Idul Adha: Keseimbangan Saleh Ritual dan Sosial

Prof. Dr. H. Ahmad Rofiq, MA.

Oleh Ahmad Rofiq

SEMARANG, Berita Merdeka Online – Senin, 17 Juni 2024, umat Islam Indonesia secara serentak dan bersama-sama merayakan hari Idul Adha 1445 H, dengan penuh suka cita dan bahagia sebagai ungkapan keimanan dan ketaqwaan. Perintah berkurban, pada awalnya adalah perintah Allah ‘Azza wa Jalla kepada Nabi Ibrahim as, untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail as. Ash-Shaffat:102 “Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata: “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu, pikirkanlah apa pendapatmu? Dia (Ismail) menjawab: “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaa allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS. Ash-Shaffat: 102).

Padahal penantian Nabi Ibrahim as untuk dikaruniai anak sudah sangat lama. Sebagaimana dijelaskan dalam QS. Ash-Shaffat: 100-106, Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (keturunan) yang termasuk orang-orang saleh. Maka Kami memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak (Ismail) yang sangat santun”.

Ibadah kurban ini tentu sangat berat, namun karena itu perintah Allah, maka dengan penuh ketaqwaan dan kepasrahan, perintah itu dilaksanakan. Maka tatkala Nabi Ismail sudah siap disembelih, karena Nabi Ibrahim sudah meletakkan pelipis Ismail di atas gundukan, Kami (allah) memanggil dia, “Wahai Ibrahim, sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan, sebagai ujian yang nyata, kemudian Kami menebusnya dnegan seekor (hewan) sembelihan yang besar”.

Rasulullah SAW melanjutkan perintah ibadah kurban ini, sebagai perintah anjuran (sunnah muakkad) bagi hamba-hamba Allah yang berkemampuan. Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa berkemampuan dan tidak berkurban, maka janganlah mendekati tempat shalat kami” (Riwayat Ahmad, Ibn Majah, Ad-Daruquthni dan Al-Hakim).

Ini menegaskan, bahwa seakan-akan seorang hamba yang rajin mengerjakan shalat namun tidak mau berkurban bagi yang berkemampuan, shalatnya sia-sia. Dengan kata lain, ibadah ritual yang rajin tetapi tidak diimbangi dengan ibadah sosial, di antaranya melalui ibadah kurban, yang sepertiganya untuk pengurban, sepertiga untuk fakir miskin, dan sepertiga untuk para tamu, ibadah ritual shalatnya menjadi tidak bermakna.

Sungguh tidak tepat sekiranya masih ada orang yang beranggapan bahwa dalam Islam itu hanya berisi ibadah ritual saja, karena Islam dengan sangat tegas mengajarkan keseimbangan antara ibadah ritual dan sosial sekaligus. Bahkan dalam ajaran zakat, yang merupakan sedekah wajib, adalah bagian dari pilar (rukun) Islam yang sangat tegas. Tentu zakat ini diwajibkan bagi mereka yang memiliki harta yang melebihi batas minimal kepemilikan (nishab) dan rentang waktu aman satu tahun (haul). Masih banyak ragam ibadah sosial lainnya, infaq, hibah, dan waqaf.

Ibadah kurban selain sebagai bentuk ketaatan dan penghambaan kepada Allah, juga mensyukuri berbagai anugerah dan kenikmatan yang Allah limpahkan pada kita. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Kautsar: 1-3: “Sesungguhnya Kami telah memberimu nikmat yang banyak. Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah! Sesungguhnya orang yang membencimu, dialah yang terputus (dari rahmat Allah)”.

Allah ‘Azza wa Jalla juga menegaskan, bahwa “Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al-Hajj:37).

Semoga kita mampu menjadikan momentum Idul Adha 1445 H sebagai awal untuk memastikan lembaran keseimbangan hidup kita dengan memadukan ibadah ritual dan ibadah sosial menjadi amal saleh kita dalam kehidupan sehari-hari. Allah pasti melipatgandakan ibadah sosial kita dengan balasan tujuh ratus kali lipat. “Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan harta mereka di jalan Allah, adalah s yang menabur) sebutir biji (benih) yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-Baqarah: 261).

Selamat Idul Adha 1445 H, mohon maaf lahir dan batin, semoga kita semua sepanjang tahun dalam kebaikan dan keberkahan-Nya. Amin.

( Prof. Dr. H. Ahmad Rofiq, MA., Ketua PW Dewan Masjid Indonesia (DMI) Provinsi Jawa Tengah, Guru Besar Hukum Islam Pascasarjana UIN Walisongo, Direktur LPPOM-MUI (Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika-Majelis Ulama Indonesia) Provinsi Jawa Tengah, Ketua Bidang Pendidikan Masjid Agung Jawa Tengah, Ketua II YPKPI Masjid Raya Baiturrahman Semarang, Ketua Dewan Pengawas Syariah (DPS) Rumah Sakit Islam Sultan Agung, DPS BPRS Bina Finansia Semarang, dan Ketua DPS BPRS Kedung Arto Semarang)

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *