Mewujudkan Masyarakat Literat Melalui Pendidikan Aksara

0
3995

Aceh Selatan, beritamerdekaonline. Com – Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 menjelaskan bahwa pendidikan diselengarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjujung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultur, dan kejemukan bangsa. Pendidikan diselengarakan secara demokratis dan berkeadilan mengandung makna bahwa menyebarkan pendidikan untuk semua masyarakat merupakan tanggung jawab semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa setiap warga negera mesti mendapatkan hak pendidikan. Jika hak dasar tersebut telah didapatkan, tentu akan selaras dengan pertumbuhan dan pembangunan manusia itu sendiri.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi telah melakukan berbagai upaya dalam penuntasan buta aksara di seluruh pelosok daerah di Indonesia. Hal tersebut terlihat dari lahirnya target untuk menurunkan jumlah buta aksara menjadi kurang dari 1% pada tahun 2024 dan menjadi 0,5% pada akhir tahun 2030. Upaya tersebut tentu berangkat dari bahwa pendidikan merupakan hak dasar yang harus diterima oleh setiap orang. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik pada tahun 2019, menunjukkan bahwa masih terdapat 1,78 persen masyarakat Indonesia yang buta aksara. Jumlah tersebut lebih kecil dibandingkan pada tahun 2011 yaitu sebanyak 4,63 persen. Walaupun jumlah buta aksara setiap tahun menurun, kita tetap harus hadir pada setiap orang yang masih terkurung dalam kebutaan aksara. Walaupun yang tersisa satu orang, kita harus mendampingi hingga tuntas.

Menjadi Relawan

Sebagai masyarakat terdidik, sangat perlu berjanji pada diri sendiri untuk tetap mendidik walaupun profesi bukan sebagai pendidik. Janji ini sangat penting untuk tanamkan pada diri sendiri oleh semua pihak, karena mencerdaskan kehidupan bangsa adalah kewajiban setiap anak bangsa. Jiwa kita harus terpanggil untuk terlibat dalam penuntasan buta aksara secara suka rela. Hal sederhana yang dapat dilakukan adalah dengan mensosialisasikan kepada masyarakat agar dapat mengikuti kegiatan kelas pendidikan aksara yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan atau yang diselenggarakan oleh berbagai relawan pendidikan.

Jika merujuk pada sejarah, angka buta aksara di Indonesia pada awal-awal kemerdekaan mencapai 97 persen. Pada saat ini, tahun 2020 angka tersebut terus bergerak melandai dengan jumlah 1,7 persen atau sekitar 3,2 juta orang. Keberadaan buta aksara sangat berpengaruh pada perkembangan bangsa Indonesia untuk maju sebagai negara nomor 4 ekonomi terkuat di dunia. Bangsa Indonesia tidak akan pernah maju jika hanya mengandalkan kekayaan sumber daya alam tanpa mengedepankan sumber daya manusia. Untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukaN berbagai upaya, salah satunya adalah dengan melibatkan diri sebagai relawan dalam penuntasan buta aksara.

Dengan hadirnya relawan, maka masyarakat yang masih mengalami buta aksara di daerah-daerah terpencil mendapatkan akses pendidikan aksara dengan mudah. Jumlah pendidik tentu akan bertambah dengan hadirnya relawan, sehingga permasalahan kekurangan pendidik dapat teratasi. Relawan harus menjadi pengerak utama bagi masyarakat di daerah terpencil dan menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah.

Upaya yang dapat dilakukan relawan di daerah adalah dengan membetuk komunitas yang bergerak dibidang pendidikan aksara secara gotong royong bersama masyarakat setempat. Selain itu, hal lain yang dapat dilakukan relawan adalah memanfaatkan teknologi sebagai media dalam proses pembelajaran, sehingga dapat memudahkan para pembelajar untuk memahami materi yang disampaikan serta melakukan kerja sama dengan komunitas-komunitas yang serupa dari berbagai daerah yang ada diseluruh Indonesia, sehingga relawan dapat mendapatkan dukuangan dan strategi dalam penuntasan aksara dari teman-teman komunitas lain. Salah satu yang dapat diundang untuk menjalin kerja sama adalah Forum Taman Bacaan Indonesia.

Masyarakat Literat

Menjadi masyarakat yang literat merupakan cita-cita semua pihak, karena melalui literasi masyarakat akan mengerti berbagai strategi dalam menyelesaikan permasalahan yang dialaminya dalam kehidupan sehari-sehari. Pendidikan aksara tentu akan mengantarkan masyarakat menjadi masyarakat yang literat, sehingga kemampuan masyarakat dalam bangkit dari kemiskinan akan meningkat, mampu menciptakan suasana damai di tengah-tengah masyarakat, pemahaman terhadap literasi digital akan tumbuh, jumlah masyarakat yang hidup dalam keadaan sehat meningkat, jumlah pengguna narkoba melandai, kekerasan terhadap anak dan perempuan akan tuntas, masyarakat akan hidup dengan rasa penuh toleransi dan mampu menerima ide yang berbeda, dan pada akhirnya Indonesia akan menjadi bangsa yang maju di setiap sektor.

Jika semua pihak telah merasa memiliki tanggungjawab terhadap pendidikan aksara, maka cita-cita Bapak pendiri bangsa untuk mensejahterakan masyarakat akan tercapai dalam waktu yang lebih cepat. Mari bergerak dari sekarang. Sudah saatnya kita bergerak secara bersama-sama dalam menyelesaikan permasalahan keaksaraan. Turun ke tengah-tengah masyarakat, menjadi relawan yang aktif dan kreatif. Lakukan karena inisiatif, mulai lakukan tanpa harus menunggu arahan dan mulailah untuk terlibat. Lakukan dari hal kecil, sebarkan informasi-informasi yang berkaitan dengan pendidikan aksara. Buta aksara tuntas, Indonesia Maju.

Oleh : Mahlianurrahman, Penggerak Bintang Sekorong

Contoh Video di HTML

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here