Indra C : Pentingnya Sistem Pendidikan Yang Konstruktif

0
187
Pengamat dan Praktisi Pendidikan, Indra Charismiadji ketika memberikan keterangan pers terkait pentingnya pendidikan yang konstruktif, di Bakoel Coffee, Cikini. Jakarta Pusat, hari ini, Senin (11/11)

Jakarta – Pemerhati Pendidikan, Indra Charismiadji mengatakan, sistem pendidikan Indonesia dinilai belum ideal, karena belum mampu menjawab tantangan masa depan yang penuh persaingan dan kompleksitas. Dan, masih belum terarah ditandai dengan seringnya terjadi pergantian sistem pendidikan.

Cita-cita luhur ini salah satunya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa yang harus diwujudkan karena merupakan visi dari pendiri bangsa.

Lanjutnya,  Visi harus didukung oleh pengelola negara yaitu pemerintah yang sekarang sedang menjabat, Presiden, Wakil Presiden, para pembantu Presiden dan seluruh komponen masyarakat yang hidup dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pada kesempatan yang sama Pengamat Pendidikan dari Center of Education Regulation and Development Analysis (Cerdas), Indra Charismiadji ikut menyampaikan pendangannya bahwa pemerintah perlu melakukan perbaikan sistem pendidikan Indonesia dengan mengedepankan kolaborasi yang melibatkan banyak pihak.

“Karena urusan pendidikan itu tidak bisa dilakukan sendiri tapi harus gotong royong lintas kementerian, lintas lembaga, lintas pemerintah daerah, pihak swasta, legislatif dan masyarakat. Apalagi saat ini adalah eranya kolaborasi,” katanya.

Ditengah menghadapi era revolusi industri 4.0, menurut Indra, dengan persaingan semakin ketat. Sederet upaya perlu dipersiapkan, misalnya saja dengan mengubah metode pembelajaran dalam dunia pendidikan yang ada saat ini. Di antaranya, mempersiapkan model pembelajaran science, technology, engineering, art, 
match (STEAM) guna mengatasi ketertinggalan.

“Pendidikan di era industri 4.0 harus menjawab tantangan dimana kompetensi dasar seperti penalaran tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills), Keterampilan Abad 21 (kritis dalam berpikir, kolaborasi, komunikasi, kreatif), berpikir komputesional (computational thinking), dan literasi (dasar & digital) menjadi target minimal yang (wajib) dimiliki.

Sedangkan pendidikan STEAM saat ini sudah diterima secara global sebagai konsep pendidikan yang paling tepat untuk era ini. Untuk itu kurikulum dan pelatihan guru akan didorong ke arah aplikasi STEAM yang seutuhnya. STEAM sendiri harus kontekstual dan menjunjung tinggi kearifan lokal,” jelasnya didepan awak media.

Terakhir dia mengingatkan bahwa sistem pendidikan harus berpedoman kepada Pancasila sebagai dasar negara yang mendasari kehidupan seluruh warga negara Indonesia.

“Sayangnya selama ini konsep pengajaran Pancasila hanya sebatas teori saja. Untuk generasi digital harus dibuat sesuai dengan dunianya misalnya dalam bentuk game online tentang Pancasila, vlog, film-film pendek, dan sebagainya,” tegas Indra.

“Dengan terpilihnya CEO Gojek, Nadiem Makarim di Kementerian Pendidikan dan kebudayaan (Kemendikbud RI) sepertinya memberikan harapan baru pada perbaikan sistem pendidikan di negeri ini,” kata Koordinator Forum Wartawan Pancasila, Erwin N, pada acara ‘Ngopi Kebangsaan’ di Bakoel Koffie, Cikini, Jakarta Pusat, hari ini, Senin (11/11/2019).

Erwin N berpendapat, sistem pendidikan Indonesia saat ini masih memiliki banyak kekurangan dan kendala sehingga menghambat perkembangan dan kemajuan dunia pendidikan Indonesia sesuai apa yang diamanatkan konstitusi negara ini.

“Disamping pemerintah harus terus mengikuti perkembangan dunia pendidikan, karena Indonesia ini negerinya luas, banyak wilayah yang miskin, jauh dari pusat, kualifikasi guru sebagai pengajar yang harus terus ditingkatkan dan belum lagi fasilitas sekolah yang belum memenuhi syarat. Ini semua membutuhkan  proses penyadaran yang lebih intensif dan juga political will yang kuat, untuk mewujudkan kesadaran dalam praktek memperbaiki sistem pendidikan kita,” tambahnya.

Kolaborasi yang kuat perlu dibangun di dalam Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan itu sendiri untuk meluruskan arah pendidikan dan memperbaiki kualitas pendidikan.

Kepala Staf Presiden RI Moeldoko dalam rilis resminya, membenarkan bahwa akan ada rencana penambahan jabatan Wakil Menteri, namun Moeldoko belum memastikan pos Menteri mana saja yang akan bersanding dengan Wakil Menteri.

“Pak Nadiem perlu dukungan sosok figur pendamping dalam menjalani jabatan barunya tersebut yakni figur kuat di pendidikan. Memahami dunia pendidikan tidak hanya sekedar teoritis tapi sudah masuk dalam tataran praktik. Sosok pendamping Nadiem tersebut harus mampu berpikir dan bertindak Strategis, Professional, Loyal, Taktis & Chemistry (Stranalistis-Chemistry) melengkapi kriteria calon menteri Pak Jokowi yaitu Berani, Eksekutor Kuat dan Integritas,” ujarnya.

Dalam waktu bersamaan, Koordinator Aliansi Kongres Relawan Jokowi Sedunia (AKRJS 2013) menyatakan relawan Jokowi harus terus kreatif, inovatif dan profesional.

“Optimis ditahun kedua kepemimpinannya menargetkan Indonesia bisa menjadi lima besar negara ekonomi terkuat di dunia pada 2045 mendatang. AKRJS merasa perlu memprioritaskan sektor pendidikan dan kebudayaan,” tambahnya.

Lanjutnya, Akjrs akan membantu bagaimana kerja Menteri Nadiem Makarim sekaligus mencarikan “pembantu” beliau sebagai wakil menterinya. Kembali kita hadirkan ‘fit and propertest’ ala relawan Jokowi,  khususnya dalam mencari wakil menteri Nadiem Makarim yang mampu menterjemahkan konsep pendidikan yang konstruktif. (ams)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here