Senyuman Palsu, Benteng Kepedihan dan Identitas Manusia Sebagai “Great Pretender”

Oleh Nia Samsihono

SEMARANG, Berita Merdeka Online – Manusia adalah makhluk sosial yang kompleks, dan salah satu cara mereka berinteraksi dengan dunia melalui ekspresi wajah, khususnya senyuman. Namun, senyuman tidak selalu mencerminkan kebahagiaan sejati. Seringkali, senyuman digunakan sebagai tameng untuk menutupi rasa sakit, kepedihan, dan kesedihan yang mendalam. Dalam hal ini, manusia berperan sebagai “great pretender,” atau penipu ulung yang mampu menyembunyikan perasaan sebenarnya di balik topeng kebahagiaan.

Fenomena ini dapat dilihat dalam berbagai konteks kehidupan sehari-hari. Misalnya, dalam dunia kerja, individu sering kali merasa tertekan atau stres, tetapi mereka tetap tersenyum demi menjaga profesionalisme dan menghindari perhatian negatif. Di ranah sosial, senyuman palsu digunakan untuk menjaga hubungan dan menghindari konflik, meskipun hati mereka sedang hancur. Hal ini mencerminkan kebutuhan manusia untuk diterima dan tidak terlihat lemah di mata orang lain.

Ada beberapa alasan mengapa manusia cenderung menutupi kepedihan dengan senyuman. Pertama, ada tekanan sosial yang kuat untuk selalu tampil bahagia dan kuat. Masyarakat sering kali menghargai ketangguhan dan ketahanan emosional, sehingga mengekspresikan kesedihan dianggap sebagai tanda kelemahan. Kedua, menjaga penampilan bahagia dapat membantu individu menghindari pertanyaan yang tidak diinginkan atau perhatian yang tidak perlu dari orang lain. Ketiga, dengan tersenyum, seseorang dapat mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa mereka benar-benar bahagia, sebagai mekanisme pertahanan psikologis yang dikenal sebagai “fake it till you make it.”

Namun, menjadi “great pretender” juga memiliki dampak negatif. Menyembunyikan perasaan sejati bisa menyebabkan akumulasi stres dan kecemasan, yang pada akhirnya dapat berdampak buruk pada kesehatan mental dan fisik. Selain itu, kurangnya kejujuran emosional dalam hubungan dapat menghambat kedekatan dan kepercayaan antara individu. Untuk itu, penting bagi kita untuk mulai mengubah cara pandang kita terhadap ekspresi emosi. Menerima bahwa kesedihan adalah bagian alami dari kehidupan dan mengizinkan diri sendiri untuk jujur tentang perasaan kita bisa menjadi langkah awal menuju kesejahteraan emosional yang lebih baik. Dalam lingkungan yang mendukung, di mana emosi dapat diekspresikan dengan bebas tanpa takut dihakimi, manusia dapat menemukan keseimbangan antara senyuman yang tulus dan pengakuan terhadap rasa sakit yang mereka alami.

Pada akhirnya, menjadi “great pretender” adalah bagian dari sifat manusia yang berusaha untuk bertahan hidup dalam dinamika sosial yang rumit. Namun, dengan mengakui dan menghadapi kepedihan kita secara terbuka, kita bisa mencapai kedewasaan emosional dan kesejahteraan yang lebih autentik.

Berkaitan dengan “great pretender” tersebut, Ketua Umum Satupena Pusat Denny JA menggunakan asisten AI telah melukis sosok dengan wajah yang menyembunyikan perasaan dengan topeng. Ia memberi judul lukisan itu “Great Pretender: Riang Yang Mentupi Luka”. Katanya, “Di publik ia nampak riang, menghibur, memberi semangat. Tapi ia sebenarnya menyembunyikan begitu banyak luka dan derita.” Masih menurut Denny JA, riset menunjukkan di atas 30 persen manusia seringkali berpura-pura, great pretender (Merten, 2023), dan semua manusia pernah berpura-pura. Denny JA adalah sosok multidimensional yang berperan penting dalam dunia politik, sastra, dan budaya di Indonesia. Denny juga dikenal sebagai salah satu penggiat sastra esai puisi, sebuah genre yang menggabungkan esai dengan puisi, yang dianggap sebagai inovasi dalam dunia sastra Indonesia. Salah satu karyanya yang terkenal adalah “Atas Nama Cinta,” sebuah kumpulan esai puisi yang diterbitkan pada tahun 2012. Karya sastra Denny JA sering membahas isu-isu kontemporer dan refleksi sosial, sehingga memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perkembangan sastra Indonesia modern.

