Wonogiri, Berita Merdeka Online – Ratusan warga mendatangi SMKN 1 Puhpelem, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, pada Selasa (23/6/2026). Aksi tersebut dipicu oleh tidak diterimanya puluhan calon peserta didik melalui jalur domisili dalam proses Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ajaran 2026/2027.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, sedikitnya 35 calon siswa yang berasal dari wilayah sekitar sekolah tidak berhasil lolos melalui jalur domisili. Kondisi ini memicu kekecewaan para orang tua dan warga yang berharap anak-anak mereka dapat menempuh pendidikan di sekolah terdekat.
Dalam aksi tersebut, warga meminta pihak sekolah dan pemerintah terkait mencari solusi agar para calon siswa yang belum diterima tetap dapat mengenyam pendidikan di SMKN 1 Puhpelem.

Namun, pihak sekolah menyatakan tidak dapat mengakomodasi permintaan tersebut karena kapasitas penerimaan siswa baru telah mencapai batas yang ditentukan.
Kepala SMKN 1 Puhpelem, Choirul Hidayah, S.Ag., menjelaskan bahwa sekolah hanya menjalankan ketentuan penerimaan peserta didik sesuai aturan yang telah ditetapkan pemerintah.
“Kami tidak memiliki kewenangan untuk menambah kuota di luar ketentuan yang berlaku. Sekolah hanya melaksanakan mekanisme dan aturan penerimaan yang sudah ditetapkan,” ujarnya saat ditemui awak media.
Menurut Choirul, dalam sistem SPMB terdapat beberapa jalur penerimaan yang digunakan, yakni jalur domisili, jalur afirmasi, dan jalur prestasi.
Jalur domisili diperuntukkan bagi calon siswa yang berdomisili di sekitar sekolah dengan kuota sebesar 10 persen. Sementara itu, jalur afirmasi diberikan kepada peserta didik dari keluarga kurang mampu yang terdaftar dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) atau penerima Kartu Indonesia Pintar (KIP).
Polemik penerimaan siswa baru di SMKN 1 Puhpelem juga mendapat perhatian dari kalangan legislatif. Anggota Komisi B DPRD Jawa Tengah dari Fraksi PDI Perjuangan, Ari Santoso, menilai persoalan tersebut perlu mendapat solusi jangka panjang.
Saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Ari Santoso menyampaikan bahwa penambahan ruang kelas maupun gedung sekolah menjadi salah satu langkah yang dapat dipertimbangkan untuk mengatasi keterbatasan daya tampung.
“Solusi terbaik adalah penambahan ruang belajar atau gedung baru. Mungkin belum bisa direalisasikan saat ini, tetapi setidaknya pada tahun depan perlu ada penambahan fasilitas agar calon siswa dari jalur domisili dapat lebih terakomodasi,” kata Ari Santoso.
Kasus ini menjadi perhatian masyarakat karena menyangkut akses pendidikan bagi calon peserta didik di wilayah sekitar sekolah. Warga berharap pemerintah daerah dan instansi terkait dapat mencari solusi yang tepat guna mengantisipasi persoalan serupa pada proses penerimaan siswa baru di masa mendatang. (Kastomo)
Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.




Tinggalkan Balasan