JAKARTA, Beritamerdekaonline.com –  Menteri Luar Negeri (Menlu), Retno Marsudi, mengakui kesulitan mengevakuasi warga negara Indonesia (WNI) dari Gaza, Palestina. Hal ini karena diperlukan waktu waktu cukup panjang untuk menciptakan koridor evakuasi.

Selain itu, proses administrasi untuk dapat meninggalkan Gaza juga sangat ketat dan melibatkan banyak pihak kunci. Jadi nama-nama WNI yang akan dievakuasi harus mendapat persetujuan dari sejumlah pihak di sana.

“Ini tidak kami alami pada proses evakuasi sebelumnya,” ujar Retno di Kantor Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), Jumat (3/11/2023). Meski begitu, Menlu menyatakan setiap evakuasi memang memliki karakter masing- masing.

Karena itu, pada proses evakuasi tersebut Kemenlu berusaha menggunakan semua jaringannya untuk membantu proses yang rumit ini. “Hari ini akan kami coba lagi untuk mengevakuasi WNI yang tinggal di Gaza Selatan,” ujarnya.

Menurut Menlu, saat mengevakuasi WNI di wilayah Gaza Utara diperlukan waktu sekitar 40-50 menit. Sementara di Gaza Selatan, dalam kondisi normal sebenarnya hanya membutuhkan waktu sekitar sekitar 20 menit.

Namun, saat ini kondisi di sana sangat sulit diprediksi. “Sehingga, kami tidak bisa memperkirakan berapa lama waktu yang diperlukan untuk mencapai Pintu Rafah,” ucapnya.

Rafah merupakan pos perbatasan paling selatan dari Gaza dan berbatasan dengan Semenanjung Sinai di Mesir. Menlu berharap saat hari libur di negara-negara Arab pada Jumat (3/11/2023) ini, Pintu Rafah tetap dibuka.

“Saya sudah berkomunikasi dengan Menlu Mesir terkait hal ini,” kata Menlu. Sehingga, meskipun hari libur, proses evakuasi dari Gaza tetap dapat berlangsung. (int)


Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.