Moge Damai Aceh Dinilai Pemborosan, Lukai Rasa Keadilan Masyarakat di Tengah Pandemi

0
333
Foto : Mantan BRA periode 2007-2009 Masluyuddin, SE

TAPAKTUAN, Beritamerdekaonline.com – Mantan Ketua BRA (Bandan Reintegrasi Aceh) Periode 2007-2009 Masluyuddin, SE., menyesalkan kegiatan peringatan hari damai Aceh yang ke 15 yang dilaksanakan Badan Reintegrasi Aceh (BRA), dengan melakukan tour menggunakan Motor Gede (Moge) dinilai berlebihan dan tidak bermanfaat.

Mantan ketua BRA tersebut prihatin dengan pelaksanaan touring moge yang terkesan mewah, di segi lain masyarakat korban konflik masih membutuhkan tuntutan ekonomi dan para kombatan GAM belum cukup mendapatan perhatian pemerintah.

“Di tahun 2009 lalu pada pelaksanaan Hari Damai Aceh itu menyentuh masyarakat dengan melibatkan pengendara becak (roda tiga) untuk melakukan konvoi,” kata mantan BRA Masluyuddin, SE., pada beritamerdekaonline.com, Kamis (13/08/2020).

Mantan BRA sangat setuju atas sorotan dan mendukung pernyataan Anggota DPR Aceh (DPRA) Iskandar Usman Alfarlaky, mengkritik kegiatan moge yang diselenggarakan Badan Reintegrasi Aceh (BRA) untuk memperingati Hari Damai Aceh.

Terhadap pelaksanaan memperingati MOU Helsinki Aceh yang melibatkan moge, sehingga banyak disesalkan oleh berbagai pihak dan kegiatan tersebut tidak mempunyai manfaat bagi masyarakat.

“Saya merasa prihatin dengan kegiatan seperti itu. Kalau ingin go internasional, ya harus bersifat pro masyarakat, kalau tujuannya ingin mempopulerkan Hari Damai Aceh ke dunia, sedangkan Memorandum of Understanding (MOU) Aceh sudah di kenal ke penjuru dunia yang belum cuma ke akhirat,” Cetusnya.

Sarannya, bagaimana cara melaksanakan kegiatan-kegiatan yang sifatnya mengayomi untuk memberikan rasa nyaman kepada masyarakat, seperti mengikuti protokol pencegahan Covid-19 dan bagaimana memberdayakan perekonomian masyarakat yang didera pandemi.

“Tapi Insya Allah selama saya menjadi ketua BRA pada masa 2007-2009 ada sekitar 2500 lebih memberikan manfaat pada masa itu, dan yang belum tepat sasaran substansi perdamaian itu sendiri, karena masih banyak orang yang membutuhkan perhatian sejak isi perjanjian damai Helsinki,” Ungkapnya.

Menurutnya, kegiatan tersebut ada yang menunggangi dan menghabiskan uang rakyat, dengan mengalokasikan anggaran hinga Rp.305,663,796 juta, bersumber dari APBA yang notabene adalah uang rakyat Aceh, dan program kegiatan tersebut dinilai mubazir. (Kausar)

Penulis : Kausar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here