Oleh : Fristy Tri Imanda Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Universitas Islam Negeri Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe
Beritamerdekaonline.com – Ketika acara ingin dimulai “Rasanya campur aduk antara deg-degan, tetapi juga bahagia”. Di acara inilah, semua orang mendoakan ibu dan bayi yang ada didalam kandungan,” ujar icha, yang sedang mengikuti acara tradisi 7 bulanan ibu hamil yang ada dikampungnya.

Suasana hangat terasa di dalam rumah sederhana itu. Beberapa ibu duduk melingkar, ada yang didapur dan di tengah ruangan, sementara doa-doa dipanjatkan dengan khusyuk. “Di tengah ruangan, ada makanan khusus seperti jajanan pasar yaitu rujak serut dan es cendol berbagai hidangan tradisional tersaji dimeja,” ujar icha, sebuah warisan budaya inilah yang masih dijaga oleh masyarakat jawa hingga saat ini.
Tradisi 7 bulanan atau yang sering disebut mitoni, khususnya di daerah pedesaan masih terus dijaga dan dilaksanakan oleh masyarakat adat jawa. Tradisi inilah yang dilakukan saat usia kehamilan pada ibu memasuki bulan ketujuh. Oleh karena itu, keluarga merasa perlu mengadakan doa bersama sebagai harapan akan keselamatan ibu dan bayi.
“Biasanya keluarga mengadakan syukuran, dan bahkan mengundang tetangga juga, lalu mengadakan doa bersama juga” ujar icha saat diwawancarai.
Acara ini tidak hanya sekedar menjadi momen biasa, tetapi juga menjadi tempat berkumpulnya keluar dan masyarakat desa sekitar. Dalam tradisi inilah nilai kebersamaan sangat berharga untuk membangun rasa kebersamaan. Kerabat dan para tetangga datang tidak hanya untuk menghadiri acara tetapi juga untuk memberikan doa kepada kehamilan 7 bulanan pada ibu.
Selain doa bersama, beberapa masyarakat masih mempertahankan proses siraman. Dalam prosesi inilah, ibu hamil akan disiram sebagai simbol penyucian dan harapan agar proses persalinan berjalan dengan lancer. Dan biasanya air yang digunakan telah didoakan sebelum disiram, sehingga memiliki makna yang kuat.
“Kadang didalam acara ini dilaksanakan juga ada prosisi siraman, tapi tidak semua keluarga melakukannya sekarang,” ujar icha.
Meski acara tradisi ini masih dijalankan oleh masyarakat jawa, icha mengakui bahwa tradisi 7 bulanan saat ini mengalami perubahan. Jika dahulu dilakukan dengan berbagai rangkaian yang lengkap dan panjang, tetapi kini sebagian masyarakat memilih melaksanakannya dengan cara yang lebih sederhana dan simpel.
“Sekarang pelaksanaannya lebih praktis, dan tidak selengkap dulu. Beberapa profesi sudah mulai dikurangi,” ujar icha.
Perubahan ini tidak lepas dari pengaruh proses perubahan sosial. Gaya hidup yang semakin praktis membuat masyarakat menyesuaikan tradisi dengan kondisi mereka yang ada. Namun, dibalik perubahan tersebut, nilai-nilai utama pada tradisi adat jawa ini tetap dijaga.
Namun demikian, perubahan itu tidak menghilangkan makna utama dari tradisi jawa. Inti dari pelaksanaan ini tetap dipertahankan, yaitu doa bersama dan rasa syukur kepada Tuhan.
“Yang penting itu doa dan rasa syukurnya tetap ada,” ujar icha.
Tradisi ini juga penting untuk menjaga hubungan kerabat. Ditengah kehidupan yang modern ini dan cenderung sibuk, acara seperti inilah yang menjadi kesempatan untuk berkumpul, saling meyapa dan bahkan mempererat hubungan kerabat. Bahkan, acara ini juga menjadi momen yang saling membantu,baik saat persiapan maupun pelaksanaannya.
Ditengah perubahan zaman yang semakin cepat ini, adat tradisi seperti inilah yang mengingatkan kita bahwa tidak semua hal perlu berubah. Dan ada juga nilai-nilai penting yang harus tetap kita jaga agar adat tradisi budaya kita tidak hilang.
Walaupun tradisi 7 bulanan (mitoni) mungkin tidak semeriah dulu, tetapi tetap ada dan tetap hadir dalam bentuk yang lebih sederhana. Kesederhanaan itulah justru membuat maknanya terasa lebih dekat dan lebih nyata. Dan tradisi inilah tidak hanya menjadi bagian dari warisan budaya, tetapi juga menghadirkan kehangatan kebersamaan kerabat yang semakin jarang ditemui. Dan dibalik kesederhanaan ini ada tersimpan doa, harapan, dan kasih sayang yang tidak pernah kehilangan maknanya.




Tinggalkan Balasan