Lebong, Berita Merdeka Online — Dunia Pendidikan dianggap tidak lagi aman untuk dijadikan rumah kedua bagi anak-anak sekolah dasar. Pasalnya, Februari lalu Siswa kelas 6 SD alami patah tulang akibat bercanda dengan teman sekelasnya.

Akibat bercanda berlebihan serta minimnya pengawasan dari sekolah dasar di Kecamatan Lebong Atas Kabupaten Lebong ini, seorang siswa harus mengalami patah tulang dan hampir kehilangan harapan untuk cita-citanya.

Sebelumnya, siswa yang alami patah tulang sempat dibawa ke tukang urut oleh pihak sekolah dengan harapan dapat mengembalikan kondisi tangan korban ke bentuk semula.

Namun beberapa hari berselang, tukang urut justru menyarankan korban untuk melakukan rontgen ke rumah sakit Ujung Tanjung Kabupaten Lebong karena tidak sanggup menangani cidera siswa tersebut karena dianggap cukup parah.

Pihak keluarga siswa korban mengikuti saran yang diberikan tukang urut dan dirujuk ke bagian Orthopedi Rumah Sakit Tiara Sella Kota Bengkulu.

Namun, malang bagi keluarga korban karena tak dapat membawa anak mereka ke Rumah Sakit karena kendala biaya dan kurang pengetahuan terkait dengan informasi biaya pengobatan di rumah sakit tersebut.

“Kami sudah ada surat rujukan untuk bawa anak kami ke Rumah Sakit Tiara Sella, tapi kami tidak punya biaya. Ongkos dari Lebong ke Bengkulu sudah berapa. Saya berangkat juga tidak mungkin sendirian. Belum lagi biaya untuk obat dan vitamin. Itu kami tidak begitu paham,” ujar Ibu Korban saat diwawancarai awak media, Kamis (6/4/23).

Sebelumnya memang sudah ada surat perjanjian damai dari keluarga Siswa F. Tapi dalam surat tersebut disampaikan pertanggungjawaban keluarga Siswa F hanya hingga siswa korban dapat masuk sekolah.

“Pantas saja mereka menyuruh anak kami segera masuk, kalau anak kami sudah bisa masuk sekolah, berarti biaya pengobatan selanjutnya kami yang tanggung sendiri,” ujar Ibu Siswa A saat melihat surat damai yang ditandatangani oleh Bapak Siswa A yang hadir sendiri saat melakukan kesepakatan damai.

Sementara ini, Siswa A dirawat oleh Ibunya dan sesekali dibawa ke Desa Topos untuk diurut. Biaya transportasi untuk urut tersebut juga dinilai cukup berat bagi keluarga Siswa A.

“Biaya sekali berobat saja bisa sampai 500 ribu rupiah, karena ongkos mobil dari sini jauh dan cukup mahal. Sementara keluarga Siswa F juga keberatan untuk mengantar kami ke tempat urut yang disarankan guru,” keluh Helpi Kusmawati.

Ibu korban Siswa A ini diketahui merawat anaknya dirumah seorang diri karena sudah 3 tahun bercerai dengan suaminya.

“Bapaknya A ini memang sering kasih uang. Tapi kalo untuk berobat sampai sembuh dengan biaya sendiri, rasanya tidak akan cukup,” tambahnya.

Pihak sekolah hingga hari ini tidak memberikan bantuan dana untuk biaya berobat korban.

Keluarga menyayangkan kelalaian pihak sekolah yang menimpa anak mereka.

“Sudah begitu mereka tidak pula mendukung untuk keluarga Siswa F bertanggung jawan atas perbuatannya ke anak kami. Kami sangat menyayangkan keputusan yang diambil kepala sekolah,” tutup Helpi Kusmawati.

Pewarta : ML


Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.