Webinar Moderasi Beragama, Ajak Generasi Muda Tumbuhkan Semangat Toleransi

0
385

KENDAL, Beritamerdekaonline.com – Mahasiswa KKN UIN Walisongo posko 96 mengadakan webinar bertajuk “Urgensi Moderasi Beragama bagi Milenial sebagai Agent of Peace” via zoom, Kamis (8/11/2020).

Webinar tersebut mendatangkan Dewi Praswida sebagai Narasumber. Seorang gadis muslim pegiat lintas agama yang fotonya sempat viral karena bersalaman dengan Paus Fransiskus pada tahun 2019 lalu.

Sebanyak 87 peserta dari berbagai latar belakang mulai dari tokoh agama, tokoh masyarakat, akademisi, LSM, serta masyarakat umum hadir mengikuti acara webinar.

Tujuan diadakannya acara tersebut adalah untuk menekankan pentingnya sikap moderat sebagai upaya untuk membangun perdamaian.

Dewi Praswida membuka acara dengan pemaparan mengenai sikap moderat yang menurutnya, merupakan proses setiap individu untuk memahami sekaligus mengamalkan ajaran agama.

“Moderasi beragama merupakan proses memahami sekaligus mengamalkan ajaran agama secara adil dan seimbang, agar terhindar dari perilaku ekstrem atau berlebih-lebihan saat mengimplementasikannya,” jelas Dewi.

Kemudian gadis kelahiran Wonogiri itu juga menekankan tentang pentingnya sikap moderat untuk menghindari konflik.

“Tentunya dengan sikap moderat yang berada di tengah-tengah tidak memihak kepada siapapun dan dapat menerima segenap perbedaan menjadi upaya penting untuk meminimalisir intoleransi yang masih kerap terjadi di Indonesia.” terangnya

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa sebagai Negara dengan banyak keberagaman mulai dari suku, bahasa, budaya bahkan agama, rakyat perlu menerapkan sikap moderat agar persatuan dapat semakin erat.

Para peserta webinar sangat antusias dengan topik yang dibawakan. Sebagian besar peserta menyoroti pada sikap fanatik yang berlebihan serta perbedaan pandangan dalam beragama.

Dewi berharap dengan adanya kegiatan ini, generasi milenial dapat berpartisipasi dalam mewujudkan perdamaian dan menghargai perbedaan antar umat beragama.

Selain itu, ia juga kembali mengingatkan agar generasi milenial menjadi orang yang kritis dan bijak di tengah arus informasi yang deras.

“Menjadi orang yang kritis dan bijak dalam memilah informasi juga perlu untuk menghindari informasi hoax,” tandasnya.

Nafil, koordinator acara menyatakan kekhawatirannya terhadap masalah intoleransi yang melanda, ia menyorot generasi muda yang terkadang rawan terpancing.

“Apalagi generasi muda ya, mereka diharapkan mampu memberikan pengaruh positif sebagai agent of peace (agen perdamaian) di tengah masyarakat yang plural,” ungkap nafil.

“Ini penting dipahami, karena moderasi beragama dapat mewujudkam toleransi yang pada akhirnya menciptakan perdamaian di tengah masyarakat,” pungkasnya. (DIDIK)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here