Lhoksukon, beritamerdekaonline.com – Kehidupan gajah sumatera terancam punah. Rusaknya habitat yang menyebabkan terjadinya konflik satwa dan manusia, ini merupakan kondisi nyata yang dihadapi Elephas maximus sumatranus saat ini.

Hal ini tentu di sebabkan oleh beberapa faktor diantaranya akibat pembukaan lahan baru yang terkadang tidak mengikuti tataruang yang ada dan juga pertambangan di kawasan lauser. Sehingga angka konflik gajah liar dan wargapun meningkat, minggu (4/7/2021).

Disatu sisi pembukaan lahan baru juga merupakan faktor untuk menunjang pertumbuhan ekonomi warga salah satunya di sektor perkebunan.

Populasi Gajah Di Aceh

Agus Arianto Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh mengatakan Untuk populasi Sumatera di Provinsi Aceh Sendiri saat ini berdasarkan data tahun lalu masih kisaran 500 sampai 550 ekor.

“Kemarin kita juga melakukan analisi data bersama lembaga Fauna Flora Internasional (FFI) kajian populasi juga melalui kotoran , tapi data itu belum kita peroleh masih analisis, dan untuk jumlah populasinya masih kita gunakan data yang lama yaitu kisaran 500 sampai 550 ekor populasi untuk seluruh aceh”, Jelas Agus.

Dirinya menambahkan hasil analisis kemarin masih kita lakukan kajian, yaitu melalui kotoran dan itu kita masukkan ke Lab. Apakah kotoran itu dari pengulangan individu yang sama, ken tidak hanya perjumpaan langsung karena kalau perjumpaan langsung agak sulit.

Pembukaan Lahan baru

Didalam penanganan konflik ada beberapa strategi yang kita gunakan , didalam hal ini tidak hanya BKSDA yang melakukan upaya penaganannya karena sebagian besar saat ini gajah-gajah liar tersebut tidak hanya berada didalam kawasan hutan tapi juga ada diluar kawasan hutan.

Oleh karena nya melalui SK Gubernur itu telah di bentuk Tim Koordinasi, tim satgas terpadu dalam hal ini yang melibatkan lintas sektoral yang diharapkan ikut berperan dalam upaya penanganan konflik yang terjadi, Terang Agus.

Nah Setiap pembukaan lahan baru maupun HGU , ya mereka harus mengikuti aturan dan tataruang yang ada dan kalau mereka tidak mengikuti aturan dan tataruang.

Misalkan kita sudah diskusikan itu tidak diperbolehkan misalnya dinas kehutanan sudah melakukan upaya-upaya misalnya saja daerah tersebut daerah perlintasan gajah, saat ada yang melakukan pengajuan izin untuk buat apa misalnya.

Kita sudah melakukan kajian dengan mempertimbangkan kesesuaian terhadap wilayah lintasan satwa liar itu sendiri .

Jadi kolaborasinya seperti itu yang coba kita lakukan dan mencoba memasukkan wilayah-wilayah jelajah tersebut kedalam tataruang, tidak hanya kawasan -kawasan hutan konservasi maupun hutan lindung tapi juga wilayah-wilayah pergerakan yang berada di diluar kawasan hutan.

Sehingga nanti bisa tertangani secara koonprehensif tidak hanya dari peran pihak BKSDA tapi juga dari pihak lainnya yang terlibat dalam penanganan konflik yang terjadi saat ini.

Dan nantinya disini ada pihak atau dinas terkait yang menyarankan agar melakukan penanaman tanaman yang memang tidak disukai oleh gajah, dan inilah bentuk kolaborasi yang bakal kita lakukan, Tutup Agus.

Keberadaan Gajah Jinak dan Kesehatannya Serta Penanganannya

Keberadaan Gajah jinak di aceh yang ditempatkan di 7 Conservation Response Unit  (CRU) seluruh aceh untuk meminimalisir angka konflik gajah dengan warga, namun belakangan ini keberadaan gajah jinak pun terancam karena tingginya angka serangan gajah liar terhadap gajah jinak.

“Sekarang ini ada sekitar 27 ekor gajah jinak yang tersebar di seluruh Aceh yang kita tempatkan di 7 Conservation Response Unit (CRU) di Aceh termasuk juga beberapa di Pusat Konservasi Gajah (PKG) Sare”, Jelas Kepala BKSDA Provinsi Aceh.

Pasca kematian empat ekor gajah jinak tahun 2020 lalu, Pihak BKSDA tidak akan melakukan penambahan lagi.

“Kita tidak akan melakukan penambahan , kecuali nanti kita membutuhkan daerah segar untuk regenerasinya, dan bukan tidak mungkin ya. Karena kita untuk pengambilan penangkapan apalagi untuk penanganan konflik itu tidak kita lakukan lagi”, Ucap Agus.

Saat ini kita lebih kepada translokasi dimana agar tidak terjadi konflik lagi, misalnya wilayah mana yang terjadi konflik makan akan kita lakukan penutupan dengan sistem barier dan gajah yang berada di luar barier akan kita giring supaya masuk kedalam areal.

Dirinya menambahkan barier itu adalah wilayah Gep-gep penghalang dengan berbasis alami , di wilayah cot Girek misalnya barier alaminya itu bagus seperti tebing-tebing terjal itu yang menghalangi gajah liar masuk keperkebunan ataupun pemukiman warga.

Namun disela-sela barie alami tadi masih ada gep-gep yang bisa membuat gajah-gajah liar keluar masuk perkebunan maupun pemukiman warga.

Nah gep-gep tersebutlah yang nanti akan kita coba tutup, misalnya gajahnya ada diluar maka akan kita giring masuk ke areal trans lokasi, Nah itulah yang bakal kita lakukan dimana Trans lokasi kita lakukan masih di habitat Alaminya yang berada di wilayah tersebut.

“saat ini kita masih melakukan pendataan berapa panjang Gep -gep yang dibutuhkan untuk meminimalisir konflik -konflik yang terjadi”, Ucap Agus.

pasca kematian empat ekor gajah jinak tahun 2020 lalu Agus menjelaskan bahwa kematian gajah tersebut disebabkan oleh beberapa faktor.

“Kematian gajah tersebut rata-rata karena diserang penyakit, ada yang memang penyakit yang sudah menahun dan ada juga imbas serangan gajah liar”, Kata Agus.

Kita secara rutin per tiga bulan sekali melakukan pengecekan cacing dan juga kesehatan lainnya.

saat ini kita mencoba membuat kandang sistem pagar pakek power fensing (Pagar Kejut) untuk melindungi gajah kita, Terang Agus.

Dimana sudah kita lakukan di beberapa tempat yang angka serangan gajah liar ke gajah jinak tinggi , seperti di bener meriah, di pidie sedang berproses.

Termasuk di aceh utara ini sudah ada lokasinya kita tinggal membangun mungkin tahun ini akan kita bangun, dan itu bentuk antisipasi serangan gajah liar terhadap gajah jinak.

Pakan Gajah

Penyediaan pakan gajah jinak sendiri itu disesuaikan dengan bobot tubuh , kita setiap hari berupaya memberikan baik yang ter alokasikan, untuk pakan tambahan dan juga pakan-pakan rutin lainnya dengan cara melakukan pengangonan, dan kalau untuk.kebutuhan buah-buahan , tebu itu kita beli, Jelas Kepala BKSDA Provinsi Aceh.

“Untuk anggaran pakan per ekor gajah itu relatif dan cukuplah untuk kebutuhan gajah saat ini, dan juga kita dibantu oleh mitra-mitra kerja kita”, Terang Agus. (zulkifli)


Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.