Lebong, Berita Merdeka Online – Kelangkaan gas elpiji 3 kilogram atau yang dikenal sebagai “gas melon” di Kabupaten Lebong kian memprihatinkan. Warga mengaku kesulitan mendapatkan gas bersubsidi tersebut dalam beberapa pekan terakhir, bahkan harus antre sejak pagi hari tanpa kepastian.

Kondisi ini memicu pertanyaan publik terkait sistem distribusi yang dinilai tidak berjalan optimal, meskipun pasokan disebut tetap tersedia.

Sejumlah warga mengaku harus berkeliling dari satu pangkalan ke pangkalan lain untuk mendapatkan gas. Bahkan, ketika tersedia, harga gas melon sering kali melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET).

Salah seorang warga Desa Talang Leak menyampaikan keluhannya. Ia mengaku tetap membeli meski harga mencapai Rp30 ribu hingga Rp35 ribu per tabung, namun kini gas sulit ditemukan.

Warga antre membeli gas elpiji 3 kilogram di Kabupaten Lebong

“Biasanya kalaupun ada, kami tetap beli meski mahal. Tapi sekarang sudah keliling pun tidak dapat,” ujarnya.

Berdasarkan keterangan petugas pemasok, distribusi gas sebenarnya tetap berjalan setiap hari. Dalam satu kali pengiriman, satu truk membawa sekitar 560 tabung gas, dengan total enam truk yang masuk ke wilayah Lebong dari dua perusahaan penyuplai.

Namun, kondisi tersebut berbanding terbalik dengan situasi di lapangan. Kelangkaan masih terjadi secara merata, sehingga menimbulkan dugaan adanya persoalan dalam distribusi atau penyaluran di tingkat bawah.

Upaya konfirmasi kepada pihak agen terkait jalur distribusi dan jumlah pangkalan resmi tidak mendapatkan jawaban yang jelas. Hal ini semakin memperkuat dugaan adanya ketidakterbukaan dalam penyaluran gas bersubsidi.

Masyarakat pun mempertanyakan ke mana saja pasokan tersebut disalurkan dan apakah distribusi sudah tepat sasaran.

Di sisi lain, aparat kepolisian bersama pemerintah daerah telah melakukan inspeksi mendadak (sidak) di sejumlah titik distribusi. Namun, langkah tersebut dinilai belum memberikan dampak signifikan.

Sebagian warga menilai sidak yang dilakukan hanya bersifat seremonial dan belum menyentuh akar persoalan. Hingga kini, belum terlihat adanya tindakan tegas terhadap pihak-pihak yang diduga melanggar aturan distribusi.

Sementara itu, pihak Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi Kabupaten Lebong belum memberikan keterangan resmi terkait penyebab kelangkaan maupun sistem distribusi gas elpiji 3 kilogram di wilayah tersebut.

Ketiadaan penjelasan resmi ini menambah keresahan masyarakat yang berharap adanya solusi konkret dalam waktu dekat. (ML)