facebook atas nama Supratman. Adapun Facebook Supratman itu berisi identitas dan foto-foto Kapolda Bengkulu Brigjen Pol Supratman. Dari keterangan pelaku, dia sengaja membuat akun Facebook atas nama Supratman tersebut untuk memperoleh keuntungan pribadi. Modusnya, pelaku meyakinkan korban untuk dapat membantu meloloskan seseorang mengikuti tes Anggota Polri yang saat ini sedang berlangsung,” terang AKBP Sudarno di Mapolda Bengkulu, Jumat (28/6/2019).

Dari pelaku, Polisi berhasil mengamankan 1 unit Hp Xiaomi 4A warga grey, 1 unit Hp Samsung Flip warna hitam, 1 unit charger Hp, 2 buah Sim Card Telkomsel, 1 buah ATM BRI, 1 buah buku tabungan Bank BRI dan 1 buat KTP atas nama pelaku.

“Pelaku FI dijerat dengan pasal 51 ayat (1) Jo pasal 35, bunyinya: setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum melakukan manipulasi, penciptaan, perubahan, penghilangan, pengrusakan, infomasi elektronik dan atau dokumen elektronik dengan tujuan agar informasi elektronik dan atau dokumen elektronik tersebut seolah-olah data yang otentik dalam transaksi elektronik sebagaimana dimaksud pasal 51 ayat (1) jo pasal 35 Undang-Undang Transaksi Elektronik Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dengan pidana penjara paling lama 12 tahun dan atau denda paling banyak Rp 12 miliar,” terang Sudarno. (MS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

4 + fifteen =