Saresehan Pencegahan Covid-19 Belum Ada Kata Sepakat, Lurah Karangjati Sangat Prihatin

0
84
Foto : Suasana Sasesehan di Aula Kelurahan Karangjati, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang. (Agus Hamzah).

SEMARANG, BMOnline –  Memupuk kesepakatan dan kebersamaan dalam mencegah Covid-19, Kelurahan Karangjati mengadakan Sarasehan dengan mengundang tokoh-tokoh masyarakat dan tokoh agama, Kamis (21/5/2020).

Saresehan yang dilakukan pada Rabu 20 Mei 2020, kemarin, namun belum sepenuhnya menghasilkan kesepakatan bersama, namun sudah ada warga Karangjati yang positif Covid-19, pada tanggal 14 Mei 2020 kemarin, hal ini disampaikan Lurah Karangjati, Andar Susilo Adi.

“Kesepakatan bulat belum tercapai, karena masih ada tokoh-tokoh agama yang belum bisa menerima himbauan  pemerintah untuk tetap dirumah saja, termasuk beribadah di rumah saja, sebagai langkah untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 ,” Ucap Andar.

Andar menyayangkan masih diadakannya Sholat Jumat dan Taraweh berjamaah di Masjid di lingkungan Kelurahan Karangjati.  Dirinya sudah berusaha menghimbau untuk beribadah di rumah saja, namun beberapa tokoh agama masih belum bisa menerima, apalagi sekarang Kelurahan Karangjati sudah menjadi Zona Merah.

Andar juga menyampaikan, bahwa dengan adanya Surat Edaran dari Bupati No 451/001307 Tentang Ketentuan Pelaksanaan Ibadah di Bulan Romadhon,  yang isinya antara lain jelas melarang Sholat Jumat dan Taraweh berjamaah di masjid.

Lanjutnya, dirinya dan jajarannya, sebagai bawahan dari pemerintah kabupaten bertindak menjalankan perintah berdasar Surat Edaran itu.

“Saya berharap, Bapak Bupati sebagai Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Semarang, untuk bisa singkron dengan ulama yang diatas, seperti ulama pimpinan ormas islam yang menganjurkan ibadah di rumah saja, saya harap Bapak Bupati untuk lebih tegas lagi aturan yang dibuat pak Bupati,” Harapnya.

Demikian juga Ketua Covid-19 Kelurahan Karangjati,  Zaini mengungkapkan, bahwa pihkanya tidak bisa memaksakan untuk beribadah di rumah, meski berkali-kali pihaknya menjelaskan. 

“Mungkin kalau ibarat preman bisa memaksakan kehendak dengan kekerasan, tapi kami bukan preman,” kata Zaini.

Zaini sangat berharap dengan kesadaran tokoh-tokoh agama di karangjati untuk menaati anjuran pemerintah, mengingat wilayah karangjati yang heterogen dan cukup padat penduduknya.

Sementara itu, salah satu peserta saresehan, Budi yang juga Ketua RW 07, mengungkapkan, bahwa anjuran pemerintah sudah jelas, untuk beribadah di rumah saja, bahkan pimpinan-pimpinan Ormas Islam pun juga menyetujui untuk beribadah di rumah saja.

“Bahkan tutorialnya juga sudah ada dan jelas, tapi masih ada saja tokoh-tokoh agama disini yang belum bisa menerima,” ungkap Budi.  (Agus Hamzah)

Penulis : Agus Hamzah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here