SEMARANG, Berita Merdeka Online – Seleksi terbuka Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) Pratama Sekretaris Daerah Kota Semarang 2026 telah memasuki babak akhir. Tiga nama yang lolos—Bambang Pramusinto, Budi Prakosa, dan Handi Priyanto—bukan sekadar kandidat administratif, melainkan representasi tiga arah kepemimpinan yang berbeda: stabilitas, harmoni, dan perubahan.
Di tengah tekanan fiskal akibat berkurangnya dana transfer pusat serta tuntutan pemulihan kepercayaan publik, posisi Sekda menjadi krusial. Ia bukan hanya “panglima ASN”, tetapi juga arsitek kebijakan yang menentukan ritme pemerintahan kota ke depan.
Figur Perubahan: Handi Priyanto
Sebagai kandidat eksternal dari Pemerintah Kota Malang, Handi membawa perspektif baru. Rekam jejaknya dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui digitalisasi pajak menjadi daya tarik utama.
Dalam konteks kebutuhan mendesak akan kemandirian fiskal, pendekatan berbasis inovasi dan efisiensi seperti ini relevan. Namun, status “orang luar” bukan tanpa risiko. Adaptasi terhadap kultur birokrasi lokal dan potensi resistensi internal menjadi ujian awal yang harus dihadapi.
Jaminan Stabilitas: Budi Prakosa
Sebagai Pelaksana Tugas Sekda sekaligus Kepala Bappeda, Budi memiliki keunggulan dalam memahami detail internal pemerintahan. Ia berada di posisi yang memungkinkan kesinambungan program berjalan tanpa gejolak.
Dalam situasi tertentu, stabilitas adalah kebutuhan. Namun, di tengah tuntutan publik akan pembaruan, pendekatan yang terlalu “aman” berpotensi dinilai kurang progresif, terutama dalam hal terobosan peningkatan PAD.

Penjaga Harmoni: Bambang Pramusinto
Bambang menawarkan kekuatan pada aspek sosial. Pengalamannya di Kesbangpol menjadikannya figur yang mampu menjaga stabilitas dan merawat kohesi di tengah keberagaman masyarakat Semarang.
Dalam kota yang kompleks secara sosial, peran ini tidak bisa diremehkan. Meski begitu, fokus pada harmoni perlu diimbangi dengan kapasitas inovatif, khususnya dalam menjawab tantangan ekonomi dan fiskal.
Menentukan Arah, Bukan Sekadar Memilih Nama
Pilihan akhir berada di tangan Wali Kota Agustina Wilujeng. Namun yang lebih penting dari siapa yang terpilih adalah arah kebijakan yang ingin diambil.
Jika prioritasnya adalah percepatan peningkatan pendapatan dan reformasi birokrasi, maka figur dengan pendekatan disruptif menjadi relevan. Jika yang dibutuhkan adalah kesinambungan dan stabilitas program, pilihan akan berbeda. Begitu pula jika harmoni sosial menjadi fokus utama.
Pada akhirnya, tantangan Kota Semarang ke depan tidak sederhana. Dibutuhkan Sekda yang tidak hanya mampu menjaga mesin birokrasi tetap berjalan, tetapi juga berani melakukan terobosan, adaptif terhadap perubahan, dan tetap berpijak pada prinsip tata kelola yang bersih.
Publik tentu berharap, siapa pun yang terpilih bukan sekadar administrator, melainkan pemimpin yang mampu menjawab kebutuhan zaman—mengelola keterbatasan, membuka peluang baru, dan memastikan pembangunan berjalan inklusif serta berkelanjutan.(day)




Tinggalkan Balasan