Temukan Jati Diri ‘Dewa 19’ dalam Totalitas Manajemen

0
5297
Ilustrasi, Foto Istimewa

Jakarta, beritamerdekaonline.com – Jelang pertengahan tahun ‘80-an adalah sebuah awal pertumbuhan grup musik di tanah air. Salah satu band fenomenal yang hingga saat ini masih eksis dan tetap digemari generasi milenial adalah Dewa 19 yang dibentuk pada tahun 1986 di Surabaya. Kelompok musik yang berasal dari teman-teman masa SMA ini selalu memperoleh penjualan album di atas 300.000 keping kaset. Data Wikipedia tentang diskografi Dewa 19 menunjukkan alur penjualan yang relatif naik secara fantastis.

Pada data album ada tertulis bahwa album Pandawa Lima 1997 terjual lebih dari 800.000 keping, Album Bintang Lima 2000, terjual lebih dari 1.700.000 keping, dan Cintailah Cinta, 2002 terjual lebih dari 1.400.000 keping. Tentang kesuksesan dan eksistensi band Dewa 19 juga dapat dilihat pada beberapa artikel Bintang Indonesia 28 Agustus 2009 berjudul “ 25 Album Terlaris Sepanjang Masa, Kompas.com 30 Agustus 2009 berjudul Band-band yang Tetap Bertahan, Bali Post, 29 Agustus 2009 berjudul Dewa Bertahan dengan Rasa Baru.

Lebih lanjut melalui saluran Wikipedia diskografinya, terdapat catatan penting prestasi demi prestasi Dewa 19 dapat dirunut sepanjang tahun 1992 hingga tahun 2009 dari segi-segi musisi produktif, penjualan album, video klip, proses rekaman, penataan dan kualitas musik, album terbaik, artistikal cover album, dan lain sebagainya. Penghargaan-penghargaan itu datang dari berbagai elemen industri musik tanah air seperti PWI, perusahaan rekaman, dunia hiburan dan bisnis, serta penghargaan dari luar negeri seperti MTV Asia dan Platinum dari Singapura.

Perubahan Menjadi Kata Kunci. Konsistensi meraih prestasi gemilang seperti yang ditunjukkan Dewa 19, menarik untuk dikaji bagaimana konsep musikal Ahmad Dhani. Seperti yang sudah sering diketahui, rujukan musik Dewa 19 adalah grup musik asal Inggris, Queen, selain The Beatles.

Salah satu hal yang ingin penulis kupas di sini bahwa Ahmad Dhani memandang dan mengkonsep, band bukan sebagai legenda semata tetapi lebih dari itu adalah sebagai sebuah lembaga atau organisasi profesional. Lebih tepatnya sebagai industri yang dikelola dalam manajemen profesional. Karena musik/band adalah industri profesional, adaptasi terhadap perubahan adalah kata kunci yang harus dilakukan. Perubahan yang berisiko penggantian personil guna mencapai tujuan, baik kualitas maupun segi komersial dapat terjadi.

Sepak terjang, Ahmad Dhani dalam mengelola band Dewa 19 nampak bahwa unsur perubahan harus selalu dilakukan. Nampaknya Dhani mencermati apa yang terjadi pada The Beatles atau Queen yang melakukan perubahan musikalnya. Oleh karena itu, musik kedua grup legendaris itu berkembang. Di Indonesia pun terjadi demikian seperti Koes Plus yang mengalami lompatan signifikan secara musik dari Koes Bersaudara. Dhani menunjukkan kerja kerasnya dengan rajin melakukan kajian reflektif terhadap album-album yang telah dihasilkannya.

Ia melihat sisi kekurangannya secara menyeluruh, kemudian melakukan pembenahan. Pembenahan itu sampai pada keputusan-keputusan ekstrem dengan mengganti personil untuk mewujudkan idealismenya. Dalam pergantian itu, dapat dilihat misalnya Dhani mengganti drummer pertama, Wawan Juniarso, kemudian mengganti Wong Aksan, hingga Tyo Nugros yang digantikan Agung. Pergantian itu memang membuahkan hasil yang signifikan. Dari tangan Wong Aksan yang jazzy, menuju gaya yang lebih ngerock dan variatif oleh Tyo Nugros. Pergantian yang sangat mencengangkan adalah dengan hadirnya vokalis baru Once Mekel yang semula diragukan namun justru menjadi berkah kesusksesan besar. Demikian juga pergantian bassist Erwin Prasetya oleh Yuke dengan gaya permainan yang labih dinamis dan taktis.

Inovasi, Pergantian yang selalu dilakukan itu menunjukkan pula bahwa Dhani sebagai pemimpin selalu ingin menawarkan kebaruan dalam setiap karya yang dihasilkan. Dhani seakan tidak ingin karyanya berhenti pada titik tertentu sebab dengan berhenti pada pola tertentu berarti adalah stagnasi yang dapat menimbulkan kejenuhan pasar.

