Jacob Ereste : Memasuki Alam Spiritualitas Yang Melintasi Batas-batas Duniawi yang Menghambat

0
2818

Beritamerdekaonline.com, Serang –Tat Twan Asi artinya aku adalah dia, dan dia adalah aku. Inti pokoknya sama dengan manunggaling kawulo lan gusti, yaitu bersatunya aku dengan Tuhan. Sehingga dalam pengembaraan spiritual seorang sufi berani mengatakan aku adalah Tuhan dalam pengertian tersublimasinya jiwanya yang menyatu dengan Tuhan, namun bukan bukan dalam arti fisik. Jadi sang sufi itu sendiri tidak dapat disembah oleh siapapun. Karena dia adalah manusia biasa yang tetap memiliki kekurangan-kekurangan dan masih sangag mungkin melakukan kesalahan.

Sedangkan Allah SWT yang diyakininya, adalah Maha Kuasa, Maha Pencipta dan Maha Sempurna seperti Tuhan menciptakan manusia, makhluk hidup lainnya hingga tumbuh-tumbuhan yang bosa dinikmati oleh manusia, baik secara langsung maupun sebatas pencercapan panca indra semata.

Karena seorang sufi yang telah berhasil mendekat kepada Tuhan tak berjarak sekalipun itu, hingga dia merasa berhak bertutur begitu akrab dalam sebutan antara Kau dan aku kepada Tuhan, tak berarti dia telah menjadi Tuhan, atau sekedar menganggap dirinya sebagai Tuhan. Sebab sifat dan sikap manusia dapat berubah-ubah, dan tidak kekal.

Biasanya, atas dasar keakraban tanpa jarak itu, kaum sufi pada umumnya yang menggunakan media sastra sebagak medium yang penghantar untuk masuk wilayah spiritual itu jadi sangat dominan mengekspresikan “cinta kasihnya” kepada Tuhan itu dalam gaya dan ekspresi pada umumnya kaum seniman. Bebas, merdeka seperti yang memukau WS. Rendra yang berhijrah dari agama leluhurnya untuk meyakini Islam, hanya karena kebebasan dan kemerdekaan dalam Islam yang dipahaminya lewat do’a yang bisa langsung dilakukan oleh setiap orang — tanpa perantara — kepada Tuhan.

Ingat puisi “Do’a” Chairil Anwar begitu lugas dan enteng berkata; Tuhanku/ dipintumu aku mengetuk/ aku tidak bisa berpaling. Jadi para kaum sufi yang dominan menggunakan sastra itu untuk datang ke rumah Tahun, lalu berdialog atau bahkan bersenda gurau bersama Tuhan, karena karya sastra bagi kaim sufi yang juga seniman itu, merasa lebih presisi memuat dedah puja-puji mereka atas segenap rasa syukur yang sulit dibahasakan atau digambarkan oleh kesenimanan mereka.

Bagi kalangan awam yang belum melewati tataran syariat, wajar saja acap tersesat di jalan terang. Bagi kalangan akademisi, tidak sedikit yang jadi sembelit hanya untuk memahami gelar dari kalangan Raja di keraton yang juga disebut sayidina khalifatulah panatagama. Demikian resume diskusi bersama Ketua Umum GMRI, Eko Sriyanto Galgendu sepanjang perjalanan safari keliling Jawa Barat dan Jawa Tengah, 2-5 September 2021.

Sebab sejatinya laku spiritual itu untuk kepuasan batin bersama Tuhan yang diyakini sebagai pencipta alam semesta serta seisinya. Karena itu, orang lain tak perlu repot untuk memahaminya, seperti keasyikan dari seorang yang sedang asyik khusuk berdoa, karena do’a yang dilafaskan itu pun lebih bersifat pribadi.

Kiranya begitulah dalam perjalanan spiritual untuk memasuki alam spiritialitas yang melintasi batas agama, profesi dan suku bangsa tanpa kecuali. Sebab laku spiritual adalah jalan pilihan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Dan semakin jauh berjalan melalui rambu spiritual, jauh dari hawa nafsu duniawi yang serba memabukkan, seperti yang dialami oleh banyak orang pada hari ini. Materialistik ! Gila jabatan, bahkan haus populeritas.

Penulis : Jacob Ereste

Banten 7 September 2021

Contoh Video di HTML

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here