Beritamerdekaonline.com, Redelong – Intensitas turunnya hujan akhir akhir ini menyebabkan bencana berupa Longsor, air meluap bahkan Abrasi sungai dan amblas jalan terjadi di mana-mana mana, tidak terkecuali Bener Meriah bertofografi berbukit, lembah dan rumah masyarakatnya terletak di lereng – lereng gunung.

Terjadinya Abrasi sungai pesangan di Kampung Rembele perbatasan Jamur Ujung, Kecamatan Wih Pesam, Kabupaten Bener Meriah sangat mengkhawatirkan masyarakat disepanjang sungai tersebut hal ini karena ada 21 unit rumah warga di daerah tersebut terancam amblas.

Bahkan, dari 21 rumah warga tersebut, 6 (enam) unit diantaranya bagian belakang (dapur) sudah mulai terkikis dan terancam amblas ke Daerah Aliran Sungai (DAS) Peusangan.

“Rumah bagian dapur saya sudah terkikis oleh derasnya air sungai, bahkan bagian kamar mandi sudah hampir ambruk ke sungai tersebut,”kata Dasa Yushelmi, kepada kepada media ini Selasa (9/11/2021)

Disebutkannya, selain rumahnya, lima rumah warga lainnya mengalami kondisi yang sama sudah terkikis bagian pondasi belakang. Jika tidak segera ditangani bisa saja rumah kami ini ambruk ke sungai.

Kondisi seperti ini membuat saya bersama Istri dan warga yang lain sangat khawatir, karena sewaktu-waktu derasnya air sungai tersebut terus menerus menggerus pondasi rumah kami.

“Kondisi ini tentu membuat kami khawatir dan was-was, sebab jika sungai itu meluap dapat merobohkan rumah kami.”ucapnya.

Bahkan, ayah dari tiga anak itu mengaku, ia bersama keluarga tidak berani tidur didalam rumah karena takut rumah mereka ambruk ke sungai. “Tadi malam kami sudah nggak tidur di dalam rumah, kami tidur di depan rumah kendati cuaca dingin,” ungkapnya.

Disebutkannya, pada tahun 2019 yang lalu juga sudah pernah terjadi bencana seperti ini mengakibatkan satu unit rumah warga Jamur Ujung ambruk dan terpaksa harus dibongkar sebahagian, hal itu untuk menghindari hanyut dibawa air sungai.

Menurutnya, Pemerintah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah ( BPBD ) dan Dinas PUPK Bener Meriah sudah pernah melakukan normalisasi terhadap sungai ini. Namun, sungai ini memang sangat deras normalisasi yang dibangun juga ambruk.

Untuk itu, Dasa berharap kepada Pemerintah Provinsi Aceh melalui instansi yang berwenang untuk membuat bronjong mengantisipasi abrasi sungai semakin parah.

“Jika bronjong tersebut tidak segara di bangun di bantaran sungai ini, maka ini menjadi ancaman untuk keselamatan warga yang ada disini. Untuk itu harapan kami segera di bangun bronjong tersebut untuk menghindari korban harta bahkan nyawa,” pungkasnya.

Menyadari akan bahaya yang mengancam nyawa dan harta masyarakat, Kalak BPBD Bener Meriah segera melakukan bantuan darurat, begitu juga tehnis terkait dari PUPR setempat.

Namun, bantuan secara permanen tidak bisa dilaksanakan karena wewenang DAS Peusangan ada di BWS (Balai Wilayah Sungai) Provinsi Aceh, kata Kalak BPBD Sufriadi.

Disebutkannya, bersama Dinas PUPR, pernah disurati dan ditanda tangani oleh Bupati Bener Meriah ke pihak BWS di Banda Aceh, awal Desember tahun 2020 silam, namun belum juga ditanggapi hinga saat ini,

Diungkapkannya, baru- baru ini, dirinya pernah mengadakan kontak dengan pihak BWS di Banda Aceh dengan bapak Jaya dan Bapak Eko Wiayanto, mereka akan hadir ke Bener Meriah untuk mengatasi persoalan DAS Peusangan tersebut, membicarakan Normalisasi dan rencana penanaman pohon di sepanjang bantaran sungai itu untuk mengatasi abrasi serta bahaya meluapnya air tersebut.

” jadi sebelum mereka tiba, kita berikan dahulu bantuan tanggap darurat kepada warga yang tinggal didaerah tersebut, bahkan kita sudah menurunkan alat berat, katanya.

Menurut kalak BPBD Bener Meriah ini, kita didaerah serba susah, kita tidak mau terjadi saling lempar tanggung jawab, sebab masyarakat tidak paham akan hal itu, yang disalahkan tetap pemerintah, terangnya

Oleh karena itu, yang bisa kita tangani akan kita tangani, tapi bersifat darurat tidak bisa permanen seperti yang diharapkan oleh masyarakat, Pungkasnya sembari menyatakan bila hal ini dibiarkan maka jalan Nasional melintasi Bener Meriah -Takengon dan Bireun serta Gayo Lues, Nagan Raya, akan putus, sehingga menggunakan jalan alternatif dan sangat sempit, ucapnya (Man)


Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.