Selain karya sastra, Denny JA juga menghasilkan karya seni dalam bentuk lukisan. Lukisan-lukisan Denny JA seringkali mencerminkan pandangan sosial, politik, dan budaya yang mendalam, dengan pendekatan yang menggabungkan seni visual dan pesan-pesan yang provokatif. Dalam banyak karyanya, Denny JA berhasil menggabungkan elemen-elemen simbolis yang kuat dengan teknik artistik yang menawan. Misalnya, beberapa lukisan Denny JA mengeksplorasi tema-tema kemanusiaan, kebebasan, dan keadilan sosial. Penggunaan warna yang kontras dan komposisi yang dinamis seringkali memberikan kekuatan emosional yang mendalam pada lukisannya.

Selain itu, beberapa karya Denny JA juga menampilkan potret-potret tokoh penting atau momen-momen bersejarah, yang disajikan dengan gaya yang unik dan khas. Lukisan-lukisan Denny JA juga bisa memicu berbagai macam reaksi. Beberapa mungkin memuji kedalaman dan keberanian dalam menyampaikan isu-isu sensitif, sementara yang lain mungkin mengkritik gaya atau pendekatan yang digunakan. Kritik dan apresiasi terhadap karya seni adalah hal yang wajar dan merupakan bagian dari dialog yang sehat dalam dunia seni. Secara keseluruhan, lukisan-lukisan Denny JA menawarkan perspektif yang unik dan berani, menggabungkan elemen visual dan naratif untuk menciptakan karya yang tidak hanya indah dipandang tetapi juga memancing refleksi mendalam tentang berbagai isu penting dalam masyarakat.

Lukisan “Great Pretender” karya Denny JA telah mengusik nurani saya dan di hati saya yang terdalam mengatakan bahwa kehidupan saya atau orang-orang lain seperti tergambar dalam lukisan itu. Pada lukisan itu tampak cahaya yang menampilkan kebahagiaan penuh kehangatan dengan warna kuning keemasan di sekitar wajah dan tubuh bagian depan sosok yang dilukis. Pada punggung sosok itu terlihat warna redup kebiruan yang menyiratkan kepiluan diri. Gradasi warna itu berbaur namun jelas kontras di antara keduanya.

Saya bukan ahli lukisan dan tidak dapat menganalisis lukisan, tetapi ketika menatapi lukisan “Great Pretender”-nya Denny JA, saya dapat mencermati dan merasakan bagaimana manusia pada umumnya seperti itu adanya, di depan wajah bercahaya, di punggung tergambar rasa kepedihan yang penuh kepiluan. Sosok dalam lukisan itu itu dengan jelas menggambarkan bahwa dia menyembunyikan apa yang terjadi pada dirinya dengan sikap berpura-pura. Sosok itu dilukis melepas topeng bahagia dan ternyata di balik topeng bahagia itu terdapat kepedihan yang tergambar dengan lelehan air mata di wajah. Manusia sering kali berpura-pura atau menunjukkan perilaku yang tidak sepenuhnya mencerminkan perasaan atau pikiran asli mereka. Fenomena ini terjadi karena berbagai alasan yang kompleks dan berlapis.

Dalam banyak situasi sosial, sikap berpura-pura itu membantu individu untuk beradaptasi dan diterima dalam kelompok. Misalnya, seseorang mungkin berpura-pura setuju dengan pendapat mayoritas meskipun sebenarnya tidak sependapat, demi menjaga keharmonisan dalam kelompok. Dengan menyesuaikan diri atau menyembunyikan perasaan asli, seseorang bisa menghindari situasi yang berpotensi menyebabkan ketegangan atau perselisihan. Berpura-pura bisa menjadi mekanisme pertahanan untuk melindungi diri dari rasa sakit emosional atau penolakan. Misalnya, seseorang mungkin berpura-pura bahagia meskipun sedang merasa sedih untuk menghindari pertanyaan atau simpati yang tidak diinginkan. Kadang-kadang, berpura-pura diperlukan untuk mencapai tujuan tertentu.

Dalam dunia profesional, misalnya, seseorang mungkin akan berpura-pura percaya diri atau kompeten untuk dapat pekerjaan atau promosi. Masyarakat memiliki norma dan harapan tertentu tentang bagaimana seseorang harus bersikap. Berpura-pura bisa menjadi cara untuk memenuhi ekspektasi sosial tersebut, bahkan jika itu tidak sesuai dengan perasaan atau kepribadian asli individu. Seseorang mungkin ingin dilihat dengan cara tertentu oleh orang lain dan berpura-pura bisa membantu dalam membentuk persepsi tersebut.

