Ketua Gerakan Pemuda Ka’bah (Aliansi Tepi Barat) Magelang Mengutuk Keras Perbuatan Cabul Pengasuh Ponpes Kepada Santriwatinya

Beritamerdekaonline.com (Magelang)-Dugaan Asusila yang dialami  putri KM warga Kec.Tempuran, Magelang membuat prihatin khusus di semua elemen masyarakat Magelang,Gerakan Pemuda Ka’bah (GPK) Aliansi Tepi Barat salah satu nya mengutuk keras pelaku bejad yang dilakukan oleh seorang pengasuh pemimpin  Ponpes yang mencabuli Santriwatinya sampe berulang kali,Sabtu (21/5/2022).

Ketua GPK Aliansi Tepi Barat Yulianto atau yang biasa disebut Yanto Petuk didampingi Team Kuasa Hukum Gunawan SH. Saat bertemu dengan Media  mengatakan,”KM yang berharap putrinya bisa mendapatkan ilmu Agama di Ponpes, namun harapan itu musnah dengan musibah yang dialami putrinya,Mawar 15 tahun (nama samaran).Bukannya Ilmu Agama yang di dapat, tapi perlakuan yang tidak senonoh dan biadab yang dilakukan oleh Pimpinan yang juga Pengasuh Ponpes, jelasnya.”

“Terkuaknya kasus pencabulan Santriwati ini bermula saat Mawar putri KM tidak mau berangkat belajar ke Pondok Pesantren Ar – R di Dsn.Samberan – Ds.Wringinanom Kec.Tempuran tersebut. Dan bahkan Mawar menangis terus didalam kamarnya. Ada hal yang aneh pada Mawar, pada akhirnya Kedua Orang Tua dan Kakaknya berusaha menanyakan kepada Mawar, alasannya apa tidak mau berangkat lagi belajar ke Pondok Pesantren,jelasnya.”

“Mawar menceritakan kasus pencabulan yang dialami beberapa kali yang dilakukan oleh tersangka SA,Sejak bulan Agustus hingga Oktober 2021 telah dilakukan tindakan cabul oleh SA.Dengan dalih korban diminta untuk membuatkan kopi, membersihkan kamar SA, dalam kamar tersangka yang juga Pimpinan ,Pengasuh Pondok Pesantren, dan kebetulan tersangka SA adalah salah satu tokoh NU juga anggota P4SK, melakukan aksi bejadnya dengan meraba payudara,meraba raba (V) korban,perbuatan ini dilakukan lebih dari 9x,”imbuhnya.

“Pada saat itu Kedua orang tua dan kakak korban bersama beberapa warga Dsn.Samberan datang kerumah menemui saya dan menceritakan kasus pencabulan yang dialami putrinya. Dan pada saat itu juga sy kumpulkan Tim Hukum Gerakan Pemuda Ka’bah Aliansi Tepi Barat untuk menindaklanjuti kasus dugaan Pencabulan tersebut. Dan Tim Hukum GPK Aliansi Tepi Barat mengkaji lebih dalam kasus tersebut, tambahnya.
Tanpa pikir panjang Tim Hukum Gerakan Pemuda Ka’bah [ GPK ] Aliansi Tepi Barat membuat aduan Dugaan pencabulan Anak Dibawah Umur Yang di lakukan oleh Pimpinan dan Pengasuh Pondok Pesantren Ar – R ke Polres Magelang pada tanggal 8 Februari 2022.
Dan tepatnya pada hari senin, tanggal 25 April 2022 terduga pelaku Pencabulan anak dibawah umur Yang dilakukan oleh Pimpinan dan atau Pengasuh Pondok Pesantren Ar – R saudara SA umur 36 th Dsn.Samberan Ds.Wringinanom Kec.Tempuran di Tetapkan Sebagai TERSANGKA. Dan Saat itu juga dilakukan Penahanan oleh Polres Magelang.

“Kami sangat  Mengapresiasi penuh kepada Bapak Kapolres Magelang AKBP. Moch.Sajarod Zakùn, S.H ,S.I.K , Bapak AKP M.Alfan A, MAP, SIK mantan Kasat Reskrim yang saat ini bertugas di Polda Jateng dan Unit PPA yang berani bertindak tegas dan tidak pandang bulu dalam menangani Kasus Pencabulan Santriwati dibawah umur ini.Dan kami berharap keadilan tidak tumpul ke bawah,tegas Yanto Pethuk.

“Di sini kami juga meluruskan Tersangka saudara SA itu bukan pekerja atau bekerja, tapi Pengasuh dan atau Pimpinan Pondok Pesantren tersebut, sesuai dengan bukti yang ada pada Daftar Nama Pondok Pesantren Sekabupaten Magelang , maka sampai kapanpun kami, Gerakan Pemuda Ka’bah [ GPK ] Aliansi Tepi Barat akan terus mengawal Proses Hukum kasus Biadab dan memalukan ini sampai selesai. Karena kasus ini baru terjadi di Magelang dan sudah menjadi perhatian publik, bahkan LPSK dan Komisi Perlindungan Anak memantau Kasus tersebut. Karena Keluarga korban mengalami intimidasi, pintu rumah digedor dan halaman rumah disebari kembang. Bahkan kami menduga ada pihak tokoh agama yang berusaha untuk memback up kasus tersebut,agar tidak mencuat. Dan bahkan keluaga korban di ajak damai dgn kopensasi uang sebesar Rp. 350 juta rupiah,ungkapnya.

Sementara itu Kuasa Hukum GPK  Aliansi Tepi Barat Gunawan Setyapribadi .SH menambahkan,”Dalam proses pemeriksaan muncul korban baru sebut saja Melati (nama samaran) menceritakan kejadian yang dialaminya beberpa tahun silam.Sungguh Sangat biadap perbuatan tersangka,saat Melati (nama samaran) mengaji di minta oleh tersangka SA untuk memegang kelamin SA,Melati dengan menangis menjelaskan kejadian yang menimpanya kepada team pengacara dirumahnya.Dalam hal ini kami juga sudah melaporkan ke Polres Magelang,imbuhya.

“KM sebagai orang tua Mawar menyampaikan keinginannya agar pelaku dihukum seberat beratnya atau hukuman mati.”

(ROHMAD CANDRA)

banner 700x280 banner 700x280 banner 700x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.