Macron dan Ekstremisme

0
3027
Ketua PWI Provinsi Bengkulu Zacky Antony, S.H., M.H.

Oleh Zacky Antony

Beritamerdekaonline.com – HUBUNGAN Negara-negara muslim dengan Prancis memanas. Pidato Presiden Prancis, Emmanuel Macron adalah pemicunya. Macron membela sekulerisme di negaranya dalam wujud pembiaran dan dukungan terhadap penggambaran kartun Nabi Muhammad. Macron menjadikan kebebasan berekspresi sebagai dalil pembelaan tersebut. Dia juga menyebut Islam agama yang sedang mengalami krisis di seluruh dunia.

Pidato kontroversial itu disampaikan Macron merespon peristiwa sadis pada 16 Oktober lalu. Manuel Paty (47) seorang guru SMP mata pelajaran sejarah  diserang lalu dipenggal. Beberapa hari sebelumnya dalam kelas belajar Paty menunjukkan kartun Nabi Muhammad yang terbit di majalah Charlie Hebdo kepada murid-mudinya.

Charlie Hebdo memuat ulang kartun Nabi Muhammad yang pernah diterbitkan tahun 2015 silam. Pemuatan ulang itu untuk mengenang epik yang terjadi setelah kartun nabi itu muncul. Sejumlah pria bersenjata api menyerbu kantor redaksi Charlie Hebdo. Berondongan peluru mengakibatkan belasan awak redaksi Charli Hebdo tewas. Sempat melarikan diri, para pelaku kemudian berhasil ditangkap dan diadili.

Pemuatan kartun Nabi Muhammad sudah diketahui umum bakal memicu ketersinggungan di hati umat muslim seluruh dunia. Namun awak redaksi Charlie Hebdo tidak juga memahami aspek psikologis tersebut.

Pelaku pembunuhan atas Paty diketahui bernama Abdoullakh Anzorov (18), pria imigran Chechnya yang lahir di Moskow. Pelaku sudah ditembak mati oleh polisi yang sedang patroli tak jauh dari lokasi. Pembunuhan ini memicu aksi solidaritas. Besoknya ribuan warga Prancis unjuk rasa mengecam aksi ekstremis di negaranya.

Sampai di sini, persoalan sebetulnya masih terlokalisir pada oknum ekstremis Islam. Tak hanya warga Prancis, Negara-negara Islam yang tergabung dalam OKI juga mengecam aksi-aksi ekstremis yang mengatasnamakan agama Islam.

Namun persoalan  meluas, manakala Macron menyampaikan pidato. Substansi pidatonya saat pemakaman sang guru, seperti menyiram bensin ke dalam api ekstremisme. Bahkan menyulut kemarahan umat muslim di berbagai negara.  Macron menegaskan dukungannya atas penggambaran karikatur Nabi. “Kami akan lanjutkan pak guru. Kami tak akan menarik gambar karikatur itu,” kata Macron dalam bahasa Prancis.

Pidato Macron telah menyulut sentimen anti Prancis. Kekhawatiran ekstremisme bakal bangkit mulai terbukti. Kamis (29/10) atau selang dua pekan setelah peristiwa Paty, teror pemenggalan kembali terjadi di Nice Prancis. Tiga orang tewas. Buntutnya, umat muslim di Prancis diminta tidak merayakan Maulid Nabi Muhammad yang bertepatan harinya dengan hari kejadian.

Charlie Hebdo bukanlah surat kabar pertama yang memuat karikatur Nabi Muhammad. Jauh sebelum itu, surat kabar Denmark Jylland Posten juga pernah memuat kartun Nabi Muhammad pada edisi 30 September 2005. Ada dua belas karikatur yang dibuat kartunis Kurt Westergaard. Karikatur Nabi pernah juga dimuat di surat kabar Magazinet (Norwegia) pada 2006, disusul surat kabar Die Welt (Jerman) dan France Soir (Prancis). Charlie Hebdo sendiri pernah memuat karikatur Nabi pada 2006, 2011, 2012 dan 2015 yang berujung penyerangan kantor redaksi.

Sama seperti sekarang, protes terhadap Jylland Posten yang memuat karikatur merebak di berbagai Negara muslim. Di Arab Saudi, Kuwait, Irak, Iran, produk-produk Denmark diboikot. Kedubes Denmark di Suriah dan Lebanon dibakar massa. OKI dan Liga Arab juga mengecam pemuatan karikatur Nabi tersebut dan mendesak pemerintah Denmark meminta maaf dan menindak pemimpin Jylland Posten.

