ACEH SINGKIL, Berita Merdeka Online – Harga gas elpiji bersubsidi 3 kilogram (gas melon) di wilayah Kabupaten Aceh Singkil terus mengalami lonjakan signifikan pasca bulan suci Ramadhan hingga memasuki masa setelah Idulfitri. Kondisi ini membuat masyarakat kecil kelimpungan, terutama mereka yang menggantungkan hidup pada tabung gas tersebut untuk kebutuhan sehari-hari.
Pantauan di lapangan, harga gas melon kini dipatok bervariasi antara Rp30 ribu hingga Rp45 ribu per tabung, jauh di atas harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. Kenaikan ini berlangsung sejak awal Ramadhan dan terus merangkak naik hingga saat ini.
Cut Evi, seorang ibu rumah tangga asal Rimo, Kecamatan Gunung Meriah, mengaku terkejut dan terbebani dengan kenaikan harga tersebut. Ia menyebutkan bahwa pada bulan Ramadhan lalu, ia masih bisa membeli elpiji 3 kg seharga Rp25 ribu. Namun kini, harga melonjak drastis menjadi Rp45 ribu.
“Terakhir saya beli Rp25 ribu pas puasa kemarin. Sekarang sudah Rp45 ribu satu tabung. Tentu ini sangat memberatkan bagi kami warga kecil,” ujar Cut Evi kepada wartawan, Sabtu (5/4/2025).
Ia menambahkan bahwa kondisi ini bukan hanya dirasakannya sendiri, namun juga oleh banyak ibu rumah tangga lain di sekitar lingkungannya yang juga mengeluhkan hal serupa.

Cut Evi pun menyampaikan harapan agar pemerintah daerah segera mengambil langkah cepat dan konkrit dalam mengatasi persoalan ini. Ia menilai, kebutuhan akan gas elpiji bersubsidi sangat vital bagi masyarakat berpenghasilan rendah, dan jika terus dibiarkan, maka akan berdampak pada sektor ekonomi rumah tangga secara luas.
“Kami minta pemerintah cepat turun ke lapangan. Jangan sampai rakyat terus dirugikan. Ini menyangkut kebutuhan pokok semua orang, apalagi yang ekonominya lemah,” tutupnya.
Salah satu pemilik warung pengecer elpiji yang enggan disebutkan namanya juga membenarkan adanya kenaikan harga gas melon secara bertahap sejak bulan puasa. Menurutnya, kenaikan ini terjadi karena pasokan dari agen resmi tidak menentu, sementara permintaan terus meningkat.
“Memang benar bang, harga naik sejak bulan puasa. Awalnya Rp30 ribu, lalu naik jadi Rp35 ribu, sekarang sudah Rp45 ribu. Barangnya juga susah, kadang datang, kadang tidak,” katanya.
Ia juga mengaku bingung menghadapi situasi ini, karena sebagai pengecer kecil, dirinya hanya bergantung pada pasokan dari agen besar. Ia berharap ada solusi agar distribusi kembali normal dan harga dapat kembali sesuai HET.
Banyak warga menduga lonjakan harga ini terjadi akibat distribusi gas yang tidak merata, serta adanya dugaan penimbunan oleh oknum tertentu yang memanfaatkan momen Hari Raya untuk meraup keuntungan.
Menurut warga, seharusnya pihak berwenang lebih proaktif dalam mengawasi jalur distribusi dan menindak tegas jika ditemukan adanya praktik nakal yang merugikan konsumen.
Kondisi ini menjadi sorotan masyarakat luas di Aceh Singkil. Pemerintah daerah melalui dinas terkait didesak segera melakukan sidak (inspeksi mendadak) ke pangkalan dan agen distribusi elpiji guna mengevaluasi distribusi serta menstabilkan harga.
Lembaga perlindungan konsumen dan aktivis sosial juga mulai bersuara. Mereka mendorong pemerintah untuk membuka data distribusi secara transparan, serta memastikan subsidi elpiji benar-benar sampai ke masyarakat yang membutuhkan.
Selain langkah darurat untuk menstabilkan harga, masyarakat berharap adanya kebijakan jangka panjang dari pemerintah daerah maupun pusat. Ini termasuk pengawasan berkelanjutan terhadap distribusi elpiji 3 kg, sistem subsidi yang lebih tepat sasaran, serta edukasi kepada masyarakat agar tidak tergantung sepenuhnya pada gas subsidi.
Di sisi lain, keterlibatan aparat penegak hukum untuk mengawasi potensi penimbunan atau penyimpangan distribusi juga dinilai penting agar harga elpiji 3 kg dapat kembali normal. (Muhlis)




Tinggalkan Balasan