Sebagai contoh, ketika album Pandawa lima sukses besar di pasaran dengan lagu Kirana, Dhani tidak menjadikan album itu sebagai pola/model musik dan lagu Dewa. Dhani terus melakukan kebaruan dalam berkarya, sehingga menghadirkan karya yang selalu segar bagi masyarakat. Seakan, perubahan revolusioner yang dilakukan Ahmad Dhani bisa dianggap perlakukan yang kurang manusiawi. Namun bagi Ahmad Dhani tidak. Pergantian dalam rangka pembaruan menuju pencapaian sukses menyeluruh baik segi kualitas dan komersial adalah sebuah keniscayaan. Dalam arus kecepatan perkembangan dunia industri musik dan ketatnya kompetisi, dua segi yang menjadi tujuan tersebut mutlak dicapai. Dhani seakan ingin membuat Dewa selalu sukses dan menutup perjalanan Dewa secara anggun. Ini adalah impian Dhani. Sekalipun perubahan itu akan menuai korban, dalam dunia bisnis yang mengindustri dan profesional yang merupakan konsekuensi logis.

Total quality Management. Jelas, Ahmad Dhani mengekspresikan seluruh gagasan keseniannya melalui manajemen musik sebagai industri yang harus dikerjakan secara profesional. Pergantian personil yang dilakukan memperlihatkan kesadaran Ahmad Dhani bahwa band sebagai realitas struktur harus dibangun oleh seluruh unsur yang mampu memberikan kontribusi bagi tercapainya tujuan. Dengan demikian, Dhani menerapkan konsep manajemen kualitas total/ ‘total quality management’, dimana setiap anggota band harus merupakan personil terbaik sehingga mampu berkontribusi untuk mencapai kualitas produk berjangka panjang. Konsep manajemen kualitas total dalam bermusik ini penting untuk menciptakan lagu dan musik yang bermutu sekaligus mampu melintasi kekini sehingga akan menjadi karya seni yang abadi. Jika ada sekecil elemen yang dinilai tidak memenuhi ekspektasi, Dhani tak segan-segan akan mengeliminasi faktor tersebut terutama dari unsur musik yang melibatkan para personilnya. Sekali lagi, ‘reshuffle’ ala Ahmad Dhani pun dilakukan. Menjadi yang terdepan dan terbaik adalah keinginan Ahmad Dhani.

Perkembangan Lirik Lagu. Keberhasilan Dewa 19 juga didukung oleh lagu dengan gagasan yang berkembang ke arah lirik filsafati.

Karya seni yang baik selalu memunculkan permasalahan hidup manusia. Dalam hal itu, sejak album Bintang Lima, lirik-lirik lagu Dewa merupakan pencarian terhadap problem manusia yaitu tentang haikat manusia dan cinta. Cinta bukan melulu tentang perasaan jatuh cinta dan puja-puji semata, melainkan mencoba memahami cinta secara ontologis dan bagaimana manusia menghadapinya. Persoalan-persoalan ini nampak dalam lagu-lagu dalam album Bintang Lima itu di samping persoalan hidup itu sendiri. Ketika mencari sebab itulah, Dhani menemukan siapakah sejatinya manusia itu. Melalui tema cinta, lirik lagu Dewa 19 tidak sekadar berupa persoalan jatuh cinta tetapi mencari akar-akar hakikat cinta dan kesiapaan manusia. Dengan demikian, lirik Dewa bersifat eksistensialisme, bukan cinta yang sekadar mendayu-dayu, memuja-muja melulu, atau merengek-rengek.

Dalam hal ini Dhani sangat pintar ‘membenturkan seluruh insan dari semua kalangan dan jenis kelamin terhadap persoalan cinta dan kehidupan. Benturan inilah yang menjadi daya tarik karya-karyanya. Pada album solo dalam lagu “Kuldesak “ secara eksplisit Dhani menunjukkan keseriusannya dalam mengupas tuntas siapakah manusia, bagaimana relasi manusia sebagai ciptaan yang terbatas dan Tuhan sebagai pencipta yang tak terbatas. Dalam proyek lagu bersama Indra Lesmana berjudul “Manusia” Ahmad Dhani lagi-lagi berusaha menelanjangi dirinya sebagai insan yang punya keterbatasan. Hal itu menunjukkan betapa Ahmad Dhani mencapai tahap-tahap ke arah sufisme dan menjadi kedalamannya.

