Aksi Puluhan Ormas Tolak KeberadaanTBBR di Bumi Tambun Bungai Diwarnai Penandatanganan Petisi

0
275

Berita Merdeka Online, Palangka Raya – Puluhan Ormas Dayak berkumpul di Bundaran Besar Kota Palangka Raya Kalimantan Tengah melakukan Aksi damai penolakan atas keberadaan ormas Tario Borneo Bangkule Rajakng (TBBR) di Bumi Tambun Bungai diwarnai penandatanganan petisi penolakan, jum’at(26/11/2021)

Aksi yang dilakukan puluhan ormas ini melakukan Ritual Adat dengan menyembelih satu ekor sapi dan satu ekor Babi, sekaligus menyerahkan berkas penolakan tersebut kepada kepolisian polda kalteng yang diwakili kabagops polresta palangka Raya,Kabag Kesatuan Bangsa dan Politik(Kesbangpol)provinsi Kalteng dan DAD Kalteng yang mewakili.

Koordinator Aksi Bambang Irawan dalam orasinya dengan tegas menyatakan”kami yang bergabung puluhan ormas Dayak yang ada di kalteng hari ini berkumpul disini sebagai bentuk penolakan terhadap ormas TBBR di Bumi Pancasila Bumi Tambun Bungai karna kami merasa keberadaan TBBR di kalteng sangat meresahkan dan berpotensi justru membuat perpecahan atau kegaduhan,bukan seperti yang mereka sebutkan untuk mempersatukan bangsa/orang Dayak,tegas nya.

“Kami tidak benci dengan ormasTBBR,kami mensuport Ormas TBBR tapi kami tidak senang yang mana disetiap aksi dan pekerjaan mereka dilapangan sangat mengganggu dan berpotensi menimbulkan kegaduhan dan keributan dengan cara-cara yang selalu memamerkan kekuatan,kekebalan dengan menghunus-hunuskan mandau ke tubuh mereka yang mana tokoh-tokoh adat serta ormas yang hadir saat ini merasa gerah karna pada dasarnya mandau adalah senjata yang sangat sakkral serta ciri khas orang dayak yang seyogyanya tidak harus di pamer-pamerkan.

Para tokoh dan ormas yang tergabung dalam aksi ini juga memprotes keras atas apa yang di lakukan ormas TBBR tersebut yang membawa adat budayanya di bumi tambun bungai seperti memasang Pantak yang mana kami di kalteng tidak ada adat budaya tersebut,pungkasnya.

Seyogyanya,Dayak memang satu tapi Adat dan Budaya berbeda.

Dayak sudah bersatu yang dilakukan oleh para leluhur dan tokoh-tokoh adat saat perjanjian Tumbang Anoi pada tahun 1894,serta sudah disepakati”palsafah Huma Betang”yang artinya”Dimana Bumi Dipijak Disitu Langit Dijunjung”.

Bambang juga menambahkan,Ormas TBBR ini juga sampai aksi ini dilakukan seakan tidak patuh pada aturan administrasi ketata negaraan yang mana kita ketahui bahwa setiap ormas harus mendaftarkan keberadaannya di lembaga kesatuan bangsa dan politik(kesbangpol),ujar bambang.

Aksi penolakan terkait keberadaan TBBR ini berlangsung aman dan kondusif,Bambang juga mengucapkan terimakasih kepada institusi TNI/Polri yang sudah mengawal aksi ini sehingga berjalan lancar dan aman serta tidak mengganggu kamtibmas. (*)

Editor : Haruman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here