Beritamerdekaonline.com, Jakarta – Ketua Paguyuban Suporter Timnas Indonesia (PSTI), Ignatius Indro menyesalkan keputusan (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) terkait pelarangan suporter away saat pertandingan FIFA Match Day antara Indonesia vs Argentina

Hal itu disampaikan oleh Ignatius Indro saat memberikan keterangan kepada awak media, di Sunter, Jakarta Utara.

“Kami menganggap bahwa ini adalah ketidakmampuan PSSI untuk melakukan edukasi dan juga perbaikan di suporter dalam mendukung timnas sepakbola Indonesia,” kata Indro kepada awak media, jumat (9/6/23).

Apalagi, kata Indro PSSI menunjukkan secara implisit, ketidakmampuan ini ditutupi dengan melakukan tindakan pelarangan terhadap suporter standar.

“Jadinya kita menyesalkan pertandingan Indonesia – Argentina yang dilaksanakan PSSI hanya berupa hiburan semata,” tandas aktivis 98 ini.

Padahal, sambung Indro dengan menghilangkan suporter yang akan mendukung Timnas Indonesia ini maka peluang bagi suporter Timnas ini menjadi hilang.

“Pertama harganya mahal lalu juga dengan istilah World tiket dan macam-macam, juga membatasi suporter dalam mendapatkan tiket.
Ini bukti, bahwa tiket ini lebih diuntungkan, diperuntukan untuk mencari untung,” katanya.

Pihaknya, mengkhawatirkan suporter di dalam stadion, siapa yang akan membela Timnas Indonesia.

Disaat bersamaan, bendahara PSTI, Brian Mathew menyinggung suporter kejadian Stadion Kanjuruan Malang yang memakan banyak korban berjatuhan. “Padahal nggak ada suporter kandang lawan saat itu. Tetapi dengan mudahnya PSSI menyalahkan suporter,” katanya.

Sederhananya, kata Brian jika penegak hukum bertindak cepat dan PSSI melakukan edukasi kepada suporter, ‘tragedi Kanjuruhan’ tidak terjadi.

Pandangan tersebut, disambut oleh Sekjen PSTI, Abe Tanditasik jika pertandingan bergengsi ketika satu tim tidak boleh mendatangkan suporternya itu benar-benar keterlaluan PSSI.

“Kalau kemudian Pak Erick Thohir beralasan ‘Tragedi Kanjuruhan itu sebagai penyebab maka saya tegaskan bahwa di Kanjuruhan itu tidak ada suporter Persebaya pada saat itu atau suporter tandang dan semuanya di situ adalah suporter Arema,” pungkasnya.

Abe menyoroti jika kejadian paling fatal adalah tidak mentaati regulasi dari FIFA. “Ini kan butuh edukasi dan sosialisasi ke suporter,” ujarnya.

Selain itu, Dewan Pembina PSTI, Parto Bangun menilai pertandingan bergengsi Matchday FIFA Indonesia vs Argentina adalah tidak lebih dari sebuah hiburan belaka.

“Saya menduga ini adalah sebuah pencitraan semata, selain bisnis, juga cawe-cawe Ketua PSSI Erick Thohir,” pungkasnya.

Parto berharap agar pengurus PSSI membuat perubahan yang fundamental dengan meninggalkan prilaku buruk layaknya kenderaan politik. “PSSI jangan ditunggangi nuansa politik lagilah,” pungkasnya. (@ms)


Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.