Tidak Cukup Bukti, Polres Lhokseumawe Hentikan Kasus Pemerasan di Pasar Inpres

0
109

Lhokseumawe – Kepolisian Lhokseumawe melakukan gelar perkara kasus dugaan tindak pidana pemerasan terhadap para pedagang di pasar Inpres Kota Lhokseumawe, dengan menghadirkan pedagang sebagai pelapor dan juga pihak dinas disperindakop Lhokseumawe sebagai terlapor. Kegiatan tersebut berlangsung di gedung serbaguna Mapolres setempat. Selasa(12/11).

Kapolres Lhokseumawe AKBP Ari Lasta Irawan, S.Ik melalui Kasat Reskrim Indra T Herlambang mengatakan, dalam kasus tindak pidana pemerasan terhadap para pedagang di pasar Inpres, pihak pelapor sudah menarik laporannya.

“Sesudah kita pelajari dan kita dalami kasus ini, tidak ada unsur pemerasan dan pungli yang dilakukan oleh petugas haria, karena uang tersebut resmi dan masuk ke PAD daerah,” Ucapnya.

Kemudian ia menyebutkan, kepolisian menghadirkan Kedua belah pihak atas dugaan tindak pidana pemerasan sebagaimana dimaksud dalam pasal 368 KUHP pidana yang terjadi sejak di bulan Juni 2019 yang bertempat di pasar Inpres Kota Lhokseumawe yang dilaporkan oleh Sofyan mewakili para pedagang, yang bahwa petugas haria pengutip uang retribusi pasar yaitu Sayyadina melakukan pungutan uang secara liar dari para pedagang yang ada di pasar Inpres Kota Lhokseumawe, dengan cara yang kurang sopan dan kurang berkesan memaksa maka pelapor mewakili para pedagang pasar Inpres melaporkan kasus tersebut ke Kepolres Lhoksumawe.

Ia menyebutkan, dari hasil penyelidikan terlapor dirinya dikutip Rp6.000 perhari lapak tempat jualan seluas lebih kurang lebih 6 meter dan bangunan yang ditempati bukanlah bangunan yang disediakan oleh pemerintah melainkan bangunan yang dibangun secara pribadi oleh pemilik bangunan yaitu Sulaiman dirinya hanya menyewa dengan harga Rp 10 juta selama 2 tahun dirinya keberatan di kutip uang retribusi pasar karena tidak diberikan tiket karcis retribusi pasar.

Kemudian ia menyebutkan, dari hasil pemeriksaan terlapor sudah 4 tahun bekerja sebagai petugas pengutip uang retribusi pasar Inpres. Sesuai dengan isi surat kontrak, pengutipan uang retribusi pasar Inpres wajib disetorkan ke kas Lhokseumawe nomor rekening 0301 0258 0025 sebesar Rp21 juta per bulannya, dan itu dilakukan untuk selama tiga bulan sesuai isi kontrak.

Selanjutnya ia mengatakan, pihaknya sudah memeriksa kepala UPT Disperindakop Lhokseumawe Muchlis dalam kasus tersebut. Pihaknya memberikan karcis untuk kutipan retribusi pasar kepada petugas haria namun tidak cukup, dikarenakan karcis yang diberikan adalah sisa peninggalan dari DPKD kota Lhokseumawe, sebab masih dalam proses peralihan pengolahan.

Ia menyebutkan, sesuai dengan surat setoran retribusi daerah tahun 2019 telah disetorkan uang retribusi pasar sebesar Rp 42 juta. Sesuai dengan setoran retribusi pasar tahun 2019 dengan telah disetorkan uang di bank sebesar Rp 10.500.000. Sesuai dengan print out rekening kas daerah kota Lhokseumawe, retribusi pasar bulan Juni, Juli dan Agustus sudah disetorkan sebesar Rp 52.500.000. (Azwar Kadiron).

Keterangan Foto : Kasat Reskrim Polres Lhokseumawe Indra T Herlambang mengelar perkara kasus dugaan tindak pidana pemerasan terhadap para pedagang di pasar Inpres. (BMO/Azwar Kadiron).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here