Insentif Dihilangkan Ditengah Pandemi, Driver Grabcar Semarang Gigit Jari

1
2416

SEMARANG, Beritamerdekaonline.com – Sudah jatuh tertimpa tangga. Ya, begitulah kondisi driver Grab Semarang saat ini setelah insentif dihilangkan. Seperti yang disosialisasikan oleh Staf Grab GDC Semarang, Harley Wicaksono pada 13 Oktober 2020 di TBRS.

Walaupun setelah insentif hilang, ada program baru yang bernama garansi penghasilan dan beberapa benefit. Namun kenyataannya, hal tersebut hanyalah pepesan kosong belaka atau sekedar untuk menghibur driver.

Untuk itu pihak Grab diminta agar lebih bijaksana dalam menyikapi masalah ini. Sebaliknya dari para driver sebetulnya bisa menerima peniadaan insentif tersebut, karena memang semua entitas bisnis terdampak akibat pandemi asalkan diikuti oleh beberapa kebijaksanaan yang sedikit banyak bisa menolong driver dari situasi sulit ini.

Dengan adanya kebijakan baru dari pihak Grab yang dirasa memberatkan mitra driver, Didik Agus Riyanto salah satu Aktifis di kota Semarang dan juga ketua Pemuda Pancasila PAC Banyumanik mengatakan, pihaknya berencana mendirikan atau membentuk Serikat Pekerja Driver Online (SPDO) yang nantinya akan menjadi payung hukum bagi para driver online.

“Beberapa hari ini banyak komunitas yg menghubungi saya dan menyampaikan unek uneknya. Saya juga turun langsung ke lapangan dengan cara naik Grab sekaligus wawancara kepada para driver untuk menanyakan langsung apa yang dirasakan para driver saat ini,” jelas Didi, Rabu (21/10/2020).

Para driver Grab, lanjut Didi hanya meminta ke pihak managemen untuk menurunkan potongan komisi 20% menjadi 10% menghilangkan biaya jasa dan sejenisnya. Karena memang biaya ini dulunya adalah untuk mendukung insentif. Benefit harus sesuai realita. Contohnya diskon, ternyata ada harga di luar yang lebih murah.

Foto: Didik Agus Riyanto

“Benefit harus merata ke semua driver, sebab selama ini ada pembedaan benefit antara driver satu dan lainnya, sesuai tier masing-masing driver. Padahal yang merasakan imbas hilangnya insentif adalah semua driver tanpa terkecuali,” pintanya.

“Saat ini banyak driver tidak bisa beroperasi karena terbentur pada biaya operasional imbas dari berkurangnya order. Sementara banyak driver yang masih mengangsur kendaraannya. Jadi dengan garansi pendapatan ini pun tidak menjamin kesejahteraan driver,” Ujarnya.

Didi menambahkan prinsip WIN WIN Solution dalam bermitra bisnis harus dikedepankan, Mitra bukan karyawan yang bisa diatur sesuka hati aplikator.

“Kami nanti akan mematikan aplikasi serentak (offbide) dan turun ke jalan secara besar besaran di kantor Grab, tunggu moment yang tepat saja,” pungkasnya. (DAR/GCF)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here