Oleh: Malvika Khairunnisa
‎Mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia Universitas Islam Negeri Sultanah Nahrasiyah


Beritamerdekaonline.com – Di Desa Alue Awee, Lhokseumawe, tradisi Peusijuek tetap berdiri kokoh sebagai salah satu warisan budaya yang paling sering dilakukan hingga saat ini. Sebagai sebuah ritual sakral, Peusijuek bukan sekadar seremoni biasa, melainkan cara masyarakat untuk memohon keselamatan, keberkahan, kebahagiaan, dan kesejahteraan dalam setiap awal proses kehidupan. Ritual ini umumnya dilakukan pada momen-momen penting seperti pernikahan, kehamilan, kelahiran, hingga sebagai bentuk doa bagi bangunan atau usaha baru agar mendapatkan hasil yang maksimal.

Malvika Khairunnisa merupakan Mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia Universitas Islam Negeri Sultanah Nahrasiyah.


‎Pelaksanaan tradisi ini dipimpin secara khidmat oleh tetua atau Imam desa dengan menggunakan perlengkapan yang sarat akan simbolisme. “Peusijuek adalah salah satu tradisi sakral yang dilakukan untuk memulai suatu proses, dilakukan pada pernikahan, kehamilan, kelahiran dan mendoakan suatu bangunan serta usaha baru,” ujar Ibu Fitriani Yusuf saat menjelaskan esensi dari tradisi tersebut.

‎Persyaratan utamanya meliputi penggunaan daun peusijuek, daun naleung samboe, serta daun kaca atau pacar yang didampingi oleh bunga dan dedaunan lainnya. Menariknya, jumlah bunga dan daun yang digunakan harus berjumlah ganjil, serta wajib menyertakan padi, air, dan emas sebagai elemen penting dalam ritual tersebut. Meskipun zaman terus berkembang, pelaksanaan Peusijuek di Alue Awee tidak mengalami perubahan yang mendasar pada nilai-nilai esensialnya. Perubahan hanya terlihat pada kualitas peralatan yang kini menjadi lebih bagus dibandingkan masa lalu, sementara langkah-langkah dan waktunya tetap sama. Generasi muda pun dinilai masih memiliki minat dan rasa hormat yang tinggi karena Peusijuek dianggap sebagai doa yang tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam.

‎”Tradisi Peusijuek ini sangat penting, didalamnya ada doa dan salawat, tidak bertentangan dengan agama (Islam) dan untuk generasi muda dan seterusnya saya berharap tetap mempertahankan tradisi Peusijuek, semoga bisa lebih baik dalam pelaksanaannya tanpa merubah nilai dan esensialnya,” ungkap Ibu Fitriani menekankan harapannya bagi pelestarian budaya tersebut. Melalui keteguhan warga seperti Ibu Fitriani, tradisi ini diharapkan terus lestari sebagai fondasi spiritual masyarakat Aceh dalam setiap langkah dan usaha mereka.