Oleh: Nurul Warahma Purba adalah Mahasiswa UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe

Beritamerdekaonline.com – Tradisi tidak pernah benar-benar pergi. Ia hidup dalam langkah, bernafas dalam doa, dan tumbuh di antara kebersamaan. Di Desa Sipispis, sebuah tradisi lama bernama mengalo-alo tondong tetap dijaga, bukan sekadar sebagai warisan, tetapi sebagai jembatan yang menghubungkan hati dan leluhur.

Di Balik Ulos dan Tor-Tor Kisah Hangat Tradisi Mengalo Alo Tondong.

Bagi masyarakat di Desa Sipispis pernikahan bukanlah hanya sekadar tentang dua insan yang bersatu. Lebih dari itu pernikahan adalah peristiwa adat yang sakral dan memiliki makna, melibatkan banyak pihak keluarga, dan dijalankan dengan penuh penghormatan terhadap tradisi. Menurut bapak Sahmudin Purba Girsang, seorang warga Desa Sipispis, beliau menuturkan bahwa hingga sampai saat ini masyarakat masih menjaga dan melestarikan tradisi yang diwariskan oleh para leluhur suku batak simalungunsalah satunya pada tradisi Mengalo-alo Tondong.

Dalam adat ini, tondong bukan hanya sebagai tamu biasa. Mereka adalah keluarga dari pihak perempuan, seperti tulang atau paman, yang mempunyai posisi penting dalam adat. Karena itu, penyambutan mereka dilakukan dengan cara yang lebih istimewa. Menariknya, semua ini tidak dimulai pada hari pesta, melainkan jauh sebelumnya. Keluarga pengantin dengan penuh kesungguhan datang langsung menemui tondong, seolah membuka pintu silaturahmi lebih awal.

Mereka tidak datang dengan tangan kosong di tangan mereka ada demban, berisi sirih, pinang, dan perlengkapan adat lainnya, lengkap dengan hidangan yang dibawa sebagai tanda niat baik. Dari langkah sederhana itulah, suasana hangat mulai terbangun, menandai bahwa sebuah perhelatan besar bukan hanya tentang acara, tetapi tentang cara menghormati dan merangkul keluarga.

Saat hari acara tiba, suasana mulai terasa berbeda. Setelah akad dan doa-doa selesai, musik tradisional mulai dimainkan. Orang-orang berkumpul, dan acara adat pun dimulai. Ketika tondong datang, mereka langsung disambut dengan tarian yang disebut tor-tor. Gerakannya pelan juga berirama, tapi terasa bermakna. Setelah tondong memasuki altar pernikahan proses selanjutnya mereka akan memberikan nasihat kepada pengantin.

“Disambut dengan tor-tor, lalu mereka memberi nasihat untuk pengantin,” ujar bapak Sahmudin Purba Girsang.

Nasihat itu disampaikan dengan sederhana, tapi memiliki makna yang dalam. Tidak panjang, tidak berlebihan, tetapi cukup untuk menjadi pegangan bagi pengantin untuk melangkah kedalam kehidupan yang baru.

“Setelah memberi nasihat, dilanjutkan dengan pemberian kain ulos kepada kedua pengantin,” ujar bapak Sahmudin Purba Girsang.

Selanjutnya, dilakukan proses pemberian ulos. Ulos disematkan kepada pengantin sebagai simbol restu, kehangatan, dan ikatan kekeluargaan. Saat ulos disampirkan, suasana biasanya menjadi lebih haru karena ini menandakan bahwa kedua pengantin telah resmi diterima dan diberkati dalam lingkup keluarga besar.

Semua duduk bersama dan makan bersama-sama. Salah satu hidangan yang disajikan dalam proses mengadati adalah ayam holat yang berarti melambangkan keutuhan, keharmonisan, dan kuatnya ikatan keluarga, sekaligus sebagai bentuk penghormatan kepada pihak keluarga (tondong) dalam adat, ayam holat juga adalah makanan khas suku Batak Simalungun. Pada momen ini justru momen yang terasa paling hangat. Semua berkumpul tanpa jarak, saling berbagi cerita dan tawa. Dari sinilah terlihat bahwa inti dari tradisi ini bukan hanya sekadar acara saja, tetapi kebersamaan.

Setelah momen kebersamaan itu selesai, irama musik kembali terdengar, pelan lalu semakin hidup, mengajak para keluarga untuk kembali larut dalam tarian tor-tor. Tawa, tepuk tangan,dan langkah kaki yang selaras seolah menyatu kedalam satu irama dan kebersamaan. Disela-sela itu,saweran pun dilakukan, menambah suasana haru sekaligus bahagia bagi kedua pengantin.

Namun, dibalik keindahan dan kekhidmatan rangkaian adat tersebut, ada hal yang juga dipahami bersama oleh masyarakat. Tradisi ini tidak bersifat memaksa.

“Tidak wajib. Kalau mampu, dilakukan. Kalau tidak, tidak masalah,” ujar bapak Sahmudin Purba Girsang.

Namun, yang paling penting bukanlah seberapa besar acaranya, tetapi maknanya. Tradisi ini mengajarkan tentang hubungan keluarga, rasa hormat, dan bagaimana menjaga budaya agar tetap hidup.

“Agar kita tahu persaudaraan kita dan tidak lupa akan budaya dari leluhur kita,” ujar bapak Sahmudin Purba Girsang.

Yang menarik dari tradisi mengadati ini, generasi muda di desa ini masih peduli dengan tradisi tersebut. Mereka sering melihat, ikut membantu, bahkan mulai memahami proses pelaksanaan adat tersebut. Bagi masyarakat Sipispis, menjaga adat berarti menjaga identitas. Di tengah zaman yang serba cepat, Mengalo-alo Tondong hadir sebagai pengingat bahwa kehidupan tidak hanya dibangun oleh kemajuan, tetapi juga oleh akar budaya yang kokoh. Sebab sebuah masyarakat yang kehilangan adat, perlahan kehilangan dirinya sendiri. Harapan pun disematkan agar tradisi ini terus hidup dan semakin dilestarikan.

“Semoga adat ini semakin berkembang dan tetap dilestarikan oleh anak-anak Batak dimasa mendatang,” tutup bapak Sahmudin Purba Girsang.

Warisan seperti Mengalo-alo Tondong bukan sekadar untuk dikenang, tetapi untuk dijaga, dijalankan, dan diwariskan agar suara leluhur tetap hidup dalam langkah generasi di kehidupan seterusnya.

Sumber: Bapak Sahmudin Purba Girsang, 47tahun_warga Desa Sipispis, Kab.Serdang Bedagai