Gelar Aksi Topo Pepe, Lima Orang PKL Duduk Panasan di Depan Kraton Yogyakarta

0
50
Foto : Pedagang Kaki Lima (PKL) yang terdiri lima orang menggelar aksi Topo Pepe di depan gerbang utama Kraton Yogyakarta, memohon bantuan Sri Sultan Hamengkubuwono X pada Senin (11/11/19) siang. (Aka)

JOGJA, BM – Para Pedagang Kaki Lima (PKL) yang terdiri dari lima orang gelar aksi Topo Pepe (duduk diam ditengah panas) di depan Gerbang Utama Kraton Yogyakarta, pada Senin (11/11/19) siang.

Dalam aksi yang dilakukan merupakan sebagai bentuk permohonan kepada Sang Raja Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X untuk membantu mereka terkait akan digusurnya lahan mereka oleh penguasa lahan pengguna.

Rencana penggusuran yang akan dilakukan pada Selasa (12/11) besok pada lapak berjualan yang telah mereka tinggali selama 30 tahun ini, lapak mereka akan terkena penggusuran oleh pihak penguasa lahan pengguna bernama Eka Aryawan.

Menurut penututuran salah satu pedagang Suwarni (53) mengatakan, lahan yang telah mereka diami selama ini merupakan satu-satunya untuk menghidupi keluarganya, karena lapak ini adalah sumber mata pencariannya.

“Lapak yang saya miliki ini, cuma sat-satunya milik saya dan teman-teman dan untuk mencari rezeki demi menghidupi keluarga, kalau lapak kami di lakukan penggusuran seperti ini, maka kami dapat dari mana pengahsilan kami,” ucap Suwarni.

Dia menjelaskan, penguasa lahan pengguna (pemilik kekancingan) tidak hanya akan menggusur akan tetapi juga menuntut ganti rugi sebesar 1,120 milyar ke Pengadilan Negeri Yogyakarta. Hal itu juga yang membuat beban dari kelima pkl itu semakin berat.

“Kami ini sudah digusur, dituntut 1 milyar lebih juga, hal ini membuat kami tidak ada cara lain selain memohon kepada Kanjeng Sultan HB X, untuk dapat mencabut surat kekancingan tersebut,” paparnya.

Panas terik yang menggelayuti seputaran lokasi aksi tidak menyurutkan tekad ke lima pkl untuk beranjak dengan tujuan agar Sultan HB X mau menemui dan membantu mereka.

Sebelum menggelar aksi Topo Pepe mereka melakukan long march dari lokasi lapak mereka dengan membawa sejumlah poster dan spanduk bertuliskan tuntutan perlindungan kepada Sultan HB X.          

Sementara itu, Kuasa hukum PKL dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta, Budi Hermawan menuturkan, pihaknya akan terus memberikan pendampingan kepada ke lima pkl.

“Mereka telah ada sejak tahun 60 an disana, hidup dan berjualan disana dan tidak pernah ada sengketa bahkan mereka taat membayar iuaran dan pajak,” tuturnya.

Terkait akan ada tindakan penggusuran Budi menyatakan, hal tersebut sangat janggal, pasalnya eksekusi lahan telah melanggar batas ketentuan.

“Hakim telah memutuskan bahwa lahan seluas 28 meter persegi yang digunakan para PKL tidak masuk dalam 73 meter yang digugat oleh pihak Eka Aryawan. Artinya mereka berada diluar kekancingan yang ada,” tegas Budi.

Aksi yang berlangsung sekitar dua jam lebih ini tidak mendapat tanggapan yang serius dari pihak Krton Yogyakarta dan rencannya mereka akan menggelar doa di makam Raja Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono IX di Imogiri Bantul Yogyakarta untuk memanjatkan doa disana. (AKA).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here