Ratusan Warga Hadiri Acara Haroa syukuran Baruga di Kelurahan Liabuku

0
471
Foto : Ratusan warga dari berbagai daerah dan kalangan, baik anak-anak, dewasa dan orang tua, dalam acara Baruga Lembaga Adat Limakawatino, di Kelurahan Liabuku, Kecamatan Bungi, Kota Baubau, Provinsi Sulawesi Tenggara. Minggu (23/2/2020). (Ardiman).

BAUBAU,  BMonline – Terbentuknya Baruga Lembaga Adat Limakawatino, di Kelurahan Liabuku, Kecamatan Bungi, Kota Baubau, Provinsi Sulawesi Tenggara, di rangkaikan dengan haroa syukuran,” atau makan bersama dengan selesainya pembangunan baruga.

Haroa syukuran ini, suatu bentuk legalisasi adat bahwa baruga ini telah bisa digunakan untuk kegiatan-kegiatan adat kedepanya sambil menungu peresmian yang rencananya akan di hadiri Gubernur Sulawesi Tengara, Ali Mazi.

“Kalau haroa syukuran ini yang biasa kami sebut ‘Limbaisiano Lambu’ sudah dilakukan, maka baruga ini sudah bisa dipake, tapi kalau belum maka itu belum bisa dipake, karena kalau dipake tanpa diharoa pasti ada kosekwensi yang akan dialami oleh siapapun yang memakai baruga itu,” kata Asirat pada beritamerdekaonline.com.

Ketua Lembaga Adat Lima Kawatino Kelurahan Liabuku La Alymu S.Sos dalam penyampaiannya dia mengucapkan, rasa terima kasi atas partisipasi, pemerintah, toko agama, toko adat beserta toko pemuda atas kerja samanya sehinga bisa terlaksana dengan baik kegiatan haroa pada hari ini.

Dikatakan juga, Ketua Bidang Seni dan Budaya Lembaga Adat Limakwatino Kelurahan Liabuku La Aria mengungkapkan, dengan telah selesainya ini baruga,maka kita jadikan kegiatan rutin kita setiap tahunya segala bentuk budaya adat lima kawatino yang ada hari ini,minimal bisa di kenal nasional maupun di internasional terutama kegiatan Mangaru, Silat, haroa hasulu, pomua, kahia’a dan kegiatan-kegiatan adat lainya.

“Pelaksanaanya cukup meriah dihadiri oleh ratusan warga dari berbagai daerah dan kalangan, baik anak-anak, dewasa dan orang tua. Sayangnya kapasitas daya tampung baruga ini tidak memungkinkan untuk menampung semua, “ jelasnya.

Sementara itu, Diman sebagai Sekertaris lembaga adat mengatakan, memang baruga ini belum selesai secara keseluruhan secara kebutuhan adat, karena bangunanya masih harus disambung ke belakang untuk ruang Suo (kamar) dan Songi (tempat pingitan anak gadis).

“Kami telah mengusulkan di Musrenbang untuk kelanjutanya. Kami sangat berharap kepada pemerintah, semoga saja usulan ini dapat ditanggapi dengan secepatnya,” ungkapnya. (Ardiman).

Penulis : Ardiman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here