JATENG, Berita Merdeka Online – Menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024 yang akan berlangsung pada November mendatang, ruang digital kerap menjadi ladang subur bagi penyebaran hoaks atau berita bohong. Hoaks sering kali dimanfaatkan oleh tim sukses untuk menyerang lawan politik mereka.
Berita bohong yang beredar di media sosial ini sengaja dibuat untuk mengacaukan dunia digital, dengan berbagai kepentingan dan tujuan yang berbeda-beda.
Menyikapi hal ini, Bakal Calon Bupati Brebes, Wahyu Surya Gading, SH, mengungkapkan bahwa salah satu upaya yang dilakukan timnya untuk mencegah dampak buruk dari maraknya berita palsu adalah dengan memperbesar narasi isu positif serta memanfaatkan jalur-jalur hukum yang tersedia.
“Ini adalah sesuatu yang harus kita lakukan agar publik mengetahui bahwa kita ingin membersihkan dunia media sosial untuk kebaikan kita semua, sehingga kita tidak terjebak dalam infodemi atau tsunami informasi,” ujar Bang Gading, sapaan akrabnya, Senin (5/8/2024).
Bang Gading juga mengimbau kaum intelektual media agar bijak dalam menciptakan isu, sehingga masyarakat mendapatkan informasi yang bersih dan menyehatkan, terutama menjelang Pilkada 2024.
“Masyarakat perlu berhati-hati dalam menerima informasi atau berita. Informasi harus melalui proses jurnalistik yang benar. Ketika menyebutkan nama dan foto figur, jangan hanya untuk kepentingan sepihak, karena dampaknya dapat merugikan diri sendiri, akun, serta media tersebut. Buatlah narasi pemberitaan yang sesuai dengan fakta di lapangan,” tegasnya.
Setiawan Wibisono, S.TH, Tim Sukses Bacalon Bupati bidang Intelektual dan Strategi, menambahkan bahwa penyebaran hoaks dan berita bohong dapat memunculkan kerawanan baru dan narasi-narasi yang sesuai dengan selera penyebar hoaks.
“Tidak hanya akun pasangan calon atau tim sukses yang dapat direkayasa, tetapi orang lain pun bisa melakukannya dengan mudah, sehingga muncul berita-berita yang menyesatkan publik,” jelasnya.
Menurut Setiawan, berita hoaks adalah risiko yang harus dihadapi oleh para kandidat, terutama pada momentum Pilkada 2024.
Niat intelektual pembuat berita bohong adalah menjadi acuan pokok perhatian atau sebagai mediasi hingga tercapainya nominal tertentu.
Karena peredaran nominal pada peristiwa Pilkada sangat besar, hal ini akan memunculkan berbagai teori dan siasat oleh para petualang politik atau pemburu isu untuk mendapatkan keuntungan secara sepihak.
Perhatian serius diperlukan ketika isu berita bohong muncul, karena berbagai cara diatur agar keberadaan isu tersebut seolah-olah menjadi nyata di mata masyarakat yang notabene mempunyai hak sebagai pemilih. (lim)




Tinggalkan Balasan