Ini Yang Dikatakan Ahli Hukum Pidana : Kejadian Tahun 2016 Visum Tidak Bisa Dijadikan Bukti

0
87
Foto : Guru Besar dan Rektor Universitas Wahid Hasyim Semarang, Prof. Dr. H. Mahmutarom HR. S.H., M.H. Kamis (2/4/2020).

SEMARANG, BMonline – Terkait dengan hasil visum korban D yang yang diduga menjadi korban kejahatan pencabulan dan kekerasan sexual Syeh Puji di tahun 2016, yang pada saat itu korban masih berusia 7 tahun, Kamis (2/4/2020).

Menurut Prof. Dr. H. Mahmutarom HR. S.H.,  M.H., Guru Besar dan Rektor Universitas Wahid Hasyim Semarang, berpendapat bahwa hasil Visum bisa diakui dan bisa dijadikan alat bukti, ketika jarak terjadinya suatu perkara dengan pelaksanaan Visum tidak terlalu lama.

“Kalau kejadiannya sudah tahun 2016, ya tentunya sudah tidak valit lagi karena tanda – tanda kekerasan sudah tidak ada lagi, sehingga sudah tidak bisa lagi dijadikan alat bukti hukum, apalagi saat itu korban masih berusia 7 tahun” tegas Prof Mahmutarom.

“Polda Jateng harus fokus mencari bukti dan saksi – saksi lain, terkait apakah kejadian yang diduga dilakukan oleh Syekh Puji itu benar terjadi,” Imbuhnya.

Lebih lanjut dikatakan Prof Mahmutarom, Pemeriksaan korban D, harus didampingi oleh instansi atau lembaga peduli dan pemerhati anak, mengingat korban saat ini masih berusia 11 tahun. Sehingga dalam mengambil proses penyelidikan harus berpedoman pada Undang – Undang No.11 tahun 2012 Tentang Sistim Peradilan Pidana Anak (SPPA).

Sementara itu, Ketua Komnas Anak Jawa Tengah sekaligus Penasehat Hukum, Endar Susilo, SH.MH menyampaikan, Dalam pengambilan keterangan dan pemeriksaan yang dilakukan oleh Polda Jateng terhadap korban D.

“Alangkah baiknya jika Kami, Komnas Perlindungan Anak dilibatkan dalam pendampingan korban, mengingat bahwa kehadiran Komnas Anak adalah untuk mendampingi, mewakili dan juga untuk kepentingan anak yang diatur dalam Undang – Undang,” tuturnya.

Menurut Endar, dalam waktu dekat segera akan berkoordinasi lagi dengan Subdit IV Ditreskrimum Polda Jateng dan meminta diterbitkan Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyelidikan (SP2HP).

Terkait aduan yang disampaikannya atas Dugaan tindak pidana Kejahatan Anak Dengan korban D (7) Yang diduga dilakukan oleh Syekh Puji yang diawali dengan perkawinan siri yang terjadi di sekitar bulan Juli tahun 2016. (Budi).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here