Kaur, Beritamerdekaonline.com – Tahap penyusunan Kamus Dwibahasa Bengkulu dialek Nasal-Indonesia tahun 2024 telah sampai pada pelaksanaan lokakarya. Kegiatan lokakarya ini berfungsi untuk mengklarifikasi kosakata yang telah disusun kepada penutur jati.

Hal itu dilakukan agar Tim Penyusunan Kamus dapat meminimalisasi kesalahan dalam penulisan kata dan maknanya, bahkan hal lain yang dianggap penting yang berknaan dengan kosakata tersebut.

Kegiatan lokakarya itu berlangsung selama dua hari, yaitu pada Selasa—Rabu, 25—26 Juni 2024 di Desa Tanjung Betuah, Kecamatan Nasal yang dihadiri oleh 50 orang peserta yang berasal dari Desa Tanjung Betuah, Desa Gedung Menung, Desa Tanjung Agung, dan Desa Tanjung Baru. Kemudian, dalam kegiatan ini juga hadir tiga orang narasumber, yaitu Kepala Kantor Bahasa Provinsi Bengkulu selaku penanggung jawab kegiatan, Kepala Desa Tanjung Betuah sebagai perwakilan dari unsur pemerintahan, dan Ketua Adat masyarakat Nasal, Kabupaten Kaur.

Pada kesempatan itu, Kepala Desa Tanjung Betuah, Syahrizal Pahlevi, S.Sos., saat memberikan arahan dan sambutan mengatakan bahwa kegiatan lokakarya ini adalah sebuah kegiatan yang sangat serius dalam rangka pelestarian “bahasa Nasal.”

“Oleh karena itu, semua peserta harus lebih serius juga dan bersemangat agar panitia mendapatkan kosakata “bahasa Nasal” yang benar,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Bahasa, Ibu Dwi Laily Sukmawati, S.Pd., M.Hum., mengatakan bahwa kegiatan lokakarya ini adalah tindak lanjut dari tahapan pengumpulan data yang dilakukan pada beberapa waktu yang lalu.

“Tahapan ini adalah tahap yang sangat penting karena berkaitan dengan pertanggungjawaban atas data yang telah disusun dan parapeserta selaku warga masyarakat Nasal diminta untuk dapat memberikan tanggapan sehingga data yang telah disusun ini menjadi valid,” katanya.

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini dilakukan di Aula SDN 10 Kaur yang terletak di Desa Tanjung Betuah. Semua peserta kegiatan merasa sangat bangga dan senang karena dilibatkan dalam penyusunan kamus bahasa daerah ini. Ranah kosakata pun sangat beragam sehingga dapat melibatkan ibu-ibu sebagai penyumbang kosakata dalam bidang kuliner, peralatan rumah tangga, dan lain-lain. Sementara itu, kosakata dalam ranah adat istiadat dan budaya akan dikumpulkan sebanyak mungkin untuk membuat kamus khusus, yaitu Kamus Adat.(Tim)


Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.