Bengkulu, Berita Merdeka Online Target Provinsi Bengkulu masuk dalam 25 besar perolehan medali emas tingkat nasional pada tahun 2028 dinilai akan sulit tercapai apabila persoalan anggaran dan fasilitas olahraga belum mendapatkan perhatian serius dari pemerintah daerah.

Pernyataan tersebut disampaikan Wakil Ketua I DPRD Provinsi Bengkulu, Teuku Zulkarnain, saat menyoroti kondisi pembinaan olahraga di Bengkulu yang hingga kini masih menghadapi berbagai keterbatasan, Senin (11/5/2025).

Menurut Teuku, minimnya anggaran olahraga menjadi hambatan utama dalam proses pembinaan atlet daerah. Kondisi itu dinilai berdampak langsung terhadap kesiapan atlet untuk bersaing di level nasional.

“Kita memiliki target besar pada 2028, tetapi pembinaan atlet membutuhkan dukungan nyata. Jika anggaran masih minim, tentu akan sulit mencapai hasil maksimal,” ujar Teuku Zulkarnain.

Wakil Ketua I DPRD Bengkulu Teuku Zulkarnain menyoroti kondisi fasilitas dan pembinaan olahraga di Provinsi Bengkulu.

Teuku mengapresiasi kontribusi sejumlah pihak yang selama ini ikut mendukung perkembangan olahraga di Bengkulu, salah satunya dukungan dari Mas Harto melalui BBSI yang dinilai aktif membantu pembinaan atlet daerah.

Namun demikian, ia menilai dukungan dari berbagai pihak tersebut harus diimbangi dengan komitmen pemerintah daerah melalui kebijakan anggaran yang berpihak pada kemajuan olahraga.

Menurutnya, tahun 2027 menjadi fase penting dalam persiapan atlet menuju target besar Bengkulu pada 2028. Karena itu, pemerintah daerah bersama Badan Anggaran DPRD diminta mulai memprioritaskan sektor olahraga dalam perencanaan APBD.

“Kalau ingin mengejar target prestasi, maka persiapan harus dimulai dari sekarang. Pembinaan atlet tidak bisa dilakukan secara instan,” katanya.

Selain persoalan anggaran, Teuku juga menyoroti kondisi sarana olahraga di Bengkulu yang dinilai masih jauh dari memadai. Sejumlah fasilitas disebut mengalami kerusakan dan belum optimal digunakan untuk pembinaan atlet.

Beberapa fasilitas yang menjadi sorotan antara lain stadion olahraga, gedung olahraga voli, GOR bulu tangkis, hingga kolam renang yang dinilai belum memenuhi standar pembinaan dan kompetisi.

“Kondisi fasilitas olahraga kita memang masih membutuhkan perhatian serius. Banyak sarana yang belum optimal untuk mendukung latihan atlet,” ujarnya.

Teuku menegaskan pembangunan infrastruktur olahraga harus dipandang sebagai investasi jangka panjang bagi daerah. Menurutnya, kemajuan olahraga tidak hanya berkaitan dengan prestasi, tetapi juga menjadi sarana pembinaan generasi muda.

Ia menilai olahraga dapat menjadi wadah positif bagi anak-anak muda untuk mengembangkan bakat sekaligus menjauhkan diri dari berbagai aktivitas negatif.

“Kalau pembinaan olahraga berjalan baik, generasi muda memiliki ruang untuk berkembang dan berprestasi. Ini penting agar anak-anak tidak terjerumus pada aktivitas yang kurang bermanfaat,” tutup Teuku.***