Sambut Maulid Nabi, Warga Kaliwungu Kendal Gelar Tradisi Weh-wehan

0
953

KALIWUNGU, Beritamerdekaonline.com – Untuk menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW, warga di wilayah Kaliwungu Kabupaten Kendal Jawa Tengah merayakannya dengan cara yang unik, yaitu saling bertukar makanan atau biasa disebut dengan weh-wehan.

Tradisi tersebut digelar hanya setahun sekali dan dilaksanakan pada saat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

Layaknya hari raya lebaran, tradisi weh-wehan selalu dinanti-nanti setiap tahunnya, karena acara ini tidak ada di daerah lain. Suka cita anak-anak pun terlihat saat acara saling tukar makanan sedang berlangsung.

Berbagai jenis makanan tradisional khas Jawa Tengah dan modern disajikan dalam tradisi ini diantaranya lontong opor, lontong petis, Gono, siomay, aneka jenis roti, aneka buah-buahan, aneka jenis jajanan anak-anak, aneka minuman anak-anak dan masih banyak lagi.

Ghufron Mustofa (34), warga Kuwayuhan Kelurahan Nolokerto, Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kendal mengatakan, tradisi ini hanya ada setahun sekali dan hanya ada di Kaliwungu.

“Acaranya hari ini tadi dimulai jam 1 sampai jam 8 malam. Weh-wehan hanya ada setahun sekali pada waktu memperingati hari maulid Nabi Muhammad SAW dan tradisi ini hanya ada di Kaliwungu, di tempat lain tidak ada,” terangnya kepada Beritamerdekaonline.com, Rabu (28/10/2020).

Menurut Ghufron, acara weh-wehan ini ada sejak dulu dan sudah menjadi tradisi turun temurun masyarakat Kaliwungu. Menurutnya, weh-wehan mempunyai makna saling berbagi dan memberi serta mempererat tali silaturahmi. Kegiatan ini tentu sangat bermanfaat sekali bagi kehidupan bermasyarakat terutama untuk anak-anak, karena didalamnya terkandung makna saling berbagi dan membantu satu sama lainnya.

Dalam tradisi ini, ada beberapa makanan khas Kaliwungu yang selalu ada setiap acara digelar, diantaranya Lontong petis dan sayur Gono (sayur yang bahan dasarnya terbuat dari kluweh, tahu, tempe, kacang tolo dan serundeng yang dicampur jadi satu dengan bumbu-bumbu yang khas).

Lebih lanjut Ghufron menerangkan, cara bertukar makanan antara desa satu dan lainnya berbeda-beda. Ada yang dikumpulkan lalu ditukar-tukarkan, ada juga yang diantarkan ke rumah-rumah.

“Kalau di sini posisi saling tukar gak ada, cuma diantarkan ke rumah-rumah. Misal si A nganter ke rumah si B, terus si C nganter ke si D, dan begitu sebaliknya dan di tempat lain juga ada yang dikumpulkan terus saling tukar di tempat,” ucapnya. (Alim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here