Erdogan dan Hagia Sophia

0
2017
Ketua PWI Provinsi Bengkulu Zacky Antony, S.H., M.H.

Oleh Zacky Antony

Beritamerdekaonline.com – LANTUNAN ayat suci Alquran itu meluncur indah dari mulut seorang Presiden Turki, Reccep Tayyip Erdogan. Sosok pemimpin negeri Islam yang sepak terjangnya paling disorot beberapa tahun belakangan ini. Sempat mau dikudeta militer, tapi Erdogan malah semakin kuat karena dukungan rakyat di belakangnya.

Ayat Alquran yang dilantunkan Erdogan adalah Surat Al Fatihah dan Al Baqoroh 1-5. Suara sang presiden mengaji kemudian viral ke seluruh dunia, utamanya di dunia Islam. Yang dilakukan Erdogan tak hanya sekedar lantunan ayat suci yang memiliki kandungan makna spritualitas Islam. Tapi juga mengandung makna sejarah dan politik.

Erdogan tidak menandai kembalinya Hagia Sophia sebagai masjid dengan berpidato politik di depan pendukungnya. Tidak pula di hadapan sidang parlemen. Dia menandainya dengan mengaji. Mantan Walikota Istanbul itu sangat mengerti, Alquran lah yang menyatukan umat muslim di seluruh dunia. Bukan pidato politik.

Meski hanya lantunan ayat suci Alquran, tapi yang dilakukan Erdogan sudah melebihi sebuah pidato politik. Lantunan ayat suci itu sekaligus statemen sejarah. Bukan saja karena faktor orang yang melafazkannya seorang presiden. Tapi juga mengingat faktor di mana ayat suci itu dilantunkan yaitu Hagia Sophia, bekas gereja Kristen Ortodox selama 900 tahun. Lantunan ayat Alquran itu bisa dimaknai sebuah pengesahan atau peresmian Hagia Sophia Mosque.

Bahkan lebih dalam dari itu, bisa pula mengandung makna kemenangan bagi umat muslim yang telah lama menanti. Keputusan Attaturk mengubah Hagia Sophia dari masjid menjadi museum memang sudah sejak lama digugat sejumlah kelompok di Turki. Tapi baru 10 Juli 2020 lalu dikabulkan hakim pengadilan Turki. Putusan pengadilan inilah yang menjadi landasan Erdogan mengubah kembali fungsinya menjadi masjid.

Dengan kata lain, keputusan Erdogan tersebut selain mendapat dukungan luas dari publik Turki, tapi juga memiliki legitimasi hukum. Selain dari rakyat Turki, dukungan juga datang dari negeri-negeri muslim seperti Pakistan dan Iran. Tapi di sisi lain, keputusan tersebut disesali Negara-negara Barat, termasuk Paus. Protes utamanya datang dari kalangan Kristen Ortodox.

Erdogan yang menjadi Presiden Turki sejak 2014 tidak menggubris keberatan tersebut. Dia berprinsip Hagia Sophia merupakan urusan dalam negeri Turki. Erdogan malah punya cita-cita berikutnya yaitu membebaskan Masjid Al Aqsa. Pemilik tinggi 185 cm ini memang dikenal keras. Dia pernah masuk penjara pada 1997, sebelum kemudian tampil memegang tampuk kepemimpinan Turki. Dimulai menjadi PM tahun 2003 – 2014. Lalu menjadi Presiden Turki sejak 2014 sampai sekarang.

Yang dilakukan Erdogan mengingatkan kita apa yang dilakukan Bilal saat menggemakan adzan ketika rombongan nabi memasuki Madinah. Adzan yang dikumandangkan Bilal bin Rabah (atas suruhan rasulullah) bukan hanya bermakna panggilan sholat, tapi juga sekaligus statemen politik bahwa Islam telah hadir di Madinah.

Catat; Hari bersejarah yang ditorehkan Erdogan itu 24 Juli 2020. Hari itu bukan saja dibukanya babak baru bagi sejarah Turki, tapi sekaligus juga bertaut dengan sejarah peradaban Islam dan sejarah Eropa. Untuk pertama kali Hagia Sophia menggelar Sholat Jumat setelah lebih kurang 86 tahun menjadi museum. Ribuan Jemaah memadati Sholat Subuh dan Sholat Jumat pada hari itu.

Di tengah kontroversi dan protes dari sejumlah Negara barat, Erdogan bergeming. Keteguhan pendirian pria kelahiran Istanbul 26 Februari 1954 itu sama kokoh dengan benteng kota kelahirannya yang dulu bernama konstantinopel. Pembacaan ayat suci Alquran itu menegaskan konsistensi Erdogan dengan visi religiusnya, mengubah Turki yang sekuler menjadi Islami. Sebelum ini, Erdogan juga mencabut larangan menggunakan hijab dan simbol-simbol agama di tempat umum.

Erdogan mengikuti jejak Sultan Mehmed II yang menaklukkan konstantinopel pada 1453. Sultan yang berusia 21 tahun itu sering disebut juga Al Fatih (sang penakluk). Pada 2 Juni 1453, atau tiga hari setelah penaklukan ibukota kekaisaran Byzantium itu, ribuan orang menandai pelaksanaan Sholat Jumat pertama di bekas gereja katedral Kristen orthodox.

Konstantinopel, ibukota Byzantium atau Romawi timur jatuh ke tangan pasukan muslim pada 29 Mei 1453 setelah melalui perang melelahkan selama 55 hari. Berita kekalahan pasukan Kristen itu menyebar cepat ke seantero Eropa. Mereka kaget dan tidak menyangka. Apalagi terbetik kabar, Mehmed II juga akan memperluas ekspansi dengan menaklukkan Italia.

Setelah penaklukan konstantinopel, Sultan Mehmed II mengubah fungsi Hagia Sophia menjadi masjid. Sebelum itu, Hagia Sophia adalah gereja katedral kristen ortodox selama 916 tahun (537 – 1453). Berfungsinya Hagia Sophia sebagai masjid ditandai pembangunan empat menara di bagian luar.

Sejak 1453, kumandang azan bergema lima kali sehari selama lebih kurang 500 tahun. Atau sampai berakhirnya kekhalifahan Usmani pada tahun 1922. Setelah kekhalifahan Usmani runtuh, muncul tokoh bernama Mustafa Kemal Attaturk yang mendirikan Republik Turki modern. Kemal Attaturk yang beraliran sekuler mengubah Hagia Sophia dari masjid menjadi museum.

Setelah mengubah Turki yang sekuler menjadi Islami, apa langkah Erdogan berikutnya? Benarkah dia akan membebaskan Al Aqsa? Kita tunggu.

Penulis adalah Ketua PWI Provinsi Bengkulu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here