Dalam beberapa kasus, berpura-pura dilakukan demi empati atau kesopanan. Misalnya, seseorang mungkin berpura-pura tertarik pada cerita orang lain sebagai bentuk penghargaan dan perhatian, meskipun sebenarnya tidak begitu tertarik. Banyak orang berpura-pura untuk menghindari konfrontasi langsung. Mengungkapkan ketidakpuasan atau ketidaksetujuan bisa menyebabkan situasi yang tidak nyaman, jadi berpura-pura bisa menjadi cara untuk menjaga kedamaian. Pada akhirnya, berpura-pura adalah bagian dari dinamika sosial manusia. Lukisan Denny JA itu seakan menunjukkan kepada semua orang bahwa “ini lho kamu!”

Apakah berpura-pura itu etis? Dari sudut pandang etika deontologi Immanuel Kant, suatu perbuatan adalah baik jika dilakukan atau harus dilakukan karena kewajiban. (Lorens Bagus, Kamus Filsafat, Jakarta: PT Gramedia Utama, 2005, hlm. 158).

Menurut perspektif deontologi, tindakan dianggap etis atau tidak etis berdasarkan kepatuhan terhadap aturan atau kewajiban moral tertentu. Berpura-pura seringkali melibatkan berbohong atau menyesatkan orang lain, yang dianggap salah secara moral menurut prinsip deontologis. Kewajiban untuk jujur dan transparan adalah dasar dari etika deontologi. Oleh karena itu, berpura-pura dianggap tidak etis.

Namun, sudut pandang Etika Utilitarianisme dari Jeremy Bentham pendiri utilitarianisme asal Inggris dikatakan bahwa apakah suatu tindakan benar atau salah secara moral bergantung pada dampaknya. Jika berpura-pura menghasilkan lebih banyak manfaat daripada kerugian, maka tindakan tersebut dapat dianggap etis. Misalnya, berpura-pura bahagia dalam situasi sosial tertentu dapat meningkatkan suasana hati orang lain. Namun, jika berpura-pura membawa dampak negatif yang lebih besar di masa depan, seperti hilangnya kepercayaan atau kerugian emosional bagi orang lain, maka itu dianggap tidak etis. Tidak ada jawaban yang sederhana atau universal karena banyak faktor yang harus dipertimbangkan.

Secara umum, kejujuran dan autentisitas dihargai dalam banyak tradisi etika, tetapi ada situasi di mana berpura-pura dapat dibenarkan jika tujuannya adalah untuk kebaikan yang lebih besar atau untuk melindungi orang lain dari kerugian. Misalnya, mengucapkan kata-kata sopan atau tersenyum meskipun sebenarnya sedang merasa tidak nyaman. Budaya Indonesia sangat menghormati hierarki, baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat. Orang sering berpura-pura menghormati atau menyetujui pendapat atasan atau orang yang lebih tua meskipun sebenarnya tidak sependapat, demi menjaga rasa hormat dan tidak menyinggung perasaan. Di era media sosial, banyak orang berpura-pura untuk membangun citra diri yang positif. Mereka mungkin mem-posting foto dan cerita yang hanya menunjukkan sisi terbaik dari kehidupan mereka, meskipun kenyataannya tidak selalu demikian. Ini dilakukan untuk mendapatkan pengakuan dan pujian dari lingkungan sosial mereka.

Berpura-pura dapat dilihat sebagai bagian dari interaksi sosial yang universal dan ada dalam berbagai budaya, termasuk di Indonesia. Fenomena ini bisa ditemukan dalam berbagai konteks, baik dalam hubungan personal, profesional, maupun dalam kehidupan sehari-hari. Namun, penting juga untuk menekankan bahwa kejujuran dan autentisitas adalah nilai-nilai yang harus dijaga. Berpura-pura secara berlebihan dapat merusak kepercayaan dan hubungan jangka panjang. Oleh karena itu, keseimbangan antara berpura-pura dan kejujuran perlu dijaga agar interaksi sosial tetap sehat dan bermakna. Jadi apakah berpura-pura itu menjadi budaya bangsa Indonesia?

(Nia Samsihono, Ketua Umum Satupena DKI Jakarta)

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *