Tranformasi Era Digital Hubungan Masyarakat Dengan Polri

0
94
Ketika Kadiv Humas Polri, M Iqbal memberikan keterangan pers terhadap pentingnya komunikasi masyarakat dengan Polri sebagai pilar demokrasi di Ambhara hotel, Jakarta Selatan, sore rabu (26/11)

Jakarta – Kepala Divisi Humas Polri Irjen (Pol) Muhammad Iqbal mengatakan, Divisi Humas Polri saat ini pentingnya mengelola embrio gangguan keamanan di masyarakat. Sehingga kita terus membina hubungan komunikasi dan menjadikan pengayom di masyarakat. “Trnasformasi tugas kami sebagai humas Polri akan terus kita jalankan, seiring perkembangan era digital,” ujar Iqbal dalam sambutan di Jakarta Selatan, hari Rabu (26/11).

Lanjutnya, humas Polri bulan hanya menjadi juru bicara yang melayani para media/pers saja, seiring waktu secara perlahan terus melayani masyarakat.

“Kami siap menstranformasi tugas rutin, dan tidak hanya fokus kepada juru bicara, tapi memaksimalkan berkomunikasi, bersinerji dan menyapa masyarakat. Ibaratnya kami adalah ‘Public Relations’.
Inshaa Allah kedepan kami berencana mengubah nama menjadi Badan Humas, adapun kepala badannya dipimpin perwira bintang tiga, sehingga akan lebih cair, dan bersinergi dengan berbagai elemen masyarakat. “take and give’ (menerima dan memberi: red) ya,” kata Iqbal sebagai keynote speaker, yang dihadiri berbagai elemen masyarakat dan mahasiswa dari beberapa kampus di Jakarta.

Polri bintang dua ini menambahkan, acara seperti FGD ini adalah salah satu upaya menuju ke sana, saling ‘sharing’ dengan berbagai pakar terhadap masalah aktual berdasarkan fakta.

Dia menilai kinerja Polri tidak akan optimal kalau tidak ada yang membantu. Polri sangat konser dan memahami di era milenial seperti saat ini. Dimana peranan media massa, baik di dunia maya maupun dunia nyata, sehingga mempengaruhi berbagai kondisi.

“Ibaratnya, satu batalion pasukan-pasukan khusus sekalipun kalah dengan satu narasi. Ketika narasi itu dikemas dengan angle yang tepat, dan dengan kekuatan sangat luar biasa. Dampaknya pasti luar biasa. Kerja keras menjadi tidak ada artinya. Itu yang kita takutkan. Tentang usulan agar ada pajak untuk facebook/medsos, mungkin ada instansi yang lebih berwenang menjelaskannya, namun itu kan salah satu buah dari FGD ini kan?,” ujarnya sekaligus bertanya.

Dalam waktu bersamaan Jack Lapian, selaku penyelenggara mengatakan kepuasaan tersendiri ketika penyelenggaraan dalam membina komunikasi antar masyarakat dengan Polisi Republik Indonesia dalam era kekinian.

“Saya puas. Kerja tim yang hebat. Narasumber dan moderatornya juga hebat, maksimal semua. Juga para undangan dan teman teman pers yang hadir, semua hebat. Apalagi di FGD tadi ada satu materi yang luar biasa, dimana pemerintah kiranya harus sudah memikirkan bagaimana caranya membuat UU media sosial ‘facebook merah putih’ dan medsos lainnya agar monitor penegak hukum mudah jika contoh, ada pornografi bisa segera di take down, disamping juga pemasukan pajak ke negara. Mantap ini brow,” tutup Jack sambil bergegas menemani Kadiv Humas keluar ruangan.

Jack juga menambahkan dalam diskusi ini, pencarian konten-konten faktual dan punya added-value adalah menjafi tugas tersendiri sehingga bisa menarik perhatian dari berbagai kalangan. “Kehadiran peserta mencapai ratusan peserta hari ini, diluar ekspektasi kami sebagai penyelenggara,” tutup Jack Lapian.

Acara diskusi Menjaga Media Dalam Pilar Demokrasi ini turut dihadiri oleh Ketua Komisi Penyiaran Indonesia, Agung Suprio, Pemimpin Redaksi Detik.com, Alfito Deanova, Perwakilan Persatuan Wartawan Indonesia serta perwakilan rektor IISIP yang digantikan oleh Pembanru Rektor I.(ams)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

19 − three =