Terkait Tanah Adat Paya Sangor, Masyarakat Kampung Kung Datangi DPRK Aceh Tengah

TAKENGON, Beritamerdekaonline.com – Masyarakat Kampung Kung Kecamatan Pegasing, Aceh Tengah, mendatangi kantor DPRK Aceh Tengah, mereka mengadukan keberadaan dan mempertanyakan kejelasan terkait  tanah adat Paya Sangor yang akan mereka tempati. Rabu,  (26/8/2020).

Lebih dari empat truk dan puluhan mini bus serta kenderaan roda dua masyarakat kampung kung mendatangi kantor dewan setempat, mereka terdiri kaum bapak- bapak dan ibu-ibu, serta para pemuda secara serentak memasuki halaman kantor dewan dengan santun, dan duduk dihalaman kantor.

Sementara itu, para pengaman unjuk rasa dari satuan  polres Aceh Tengah dan satpol PP berbaris dan berjaga di depan kantor (pagar betis).

Safrudin perwakilan masyarakat kampung kung dalam orasinya menyatakan, bahwa mereka ingin bertemu dengan anggota dewan serta mengadukan hal mereka, terkait tanah adat Paya Sangor yang terdapat di desa/ kampung mereka.

Kabag Ops Polres bener meriah, Jhon Damanik. SH., yang mengaku memiliki emosional dengan para pengunjuk rasa menyatakan, akan melakukan negoisasi dengan para anggota dewan yang akan menemui mereka,

 “Saya harapkan masyarakat tenang serta tidak anarkis, dan saya akan menyampaikan kepada para anggota dewan yang akan menemui bapak dan Ibu serta para pemuda,” pintanya.

Sambil menunggu hadir anggota dewan, beberapa masyarakat berorasi dan ada yang memutar didong sebagai penghibur masyarakat yang duduk sudah dari pagi di gedung dewan.

Berselang beberapa menit, para anggota dewan pun hadir dihadapan masyarakat diantaranya ketua DPRK yang diapit oleh wakil ketua, serta beberapa dari komisi terkait.

Safarudin mewakili masyarakat membacakan tuntutan yang akan disampaikan pada anggota dewan untuk diselesaikan bersama pihak eksekutif daerah setempat, diantaranya masyarakat kampung kung mempertanyakan asal usul penggarap lahan, izin menggarap serta identitas para penggarap karena disinyalir bukan masyarakat setempat.

Mereka juga mempertanyakan siapa yang menangani jual beli tanah adat di paya Sangor yang merupakan tanah leluhur mereka, yang ketiga masalah tanah tersebut tidak pernah ditangani oleh pemerintah Aceh tengah dan DPRK dan membiarkan tanah mereka dirampas oleh oknum pencuri yang identitasnya tidak diketahui oleh mereka dan meminta buka dalang dibalik penjualan tanah tersebut.

Warga Kampung kung tidak pernah merusak tanaman yang berada di tanah adat paya sangor, akan tetapi mereka hanya membersihkan lahan yang digunakan untuk tapak rumah dengan ukuran 10 x 20 meter,  dan masyarakat pernah mendesak reje ( gecik) dan aparatur kampung untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan memanggil para penggarap lahan namun mereka tidak ada penyelesaian sampai sekarang.

Menanggapi tutuntautan tersebut Anggota Dewan Samsuddin dari kader PDI Perjuangan menyatakan menerima tuntutan tersebut dan berjanji akan memanggil pihak terkait untuk menyelesaikannya.

“Kami dari dewan akan segera memanggil pihak terkait untuk menyelesaikan persoalan ini,” tegasnya.

Mendengar penjelasan anggota dewan tersebut masyarakat Kampung Kung berlapang dada serta mengharapkan ada penyelesaian dengan tanah mereka, dan membubarkan diri.

Pantauan media ini, sebelum masyarakat membubarkan diri, perwakilan masyarakat kembali berbicara, agar masyarakat membentuk barisan, serta beridiri bersalaman dengan petugas penjaga keamanan sehingga menuju pintu gerbang dan pulang. ( Man)

Penulis : Man

banner 700x280 banner 700x280 banner 700x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.