Terima Kunjungan Komite IV DPD, Ganjar Wadul Soal Kenaikan Cukai Rokok

0
109
Foto : Gubenur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menerima kunjungan Komite IV DPD di Provinsi Jateng, Selasa (3/12/2019). (HMS/Budi).

SEMARANG, BM – Komite IV Dewan Perwakilan Daerah (DPD) melakukan kunjungan kerja ke Provinsi Jawa Tengah, Selasa (3/12/2019). Kunjungan dilakukan untuk optimalisasi tata kelola penerimaan negara bukan pajak sebagai upaya peningkatan ketahanan fiskal.

Kepada sejumlah anggota DPD yang dipimpin oleh Wakil Komite IV DPD RI, Casytha Arriwi Kathmandu dan Novita Anakotta itu, Ganjar meminta agar kenaikan cukai rokok dikaji secara serius. Sebab menurutnya, hal itu dapat berdampak besar kepada para petani tembakau di Jawa Tengah.

“Soal cukai rokok memang menjadi perhatian saya. Kalangan pengusaha dan petani sudah beberapa kali bertemu saya dan berharap tidak terjadi kenaikan terlalu tinggi pada cukai rokok, karena akan memberikan dampak besar,” ucap Gubenur Jateng ini.

Kalaupun tetap naik, lanjut Ganjar, minimal kenaikan cukai rokok jenis Sigaret Kretek Tangan (SKT) tidak terlalu tinggi. Sebab, para petani tembakau akan menjadi korban tekanan dari kebijakan tersebut.

“Petani tembakau akan menjadi korban pertama apabila cukai rokok naik. Belum lagi perusahaan dan karyawan yang ada,” terangnya.

Dikatakannya, dirinya sudah secara langsung bertemu Presiden dan membicarakan tentang kenaikan cukai rokok ini. Dari Presiden, diketahui cukai rokok memang tidak naik selama dua tahun terakhir.

“Jadi dengan kenaikan 23 persen itu, dilihat dari petani sangat berat. Pengusaha juga pasti tidak mau, kalau bisa mereka berharap tidak naik karena akan berpengaruh pada penjualan,” ungkapnya.

Belum lagi persoalan impor tembakau, tambahnya, karena selama ini, banyak perusahaan yang melakukan impor tembakau dengan alasan stok tembakau nasional tidak mencukupi.

Dengan adanya kenaikan cukai rokok yang membuat produksi rokok berkurang, serapan industri terhadap tembakau nasional pasti semakin rendah.

“Kalau cukai tinggi, maka pengusaha nanti impor, tembakau nasional tidak terbeli. Itu problem kita. Memang tembakau kita kurang, maka impor. Pertanyaannya, mau tidak pengusaha membeli tembakau dalam negeri dulu? Faktanya tidak kan,” bebernya.

Dijelaskannya, persoalan kenaikan cukai rokok, memang harus mendapat perhatian serius dari pemerintah. Dia berharap, kebijakan yang diambil tidak mematikan industri rokok nasional.

“Jangan sampai nanti politik rokok internasional akan membumihanguskan rokok Indonesia. Melalui kesempatan ini, saya menitipkan persoalan itu kepada kawan-kawan DPD untuk diperjuangkan di tingkat pusat,” tutupnya.

Sementara itu, Wakil Komite IV DPD RI Novita Anakotta mengungkapkan, pihaknya akan membantu Gubenur Jateng ini dalam perjuangannya terkait kenaikan cukai rokok. Nantinya, usulan itu akan menjadi bahan yang diperjuangkan di tingkat pusat.

“Terkait kenaikan cukai rokok khususnya SKT yang diharapkan tidak terlalu tinggi, kami akan ikut memperjuangkan dan mengawal itu. Karena kami ini representasi dari daerah, kami akan berjuang mengawal aspirasi dari daerah seperti harapan pak Ganjar,” kata Novita Anakotta.

Seperti diinformasikan sebelumnya, bahwa pemerintah merencanakan menaikkan cukai rokok sebesar 23 persen. Kenaikan itu akan diberlakukan pada awal tahun 2020. Rencana kenaikan cukai rokok tersebut mendapat perlawanan dari petani tembakau dan juga pengusahan di Jawa Tengah. (HMS/Budi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here