Tak Ada Konservasi, Rumah Berarsitektur China Kuno di Lasem Terancam Hilang

0
975
Foto : Rumah tradisional tionghoa yang menjadi bagian dari kesejarahan dan kejayaan Lasem pada masa lampau. Rabu (22/1/2020). (Muhammad Minan Bashori).

Tak Ada Konservasi, Rumah Berarsitektur China Kuno di Lasem Terancam Hilang

REMBANG, BM – Ditengah gencarnya Pemerintah mempromosikan Lasem sebagai kota pusaka dunia dan kota destinasi wisata, namun keberadaan salah satu icon cagar budaya yakni puluhan rumah-rumah tua berarsitektur China kuno berusia ratusan tahun di Lasem, Kabupaten Rembang yang semestinya sudah layak menjadi icon cagar budaya, terancam dijual oleh sang pemilik sehingga mengancam kelestarian bangunan rumah china kuno di Lasem.

Pasalnya, keberadaan puluhan rumah berlanggam china kuno menjadi saksi bisu dari kesejarahan dan kejayaan Lasem pada masa lampau itu jika dihitung dulunya dari 100 persen, sekarang hanya tinggal tersisa sekitar 15 persen saja, jadi rumah china kuno di Lasem telah hilang dan mengalami modernisasi sekitar 85 persen. puluhan rumah china kuno mudah dijumpai di Desa Babagan, Gedongmulyo, Karangturi, Soditan, Sumbergirang, dan Ngemplak.

Sebagian dari bangunan itu masih terpelihara dengan baik, walaupun ada banyak bangunan yang di tinggalkan penghuninya sehingga dibiarkan terbengkalai dan ada juga yang merencanakan untuk menjual rumahnya.

Berdasarkan pantauan Beritamerdekaonline.com saat berkunjung ke Lasem Jawa Tengah, tampak beberapa rumah-rumah tua berarsitektur China kuno berusia ratusan tahun itu menghiasi di sepanjang jalan pantura Lasem.

Namun saat melewati arah Gedong Mulyo, terlihat tulisan “rumah ini dijual” di depan rumah tua berarsitektur china kuno diperkirakan berusia ratusan tahun yang nampak sepi, karena rumah itu kosong tak berpenghungi lagi.

Tak sampai disini, kemudian penelusuran kami berlanjut. setelah satu jam kemudian kembali wartawan Beritamerdekaonline.com menemukan salah satu rumah china kuno Lasem, yang berada tak jauh dari Masjid Jami’ yang berencana ingin dijual, dan sudah sampai pada tahap negosiasi dengan pembelinya.

Salah satu pemilik rumah tradisional tionghoa yang berencana ingin dijual, Frida (60), yang merupakan keturunan ke 6 keluarga Bian Ghoo dan Tjan Song Kwi mengaku dulunya rumah ini digunakan sebagai tempat industri batik Lasem, tampak sisa-sisa bangunan yang dibiarkan terbengkalai yang dulunya sebagai tempat produksi batik yang berada tepat dibagian belakang rumahnya.

Frida menambahkan, Ia juga berencana menjual rumahnya, sebelumnya dia juga sempat menawarkan rumahnya kesalah satu kolektor dan pembeli rumah antik dan barang antik di Jawa Tengah, namun penawaran harga dari salah satu pembeli dirasa belum cocok, sehingga beliau menunda untuk menjualnya.

“Jika ada yang berminat, rumah ini akan kami jual, untuk harganya saya minta Rp. 4 Miliar, karena nantinya mau pindah dengan anak saya,” ujarnya, Rabu (22/1/2020).

Sisi lain terkait sejarah rumah yang dibangun tak lama setelah Herman Willem Daendels menyelesaikan paruh jalan Semarang- Panarukan dari proyek Anyer – Panarukan pada tahun 1800-an.

Bahkan masih ditemui barang-barang peninggalan generasi pertama pemilik rumah, seperti foto-foto keluarga dari generasi pertama yang terpampang rapi di dinding hingga perabotan kuno, ubin kusam, dan sumur dalam kering dibagian belakang rumah.

Ketua Fokmas Rembang dan Pegiat Budaya Lasem, Ernantoro mengatakan Peraturan Daerah (Perda) sampai sekarang masih belum muncul, namun Peraturan Bupati (Perbub) sudah ada yakni Perbub Kota tua Lasem, yang hanya mencakup Kota Pusaka saja.

Menurut dia, bangunan-bangunan kuno itu merupakan bukti sejarah, sehingga perlu dilindungi. Bangunan-bangunan itu juga merupakan prasasti pertautan budaya Tionghoa dan Jawa serta akulturasi Islam dan Tionghoa yang berlangsung harmonis.

“Harusnya Pemerintah sendiri segera mengumpulkan data rumah – rumah yang dicurigai termasuk cagar budaya,” pintanya.

Ernantoro menambahkan, dari Fokmas sendiri sudah melakukan pendekatan kepada pemilik rumah, dengan cara membuat agenda event – event kecil, agar rumah – rumah tersebut tetap ada dan tak jadi dijual oleh pemiliknya. dan kegiatan semacam ini membuahkan hasil seperti Lawang Ombo, Rumah Ijo yang dulunya terancam dijual oleh sang pemilik, dengan cara pendekatan semacam itu, pemilik mengurungkan niatnya untuk menjualnya.

“Semoga Lasem seberuntung kawasan kota tua Jakarta dan kawasan Lawang Sewu Semarang yang berhasil diselamatkan. Kami tidak berharap bangunan-bangunan kuno itu dijual oleh pemiliknya atau hilang digerus modernisasi. Pemerintah perlu bertindak. Konservasi perlu dilakukan,” pungkasnya. (Minan).

Penulis : Minan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here