Bengkulu, Beritamerdekaonline.com – Dewan Pengurus Pusat (DPP) Perkumpulan Pengusaha Air Minum Dalam Kemasan Nusantara (AMDATARA) menggelar Musyawarah Daerah (Musda) I Dewan Pengurus Daerah (DPD) AMDATARA Sumatera Barat-Bengkulu. Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat konsolidasi industri air minum dalam kemasan (AMDK) di kedua provinsi sekaligus mengukuhkan kepengurusan DPD AMDATARA Sumbar-Bengkulu periode 2026–2031.

‎Ketua Umum DPP AMDATARA, Karyanto Wibowo, mengatakan AMDATARA merupakan asosiasi yang mewadahi pelaku industri air minum dalam kemasan di Indonesia. Organisasi ini berdiri pada tahun 2025 dan saat ini telah memiliki lebih dari 100 perusahaan anggota dengan sekitar 200 merek produk AMDK.

‎”Hari ini kami menyelenggarakan Musyawarah Daerah pertama untuk DPD AMDATARA Sumatera Barat dan Bengkulu. Saat ini AMDATARA telah memiliki delapan DPD di berbagai wilayah Indonesia dan terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan koordinasi serta pembinaan industri AMDK,” ujar Karyanto, dalam konferensi pers nya, di Ballroom Hotel Mercure Bengkulu, Kamis (18/6/2026).

‎Menurutnya, AMDATARA dibentuk untuk menjadi mitra strategis pemerintah dalam mendukung pengembangan industri AMDK yang sehat, kompetitif, dan patuh terhadap regulasi. Selain itu, organisasi tersebut juga berperan dalam memfasilitasi anggotanya menghadapi berbagai tantangan industri, termasuk implementasi regulasi yang diterbitkan pemerintah.

‎”Kami ingin memastikan seluruh anggota mematuhi regulasi yang berlaku, meningkatkan kualitas produk, serta memenuhi standar keamanan pangan yang telah ditetapkan regulator, termasuk Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM),” katanya.

‎Karyanto juga menegaskan bahwa AMDATARA memiliki komitmen kuat terhadap pelestarian lingkungan. Menurutnya, industri AMDK memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga keberlanjutan sumber daya air dan mengelola dampak lingkungan yang ditimbulkan dari penggunaan kemasan.

‎”Kami ingin mendorong pelestarian lingkungan dan memastikan keberlanjutan sumber daya air. Pengelolaan sampah kemasan juga menjadi perhatian penting yang terus kami dorong bersama seluruh anggota,” jelasnya.

‎Ia menambahkan, saat ini terdapat lebih dari 700 perusahaan AMDK dengan lebih dari 2.000 merek yang beroperasi di Indonesia. Karena itu, AMDATARA berharap semakin banyak pelaku usaha yang bergabung agar industri AMDK nasional semakin kuat dan mampu bersaing secara sehat.

‎Sementara itu, Ketua DPD AMDATARA Sumbar-Bengkulu, Azrai, S.H., menyampaikan bahwa sejumlah merek AMDK asal Bengkulu telah bergabung dalam organisasi tersebut. Di antaranya adalah DTR (Darussalam Tegal Rejo), HIDAYAH dari Perumda Tirta Hidayah Bengkulu, BIO ITE SUI dari Rejang Lebong, HANUN dari Kepahiang, dan satu merek MAS yang belum sempat hadir dalam kegiatan pengukuhan.

‎Selain anggota dari Bengkulu, sejumlah perusahaan dari Sumatera Barat juga telah menjadi bagian dari AMDATARA Sumbar-Bengkulu.

‎Azrai berharap keberadaan AMDATARA menjadi rumah besar bagi para pengusaha AMDK untuk saling berkoordinasi, bersinergi, dan berkonsolidasi dalam menghadapi berbagai kebijakan serta regulasi pemerintah.

‎”Kami ingin AMDATARA menjadi wadah komunikasi dan kolaborasi bagi seluruh pelaku usaha AMDK. Kami juga siap menjadi mitra strategis BPOM maupun Dinas Perindustrian dan Perdagangan di Sumatera Barat dan Bengkulu,” ujarnya.

‎Menurut Azrai, salah satu tantangan yang masih dihadapi industri AMDK di kedua provinsi adalah belum meratanya fasilitas pengujian laboratorium untuk memenuhi persyaratan regulasi. Salah satunya adalah pengujian Bromat yang hingga kini belum tersedia di semua daerah sehingga pelaku usaha harus mengirim sampel ke laboratorium tertentu di luar daerah.

‎”Kami berharap ke depan tersedia fasilitas pengujian yang lebih dekat sehingga perusahaan tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk pengujian ke Jakarta atau daerah lainnya,” katanya.

‎Selain itu, ia juga mengakui masih terdapat sejumlah produk AMDK yang beredar namun belum tergabung dalam organisasi. Oleh karena itu, pihaknya akan melakukan konsolidasi dan mengajak seluruh pelaku usaha AMDK untuk bergabung dalam AMDATARA.

‎Dalam program kerja 100 hari pertama, DPD AMDATARA Sumbar-Bengkulu akan fokus melakukan pendataan dan konsolidasi perusahaan AMDK yang belum menjadi anggota. Selain itu, organisasi juga akan memperkuat kolaborasi dengan BPOM dan Dinas Perindustrian serta Perdagangan melalui berbagai kegiatan pelatihan.

‎”Ke depan kami akan mengadakan pelatihan terkait cara produksi pangan olahan yang baik bersama BPOM, serta berbagai pelatihan peningkatan kapasitas usaha bersama instansi terkait. Harapannya, seluruh produk AMDK yang beredar benar-benar memenuhi standar mutu, aman dikonsumsi, dan mampu bersaing di pasar,” tutup Azrai.


Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.