Pidato Macron sebetulnya senada dengan apa yang pernah disampaikan PM Denmark, Anders Fogh Rasmussen ketika itu. Anders Fogh Rasmussen menolak meminta maaf dengan alasan kebebasan pers. Namun dia pandai memakai bahasa diplomasi dengan tidak menunjukkan dukungan atas pemuatan karikatur tersebut. “Pemerintah tidak akan memintaa maaf, karena pemerintah tidak mengontrol surat kabar. Tapi saya menghormati penganut agama. Tentu saja saya tidak akan pernah memilih menggambarkan simbol keagamaan dengan cara tersebut (kartun),” katanya.

Kehebohan mereda. Meskipun ancaman-ancaman dalam skala kecil terhadap Jylland Posten masih terjadi. Sang kartunis bahkan terpaksa meminta perlindungan karena diancam akan dibunuh.

Ini berbeda dengan Macron yang secara jelas menunjukkan dukungan atas pemuatan atas karikatur Nabi. Bahkan kalau dicermati kata-katanya, Macron juga akan membiarkan pemuatan karikatur itu terus berlanjut di Prancis. Bahasa diplomasi yang dipakai Macron sangat mungkin dipengaruhi suasana batin atas pembunuhan terhadap Paty. Namun dia lupa, bahwa persoalan sensitifitas terhadap sebuah agama, akan berkait erat dengan ratusan juta bahkan miliaran orang yang ada di dunia. Sensitifitas tersebut bila tidak dikelola secara bijak, berpotensi menimbulkan benturan yang lebih besar antar umat beragama.

Benar saja. Aksi protes dalam wujud kecaman dan aksi turun ke jalan terjadi di berbagai Negara muslim. Protes sangat keras diantaranya dilontarkan Presiden Turki, Reccep Tayyib Erdogan dan PM Pakistan, Imran Khan. Selain Turki dan Pakistan, protes terhadap Macron juga terjadi di Arab Saudi, Libya, Maroko, Bangladesh, Iran, Kuwait, Qatar, Yordania, Palestina dan Indonesia.

Protes juga berlanjut dengan aksi boikot atas produk-produk Prancis. Di Banglades, Arab Saudi, Suriah, Pakistan, gambar Macron dibakar. Krisis diplomasi Negara-negara muslim dengan Prancis kali ini lebih buruk dari krisis yang terjadi dengan Denmark pada 2005. Macron yang lahir 21 Desember 1977 mungkin tidak menyangka pidatonya akan berujung kemarahan umat muslim. Tapi itulah risiko diplomasi. Beberapa  pihak menilai Macron memang masih sering dikuasai emosi dalam berdiplomasi. Ini boleh jadi karena faktor kematangan seorang pemimpin. Dia masih sangat muda saat menjadi presiden. 39 tahun. Dan menjadi presiden termuda dalam sejarah Prancis, mengalahkan rekor Napoleon Bonaparte, 40 tahun saat menjadi presiden.

Membangun perdamaian dunia harus dilandasi satu syarat mutlak. Tanpa syarat itu, perdamaian dunia hanyalah omong kosong. Syarat itu adalah saling pengertian, memahami perbedaan satu sama  lain. Saling pengertian tersebut tak hanya bersifat tekstual, tapi juga kontekstual. Pemuatan kartun Nabi Muhammad merupakan salah satu wujud tidak adanya saling pengertian tersebut. Pernyataan-pernyataan seorang pemimpin seperti Macron telah merusak sebuah upaya tanpa henti dari para pemimpin dunia lainnya untuk meredam ekstremisme dan terorisme.

Pada akhirnya kita harus menegaskan bahwa kebebasan bukanlah cek kosong bagi manusia. Agama hadir sebagai pengingat sekaligus pembatas bagi kebebasan tersebut melalui norma-norma yang berlaku. Karena itu, kebebasan pers sebagai bagian dari kebebasan berekspresi, harus berdiri di atas penghormatan atas perbedaan keyakinan umat beragama, perbedaan budaya, warna kulit, dan bahasa. Inilah namanya jurnalisme multikultural.

Konsep jurnalisme multikultural ini diadopsi UU Pers kita seperti diatur pada pasal 5 ayat (1) bahwa pers nasional berkewajiban memberitakan peristiwa dan opini dengan menghormati norma-norma agama dan rasa kesusilaan masyarakat serta asas praduga tidak bersalah. Ini yang membedakan jurnalisme Barat yang dianut Charlie Hebdo yang menganggap kebebasan pers tidak memiliki batasan apapun.

Penulis adalah Ketua PWI Provinsi Bengkulu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here