DEMAK, Berita Merdeka Online – Drs Mulyani M Noor, MPd, selaku Ketua Majelis Pemuda Indonesia (MPI) Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Demak, menggambarkan keprihatinan mendalam terhadap bencana banjir yang melanda wilayah Kabupaten Demak dan sekitarnya. Banjir tersebut disebabkan oleh jebolnya tanggul Kali Wulan dan Kali Jratun di Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak.

Dalam sebuah rilis yang disampaikan kepada wartawan pada Kamis (21/03/2024), Mulyani M Noor mengungkapkan bahwa jebolnya tanggul dalam dua bulan terakhir telah menyebabkan luapan air yang mengakibatkan banjir bandang di hampir seluruh wilayah Demak sehingga menimbulkan penderitaan bagi masyarakat setempat.

“Banjir yang dipicu oleh kerusakan tanggul Kali Wulan dan Kali Jratun di Kecamatan Karanganyar telah merambah hingga ke wilayah kecamatan Mijen, Gajah, Dempet, dan Wonosalam,” ujarnya.

Selain itu, tingginya volume air di Kali Jajar telah membanjiri pusat kota dan sekitarnya, termasuk Alun-alun dan beberapa bangunan sakral seperti Masjid Agung Demak dan makam Sunan Kalijaga di Kadilangu.

Mulyani menekankan bahwa bencana banjir ini sebenarnya dapat diantisipasi dengan tindakan yang tepat dari pemerintah.

Dia menyatakan bahwa tidak adanya tindakan periodik dalam normalisasi sungai dan kelalaian terhadap penanaman liar di bantaran sungai menjadi salah satu faktor pemicu bencana ini. Bahkan, titik-titik rawan jebol yang sudah diketahui sebelumnya tidak ditangani dengan serius.

“Betapa sekarang rakyat menjadi menderita. Ribuan orang meratapi barang-barang berharganya yang rusak dan hilang. Banyak petani yang menangis, karena gagal panen atau rusak tanamannya yang baru saja dikerjakan dengan biaya mahal. Dengan kerugian ratusan milyar ini, pemerintah harus bertanggung jawab dan segera memulihkan kondisi yang dialami oleh korban banjir,” ujar pria yang juga Ketua Dewan Pembina Laskar Merah Putih (LMP) sekaligus Pembina Lembaga Harimau (Harapan Indonesia Maju) Kabupaten Demak tersebut.

Mulyani juga menyoroti kondisi moral dan spiritual masyarakat, menyebut bahwa banjir ini juga dapat dianggap sebagai teguran dari Tuhan terhadap pemerintah dan masyarakat. Ia menegaskan bahwa nilai-nilai keagamaan dan kearifan lokal telah terkikis oleh maraknya praktik kemaksiatan.

“Kepedulian terhadap nilai dan martabat kabupaten Demak sebagai Kota Wali telah hilang. Jatidiri Demak telah dikotori dengan maraknya perjudian, prostitusi, merebaknya peredaran miras dan narkoba. Bukannya hal tersebut ditangani secara sungguh-sungguh, tetapi malah ada yang menjadikan sebagai objek untuk mencari keuntungan pribadi atau kelompoknya,” pungkasnya.


Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.