MAGELANG,Berita Merdeka Online.Com – Upaya memperkenalkan inovasi budidaya bawang merah dari biji atau True Shallot Seed (TSS) terus dilakukan PT East West Seed Indonesia melalui kegiatan Farmer Field Day (FFD) varietas Merdeka F1 Cap Panah Merah. Kegiatan ini diikuti sekitar 150 peserta yang terdiri dari petani, penyuluh pertanian, dan pemangku kepentingan sektor pertanian di Rumah Makan Soto Seger Hj. Siti Salamah, Desa Gunungpring, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, kemudian dilanjutkan dengan kunjungan ke lahan percontohan. Sabtu (18/7).

FFD tersebut menjadi ajang berbagi pengalaman sekaligus mengenalkan teknologi budidaya bawang merah dari biji yang diklaim memiliki berbagai keunggulan, di antaranya toleran terhadap penyakit, menghasilkan umbi berwarna merah cerah, serta memiliki potensi produksi tinggi.

Bupati Magelang Grengseng Pamuji yang diwakili Puji Lestari, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Magelang, menyampaikan apresiasi kepada PT East West Seed Indonesia yang menghadirkan inovasi budidaya bawang merah di Kabupaten Magelang.
Menurutnya, sektor pertanian masih menjadi tulang punggung perekonomian daerah.

Berdasarkan data statistik, sekitar 75 persen wilayah Kabupaten Magelang merupakan lahan pertanian dan hampir sepertiga penduduknya menggantungkan hidup dari sektor tersebut.

“Potensi Kabupaten Magelang sangat besar, baik di sektor pertanian, pariwisata maupun UMKM. Kalau berbicara hortikultura, Kabupaten Magelang sudah dikenal luas sebagai daerah penghasil berbagai komoditas sayuran,” ujar Puji Lestari.

Ia mengaku sempat terkejut mengetahui bawang merah kini mulai dikembangkan di Kabupaten Magelang. Selama ini masyarakat lebih mengenal daerah tersebut sebagai sentra bawang putih, khususnya di wilayah Kajoran dan sekitarnya.

“Ini menjadi potensi baru yang perlu terus dikembangkan sehingga dapat memberikan nilai tambah bagi petani,” katanya.

Puji menegaskan, pesan Bupati Magelang adalah agar setiap pengembangan komoditas pertanian benar-benar memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan petani.

Menurutnya, peningkatan produksi harus diikuti dengan meningkatnya pendapatan petani sehingga manfaat pembangunan pertanian dapat dirasakan secara merata.

Ia juga menilai inovasi Merdeka F1 relevan dengan kondisi saat ini, ketika sebagian wilayah Kabupaten Magelang mulai memasuki musim kemarau bahkan telah mengalami dropping air bersih.

“Dari hasil diskusi dengan tim Panah Merah dan petani bawang merah, varietas Merdeka F1 ini ternyata tidak membutuhkan air terlalu banyak. Ini tentu menjadi solusi yang sesuai dengan kondisi musim kemarau sekarang,” ungkapnya.

Selain hemat kebutuhan air, Puji berharap teknologi budidaya bawang merah dari biji juga mampu menekan biaya produksi dan mengurangi kebutuhan tenaga kerja yang saat ini semakin sulit diperoleh.

“Yang penting nanti petani mengetahui berapa biaya produksinya, bagaimana SOP budidayanya, apakah benar lebih hemat tenaga dengan teknologi yang diterapkan. Kalau memang lebih efisien tentu sangat baik untuk dikembangkan di Kabupaten Magelang,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan bahwa peserta kegiatan tidak hanya berasal dari berbagai kecamatan di Kabupaten Magelang, tetapi juga diikuti petani dari wilayah Kabupaten Sleman.

Sementara itu, perwakilan PT East West Seed Indonesia menjelaskan bahwa perusahaan telah memiliki perjalanan panjang dalam mengembangkan bawang merah dari biji.

Pengembangan TSS telah dimulai sejak tahun 2007. Pada masa awal peluncurannya, teknologi tersebut sempat mendapat berbagai tantangan dan keraguan dari petani maupun pelaku pasar.

Namun melalui proses penyempurnaan secara berkelanjutan, akhirnya lahirlah sejumlah varietas unggulan seperti Lokananta Plus dan Merdeka F1.

Dalam sesi diskusi, petani Supardi menyebut beberapa varietas bawang merah dari Panah Merah yang kini mulai dikenal petani, di antaranya Lokananta, Santren, dan Merdeka.

Salah satu petani yang telah membudidayakan Merdeka F1, Satria Punjul, turut membagikan pengalamannya beralih dari budidaya cabai ke bawang merah TSS.

Ia mengaku sebelumnya menanam cabai, namun tingginya kebutuhan tenaga kerja saat panen membuat biaya produksi membengkak.

“Cabai membutuhkan tenaga yang sangat besar, baik saat perawatan maupun panen. Sementara bawang merah TSS jauh lebih efisien dari sisi tenaga kerja,” ujarnya.

Menurut Satria, alasan utama memilih bawang merah dari biji adalah karena benih TSS tidak membawa penyakit maupun hama bawaan sebagaimana risiko yang sering dijumpai pada benih umbi.

“Kalau menggunakan umbi kita tidak tahu riwayat bibitnya. Bisa saja membawa bakteri, jamur atau hama. Sedangkan TSS lebih aman dari sisi kesehatan tanaman,” jelasnya.

Ia juga menyebut harga benih TSS jauh lebih ekonomis dibandingkan benih umbi.

“Harga benih umbi saat ini bisa di atas Rp.50 ribu per kilogram, sedangkan benih TSS berkisar Rp.30 ribu hingga Rp.40 ribu sehingga biaya bibit bisa ditekan cukup besar,” katanya.

Satria menambahkan, kondisi tanah subur di Kabupaten Magelang justru menjadi keuntungan tersendiri bagi pengembangan bawang merah TSS.

Menurutnya, tanaman bawang merah hanya membutuhkan media tanam dengan kedalaman sekitar 15–20 sentimeter sehingga kualitas tanah Magelang sangat mendukung pertumbuhannya.

Ia mengaku mengelola lahan sekitar 3.000 meter persegi dengan kebutuhan tenaga kerja yang relatif sedikit dibandingkan komoditas lain.

“Efektivitas tenaga jauh lebih baik sehingga tidak terlalu bergantung pada banyak pekerja. Ini menjadi salah satu keuntungan budidaya bawang merah TSS,” pungkasnya.

Melalui kegiatan Farmer Field Day ini diharapkan semakin banyak petani di Kabupaten Magelang yang mengenal teknologi budidaya bawang merah dari biji sehingga mampu meningkatkan produktivitas, menekan biaya produksi, sekaligus memperkuat kesejahteraan petani di tengah tantangan perubahan iklim dan meningkatnya biaya usaha tani.(Candra)


Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.