Idealisme dan Komersialisasi. Dalam karya seni dan sastra, ukuran mengenai karya yang baik atau indah ada ukuran tertentu di satu sisi namun juga bergantung pada pendekatan yang digunakan untuk menilai sebuah karya. Bahkan di dalam perkembangan teori sesi sastra, hal indah atau baik bergantung kepada kompetensi masyarakat pembaca dalam menanggapi sebuah karya. Dengan demikian aspek komunikasi adalah perkara utama karya seni. Karya seni apalagi, diciptakan untuk dikomunikasikan kepada masyarakat. Seniman musik mengharapkan karya-karyanya dapat diterima dengan baik oleh masyarakat secara luas. Keberhasilan ini tentu akan terkait dengan aspek kepuasan terhadap hasil karya itu sendiri dan terhadap segi komersialisasi.

Karya-karya Dewa 19 merupakan hasil dari idealisme berkesenian yang juga berorientasi pada masyarakat/pasar. Untuk mewujudkan itu, Dewa 19 meramu musik dan lirik lagu yang berkelas, namun juga yang mampu berkomunikasi dengan baik terhadap pendengar. Dengan itu, lagu dan musik yang ditawarkan, di samping berkualitas, juga mampu menembus masyarakat dalam rentang usia, jenis kelamin, dan kelas-kelas sosial dalam masyarakat. Karya Dewa 19 dengan lirik-lirik filsafati, lugas, dan musik yang modern dapat diterima oleh hampir semua kalangan. Lirik lagu Ahmad Dhani tidak patrilinear, tidak bernuansa bias gender/subdordinasi terhadap perempuan tetapi menjadi milik semua kaum baik laki-laki maupun perempuan. Jika sedang berbicara tentang cinta, itu bukan hanya kaum laki-laki yang sedang mengagumi para pria, tetapi melibatkan keduanya. Alhasil, Dewa 19 menjadi milik kaum laki-laki dan perempuan dalam subjek yang sama. Jadi dapat dikatakan, jika grup musik lain menjadikan perempuan sebagai objek, Dewa 19 justru menempatkan sebagai subjek yang sama-sama terlibat dalam persoalan cinta.

Jika grup lain mengungkapkan cinta dengan bahasa simbolis dan tata rias diksi, Dewa 19 mengungkapkan dengan lugas tanpa meninggalkan cita rasa stilistikanya dan bobot pesannya. Dengan resep itulah Dewa 19 meraih sukses artistikal lagu yang berkualitas sekaligus sukses komersialisasi.

Dalam Era Digital dan Pandemi. Karya-karya Ahmad Dhani dalam Dewa 19 merupakan perjalanan karya yang tidak bersifat final. Artinya meskipun tatanan musiknya dapat dikatakan mendekati kesempurnaan, ia tetap dapat diaransemen dengan warna baru khususnya oleh tangan pemiliknya. Oleh karena itu, karya tersebut dapat dinamakan sebagai sebuah situasi yang memiliki potensi dikembangkan. Ini sesuai dengan hakikat seni sebagai perubahan. Seni musik sebagai organisme yang hidup.

Dengan kemampuan yang dimiliki, dalam era digital dan pandemi yang mengakibatkan seniman enggan mengeluarkan album atau karya baru, Dhani memiliki ruang eksperimentasi pada karya-karya terdahulu untuk diketengahkan kembali dalam versi-versi yang baru. Sebagaimana telah terjadi, di tangan Ahmad Dhani, karya lagu dapat diaransemen.

Sebagai suatu contoh adalah Ketika Dhani mengaransemen ulang dan membawakan lagu KLa Project “Terpurukku Di Sini” yang menjadi lebih modern dengan sentuhan new wave tanpa meninggalkan karakter aslinya.

Konser virtual Dewa 19 menunjukkan eksperimentasi warna baru pada lagu-lagu lama Dewa 19, dan itu dapat dikatakan berhasil dengan karya-karyanya. Ahmad Dhani Bersama Dewa 19 hingga kini mampu bertahan di tengah badai yang membuat terpuruknya industri musik tanah air.

Capaian terbesar Ahmad Dhani bersama Dewa 19 hingga saat ini adalah buah dari kerangka kerjanya dalam konsep ‘total quality management’.

Format band sebagai sebuah realitas struktur harus ditangani dalam konsepg industri professional dengan memperhatikan koherensi antar unsur kualitas personil dalam mencapai tujuan secara idealisme berkesenian maupun komersialisasi. Apa-apa yang dikerjakannya bersama Dewa 19 sebagaimana telah terjadi dapat menjadi referensi berharga dalam mengkonsep dan menggarap kerjakan sebuah band.

(Abednego Tri Gumono, Dosen Sastra Indonesia Universitas Pelita Harapan (UPH), Tangerang dan Anggota Dewan Penasihat APPBIPA Banten)

Contoh Video di HTML

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here