SEMARANG, Berita Merdeka Online – Ratusan mahasiswa dari Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Walisongo Semarang menggelar aksi damai di Balaikota Semarang pada Selasa (18/2).
Mereka menyampaikan aspirasi terkait berbagai kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat, khususnya dalam sektor pendidikan dan ekonomi.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyoroti kebijakan pemangkasan anggaran yang berdampak pada sektor pendidikan.
Mereka menyampaikan ketidakpuasan terhadap kebijakan tersebut karena dianggap dapat menghambat akses pendidikan bagi masyarakat luas.
Selain itu, mahasiswa mendesak evaluasi menyeluruh terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai kurang efektif dalam pelaksanaannya.
Mereka juga mengkritik tindakan represif aparat terhadap masyarakat yang ingin menyampaikan aspirasi secara damai.
Isu lain yang disoroti adalah penolakan terhadap Undang-Undang Mineral dan Batu Bara (UU Minerba) yang dinilai lebih menguntungkan korporasi dibandingkan kepentingan rakyat.
Mereka menilai kebijakan tersebut berpotensi merugikan masyarakat adat dan kelestarian lingkungan.
Mahasiswa juga menuntut pemerintah agar lebih serius dalam mengatasi permasalahan kemiskinan dengan kebijakan yang berpihak pada masyarakat kecil serta peningkatan kesejahteraan sosial.
Selain itu, mereka menyoroti kelangkaan gas elpiji yang mereka duga terjadi akibat praktik oligarki dalam distribusi.
Oleh karena itu, mereka meminta pemerintah untuk mengambil langkah tegas terhadap pihak-pihak yang diduga memainkan harga dan pasokan gas elpiji di pasaran.
Tuntutan lainnya adalah evaluasi terhadap penambahan lembaga negara dan kementerian yang dianggap tidak efisien dan justru membebani anggaran tanpa memberikan hasil signifikan.
Mahasiswa menilai kebijakan pemerintah yang kerap berubah-ubah semakin memperburuk kondisi ekonomi dan sosial, sehingga mereka meminta agar kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat dihentikan.
Terakhir, mereka mendorong revisi terhadap peraturan yang dianggap membatasi kebebasan demokrasi, agar aspirasi masyarakat dapat tersampaikan dengan baik.
Aksi damai ini berlangsung dengan pengawalan humanis dari aparat kepolisian dan Satpol PP Kota Semarang. Setelah menyampaikan orasi di depan Gedung DPRD Kota Semarang, para mahasiswa membubarkan diri dengan tertib. (day)




Tinggalkan Balasan